Kita Jadi Manusia?

Kita Jadi Manusia?

Ari Hardianah Harahap--

 

Blurb:

Namaku Sabian, kerap kali dipanggil Bian. Kata kak Ana untuk seseorang sepertiku nama Bian terlalu kebagusan, padahal jika itu menurutku pantas pantas saja, memang dasar Kak Ana Ana saja yang kurun mumpuni makanya sirik selalu. Tapi kata Sandi, tetanggaku, sahabatku, saudaraku, yang bertitel sebagi manusia yang ditakdirkan bersamaku bahkan sebelum kami berbentuk Zigot, manusia modelan sepertiku pantas diberi nama Bian, Bianasa maksudnya.

Awalnya hanya aku dan Bian, kemudian Kak Ana dengan semrawut kisah asramanya, lalu datang Jinan dan Jingan, kembar 90 derajat, si satu pencita mantan dan wanita, si satunya pencinta anime dan matematika. Kemudian semrautnya kisah sekolah, asrama ala remaja dan sebuah arti dari kelurga, ternyata menjadi manusia itu susah, susah yang bahagia.

“Kalo lo nggak pernah ketawa sendirian sampe ngik ngik cuma karena ngingat emak – emak yang jatuh di selokan dekat perempatan, lo bukan manusia sejenis kita!” -Sandi, yang kata Bian manusia si setengah waras.

Prolog: “Selamat Datang Kisah Kita”

“Coba liat dunia lebih luas, coba liat sekitar lebih lama, coba dengar suara yang lebih jauh, biar kamu tau kalo jadi manusia rasanya nano – nano”

-Kita 4 kurang Sandi 3

>>>***<<<

P.s: Dengerin Welcome to My Playground NCT 127 hehe :D

Ada jeda yang panjang saat aku menatap rumput yang ada dihadapanku, bukankah mereka indah? Serendah apapun mereka, rumput masih menjadi hal yang sering dicari untuk halaman depan rumah, walau sedikit berbeda jenis, setidaknya itu masih dikatakan rumput. Seringkali, aku berpikir andai saja aku bukan manusia? Bukankan menjadi rumput jauh lebih baik? Tidak ada beban, tidak ada perasaan, tidak ada apapun yang harus dipikirkan, semuanya akan berjalan dengan senyamannya. Tidak perlu susah susah untuk mencari kata atau menjaga perasaan manusia lainnya, sebebas – bebasnya kita, sesuka – sukanya kita.

“Bin, gue tahu lo hampir gila gara gara kelas bu Ratna, tapi please jangan sekarang! lo harus sadar!”

Namanya Sandi, manusia paling berisik nomor dua setelah Kak Ana, yang sialnya entah mengapa dari yang katanya sebelum zigot saja kami sudah ditakdirkan bersama, dan terus berakhir pada setiap hal yang sama atau hampir sama. “Minggir sebelum gue lempar nih pot bunga!” Jawabku yang sudah siap dengan pot bunga ditangan, sebab jika tidak diancam Sandi itu manusia babal yang terlalu bodo amat. Sandi Pranomo, manusia yang warasnya saja kalah sama orang gila.

“JINAN ASTAGFIRLLAH! SADAR JINAN, JANGAN CUMA GARA GARA MATEMATIKA LO GILA!” Jika aku hanya mengancam, berbeda dengan Jinan, satu manusia super aneh yang sayangnya lagi – lagi terjebak di sekitarku, pecandu anime, pengepul meme, dan si manusia kaca mata, definisi Jinan Anggara sesungguhnya. Nama boleh keren, body boleh layaknya Larry si penjaga pantai, tapi kalo soal cupu Jinan juaranya. Namun, walau begitu, hanya Jinan pula yang mampu menyebet mendali emas tingkat internasional di Singapura untuk sekolahku., Jinan itu manusi tidak terduga – duga, diam menjadi cupu bergerak menjadi suhu, Jinanlah orangnya.

Jinan membuka sepatunya dan melemparkan begitu saja pada Sandi. “Yang goblok cuma elu, yang gak waras juga cuma elu, jadi jangan sok tau.” Jinan dan seluruh kata iritnya, sebenarnya jika saja Sandi itu licik, ia bisa saja membuka Kartu As Jinan, karena se-cool dan sekeren manusia seperti Jinan itu, jika tidur tidak bersama boneka beruang ungunya maka itu bukan Jinan.

“Juancok, ulti nggak tuh hahaha!” Satu suara lagi yang terdengar, namanya Jee-wan, laki – laki keturunan Indonesia korea yang ketampanannya terlalu paripurna, bakatnya juga tak kalah hebat, siapa sih yang tidak mengenal Jee-wan si pentolan sekolah, kalo ditanya tentang mantan mungkin Jee-wan akan menyebet mendali sebagai penghuni sekolahnya yang paling banyak bermain dengan wanita. Cita – citanya menjadi sugar daddy, katanya biar ia tinggal comot wanita, ditinggal juga suka – suka, tidak ada drama tampar menampar, memang laki – laki brengsek sekali Jee-wan ini. Yang anehnya, dari banyaknya circle di sekolah yang sering kali mendekati dan mengajak Jee-wan bergabung, Jee-wan yang kerap kali dipanggil Jingan olehku, Sandi dan Jinan memilih terjebak bersama orang – orang sepertiku, yang bahkan keberadaanya 0,1 persenpun tidak diketahui dan disadari oleh manusia lain disekolah. Kasusnya sama dengan Jinan, walau cupu, Jinan itu tampan dan pintar, yang anehnya memilih untuk terjebak bersama manusia yang biasa – biasa saja sepertiku dan manusia setengah waras seperti Sandi.

“Yang cuma modal tampang sama mantan nggak diundang!” balas Sandi yang segera diberi geplakan cantik, langsung oleh Jingan dan ototnya.

“Mulut lo memang kudu disumpal pakek kaos kaki Jinan yang busuknya naudzubillah.” Balas Jingan bersiap membuka sepatu dan kaos kakinya.

“Ngucap Ngan, Neraka menati kita, surga nggak butuh kita, yok jadi manusia Budiman sesekali.” Sandi Ngaco, entah dimana korelasi kalimatnya tadi dengan kalimat Jingan. Walau tidak jelas begitu, hanya Sandi yang mampu membuat Jinan si manusia dingin tertawa, aku juga, namun hanya sedikit, terkekeh misalnya.

“Jingan Kristen goblok!” Balas Jinan, mengundang tawa dariku dan Sandi yang sudah merosot dilantai memengangi perutnya. Rasanya aneh dan asing saat pertama kali bertemu dan terjebak bersama mereka, yang sayangnya semakin dijalani rasanya semakin asyik untuk diarungi, katanya manusia itu banyak kisah, dan aku kenalkan kita, tentang cinta, kasih, rindu, perasaan apapun itu yang diberi label oleh khalayak banyak dan sebuah rasa yang namanya menjadi seorang manusia.

Selamat datang kisah kita :) (bersambung)

 

 

Sumber: