Bagian 17: “Physiccal Attack”

Bagian 17: “Physiccal Attack”

Ary--

“Jaya, nanti kalo tempat kamu berpijak nggak nyaman sekali, jangan lupa, ada kakak yang bakal cari tempat yang paling nyaman buat kamu, bahkan sampe ujung dunia sekalipun”

-Rena

>>>***<<

Jaya mencekik boneka karakter Anna dari film kartun Favortinya, matanya kian menajam seolah mengajak boneka tak berdosa itu adu tatap. Setelahnya, Jaya melempar boneka itu hingga ke ujung pintu kamarnya, dan beberapa saat kemudian berlari mengambil boneka tersebut, memasang raut bersalah yang tampak sedih dan menangis setelahnya, walau tidak ada air mata yang keluar dari mata Jaya. Sesekali Jaya akan mengajak boneknya bicara, tertawa lalu tiba – tiba diam. Tingkah absurd Jaya hingga dua setengah jam lamanya.

“Jaya, kalo lo butuh psikologi, duit gue masih ada kok dek.” Rena meringis, sedari awal memperhatikan tingkah absurd adiknya itu. Jaya hanya diam mengacuhkan Rena, seolah Rena tidak ada di kamarnya. Jaya mulai berlaku aneh sejak telponnya dan Agana berkahir. Rena tiba – tiba bangkit dari rebahannya, berlari kearah Jaya dan menangkup wajah adik laki – lakinya itu.

“Allahu la illah ha illah…” Agana membaca ayat kursi, sesekali mengguncang kepala Jaya dan menepuk kepala adiknya itu keras yang dibalas tatapan datar oleh Jaya. Awalnya Jaya pasrah namun kemudian tepukan Rena jauh lebih kuat dari sebelumnya. Jaya mendorong Rena, hingga Rena terjungkal.

“Jaya! Lo sadar?!” Tanya Rena, tergesa menghampiri Jaya dari posisi terjungkal yang tidak elitnya itu. Jaya mendengus keras, “Sejak kapan gue nggak sadar hah?!” Tanya Jaya dengan hidung kembang kempis, ternyata kakaknya jauh lebih stress dibanding dirinya. Rena memeluk Jaya erat, “Astaga Jaya!! Lo tau nggak sih gue udah panik lo kerasukan si melati!” Rena masih terharu dengan Jaya yang kembali ke sifatnya semulanya, kasar, dan terlalu ceplas ceplos.

“Jaya, pegang tangan gue, dengerin jantung gue. Dingin kan? Jantung gue rasanya mau copot tadi! Tapi demi lu Jay! Demi lu! Gue rela nahan rasa takut dari Mbak Melati!” Rena menggengam tangan Jaya berusaha membutikkan perkataannya. Jaya menatap Rena semakin datar.

“LEBAY!” Teriak Jaya mendorong kepala Rena yang kini menempel di dadanya, Rena menepuk punggung Jaya kuat, “Lo kagak ada sopan – sopannya sama yang lebih tua!” Sungut Rena, Jaya melempar dirinya ke kasur, disusul Rena yang kini menumpuk tubuhnya di atas Jaya.

“Rena, berat!” Protes Jaya, Rena semakin bersemayam tenang diatas tubuh Jaya, tidak peduli raut keberatan dan kesakitan adiknya. Jaya menghela nafas pelan, membiarkan Rena melakukan sesukanya.

“Minimal kalo lo mau nyusahin gue semaleman, tolong selamatin boneka Anna gue dulu. Kasian dia sendiri – sendiri.” Tunjuk Jaya pada boneka Anna di ujung kasurnya, Rena melirik sedikit, lalu menggapai boneka favorit Jaya itu dengan kakinya dan melemparkannya pada Jaya. Mata Jaya melotot keluar, melihat Rena memperlakukan bonekanya dengan sembarangan padahal Jaya sangat menyayangi boneka itu. Haruskah kita sadarkan bahwa Jaya tidak lebih memperlakukan Bonekanya dengan kejam beberapa jam yang lalu?

“Lo nggak berperikebonekaan sama sekali! Huhuhu boneka Anna gue sabar ya sayang, nanti papa beliin Elsa buat kamu, atau kamu mau papa beliin kristof aja? Atau olaf?” Tanya Jaya memeluk bonekanya penuh dengan rasa haru dan sedih.

“Kebanyakan bacot lo kek cewek.” Komentar Rena, Jaya tersenyum masam, “yang ngomong nggak sadar diri? Kebanyak tingkah udah ke demit.” Balas Jaya sarkas, Rena mencubit pipi Jaya keras. “Lo kalo ngomong kenapa jelek – jelek banget deh!”

“Emangnya lo bisa liat itu suara sampe lo bilang jelek?” Rena mengibarkan bendera putihnya, berdebat dengan Jaya tiada habisnya, adik laki – lakinya itu penuh dengan ribuan kalimat yang terus saja membungkamnya dan membuatnya tampak bodoh dan menyedihkan.

“Lo kenapa deh suka Anna? Cantik enggak juga.” Rena bertanya, mencari topic obrolan lain, berusaha melupakan pertengkaran mereka beberapa saat lalu.

“Ngatain dia nggak cantik. Ngaca sana, lo sama dia aja masih cantikan burket dia!”

“Emang lo pernah liat?”

“Nggak!”

“terus lo tau dari mana!”

“Ngeliat wajah lo aja gue cukup tahu.”

Rena mencekik leher Jaya, “Lo, seharusnya gue nggak minta ibu sama ayah buat punya anak lagi!!” Pekik Rena kesal.

Jaya menepuk kedua lengan Rena di lehernya, “IBUU… KAK RENA MAU BUNUH ADEK!!!” Teriak Jaya keras. Biasanya Rena akan berhenti melakukan KDHAK—kekerasan dalam hubungan adik kakak—padanya jika sudah menyangkut pautkannya dengan Sang Ibu. Namun, seolah tau kartu As Jaya, Rena mengambil bantal dan menyumpal wajah adiknya itu hingga hanya gumaman tidak jelas yang terdengar, saat ini Rena layaknya psikopat kejam.

“Biar nggak fitnahnya aja, sekalian bener gue bunuh nih!” Rena menekankan bantalnya, Jaya terus memberontak, bergerak asal – asalan, menyingkirkan Rena dari atas tubuhnya. Dan berhasil, Rena terlempar ke lantai dengan kepala yang membentur ujung ranjang.

“JAYAAA BANGSAT!!” Kesal Rena mencubit kaki Jaya kuat.

“ARGHHH!!!! SAKITTT!” Jaya meringis mengusap kakinya, berguling ke kanan kiri, matanya memerah menahan tangis, sungguh cubitan Rena itu sangat sakit. Jaya melemparkan bantalnya ke wajah Rena, Rena yang masih sama emosinya, melemparkan berbagai barang ke arah Jaya, tenang Rena tidak akan mengambil barang yang akan bisa membunuh adiknya itu dalam waktu singkat, namun membuat kepala Jaya bocor atau beberap bagian tubuhnya memberi tentu saja tidak masalah untuknnya.

Rena melemparkan sandal rumahnya yang sangat tebal itu ke arah Jaya, tidak bermaksud untuk mengenai bagian tubuh Jaya karena Rena tau bahwa sandalnya itu keras dan pastinya akan menyakiti Jaya. Naasnya, sandal yang ia lemparkan benar – benar mengenai hidung Jaya.

“JAYA!!!” Teriak Rena terkejut, menghampiri Jaya yang menyembunyikan wajahnya diantara mukanya, Jaya berguling ke kanan dan kiri lebih brutal dari sebelumnya, tandanya bahwa lemparan Rena sangat sakit.

“Jay, kakak minta maaf, serius nggak senagaja! Mana yang sakit!” Rena panik berusaha menggapai tangan Jaya yang menutupi seluruh wajahnya, Rena dapat mendengar isakan Jaya pelan, “Sakit tau nggak!” Kesal Jaya memukul paha Rena pelan dengan mata yang memerah, pipi basah dan hidung yang berdarah. Rena memeluk Jaya, mengusap kepala adik laki – lakinya itu, “Ihhh kan gue beneren nggak sengaja.” Rena berusaha membujuk Jaya. Jaya masih menangis, mengusap hidungnya yang berdarah.

“Kak! Darahnya nggak mau stop nih! Kalo gue mati lo yang gue gentayangin duluan!” Jaya memekik kesal, Rena segera mengambil tisu dan turut berusaha menghentikan darah yang mengalir di hidung Jaya.

“YA LO JANGAN MATI DULU DONG! SEMBARANGAN KALO NGOMONG!” Rena menepuk punggung Jaya kuat, Jaya mendelik sebal, punggungnya terasa panas akibat pukulan Rena.

“Panggil Ibu sana!” Titah Jaya, Rena menatap Jaya ragu, jika ibunya tahu ini Rena tentu tidak akan lepas dari hukuman ibunya.

“Ke dokter aja! Jangan panggil ibu!” Tawar Rena yang dibalas pelototan oleh Jaya. Rena menggaruk kepalanya, “Jangan panggil ibu ya?” Bujuk Rena yang dibalas gelengan kepala kuat oleh Jaya.

“Panggil Ibu!”

“Nggak!”

“Panggil Ibuuu!”

“NGGAK!”

“Panggil!”

Jaya siap berteriak memanggil ibunya, “IB—”

“Jangan panggil Ibu sableng!” Kesal Rena membekap mulut Jaya kuat, Jaya ingin meronta namun suara yang sangat familiar mengintrupsinya.

“Kenapa sama ibu?” (bersambung)

Sumber: