Bagian 12: “Siapa yang lebih dulu?”

Bagian 12: “Siapa yang lebih dulu?”

Ary--

JAYA berakhir diteras rumah Agana, insiden tentang Agana yang tiba – tiba menjadi gila kronis itu hanya dapat dimaklumi oleh Jaya. Tidak heran jika itu Agana, sebab Agana hanya menggunakan 80% otaknya hanya jika ia harus menghitung uang jajannya untuk membeli perintilan suami halunya. Jika biasanya, Agana tidak akan lebih dari dua persen untuk menggunakan otaknya dalam bertindak maupun berbicara. Sebenarnya insiden tadi cukup membuat jiwa Jaya hampir lepas dari tubunya, semua disekitarnya seolah bergerak—slomo—saat Agana mengucapkan kata yang menurut Jaya keramat.

“Nih buburnya!” Agana datang dari dalam rumahnya dengan dua mangkuk bubur, menaruh satu mangkuk dihadapan Jaya dan satu mangkuk lagi dihadapannya. Keduanya memutuskan untuk makan di teras rumah, sebab Agana yang sendirian di rumah. Takutnya ada fitnah tetangga—itu sih kata Agana. Memangnya apa yang akan dikatakan tetangga tentang mereka, Jaya hanya menumpang sarapan, pintu rumah Agana juga terbuka lebar, dan Agana tidak se-sexy dan semenarik itu untuk membuat Jaya ingin—You know what I mean dud!

“Lo mau minum apa?” Tanya Agana hendak kembali berdiri saat meniti bahwa belum ada minuman untuk mereka. Jaya mengurutkan dahinya berpikir, “hmm…jus alpukat rendah kalori, nggak pake susu coklat, gulanya juga jangan kebanyakan, jangan juga encer.” Jawab Jaya seolah tengah memesan di restoran bintang lima.

Agana menatapnya datar, “Yang ada Cuma air putih,” Balas Agana meninggalkan Jaya melongo. Jika tahu cuma ada air putih, mengapa menawari? Agana kembali dengan dua gelas air putih.

“Dih, sok – sokan nanya, eh taunya air putih doang!” Sindir Jaya menyuap bubur dihadapannya.

“Manusia kayak lo mana tau basa – basi,” Kata Agana enteng yang dibalas Jaya dengan wajah mupengnya.

“lumayan! Dibanding manusia yang gedean gengsi dibanding bukti,” Balas Jaya yang berhasil menyulut emosi Agana.

“lo bener – bener nggak tau cara sarapan yang tenang ya?” Tanya Agana yang kini menatap Jaya dengan tatapan membunuhnya. Jaya berlagak seolah berpikir menjawab pertanyaan Agana, kemudia mengangkat kedua bahunya acuh dan menatap Agana dengan tatapan prihatin, seolah Agana adalah manusia menyedihkan yang terlalu bodoh, tidak tau membedakan mana susu dan mana air beras.

Agana berhasrat untuk mencikik Jaya saat ini juga hingga terbunuh dan tewas, namun mengingat usianya yang masih muda dan masa depannya yang masih panjang, amatlah merugi bagi Agana mengotori tangan dan nama baiknya hanya untuk manusia yang tidak ada apa – apanya seperti Jaya.

“Tamat dari sekolah mau kemana lo?” Tanya Agana, membuka topik pembicaraan baru.

“Emangnya bisa kemana selain pulang ke rumah?” Jawab Jaya acuh masih sibuk dengan semangkuk bubur ayamnya yang hampir habis. Agana memejamkan matanya, menahan amarahnya yang siapa meledak sebab mendengar jawaban Jaya yang kelewat santai, padahal ia tengah di mode sangat seriusnya.

Agana melempar kerupuk yang sudah setengah melempam itu tepat ke wajah Jaya, “Gue lagi serius ya anying! Nggak usah buat emosi pagi – pagi,”

“Nggak cocok muka slengean kaya lo ngomong serius, gue bahkan nggak yakin lo bisa menggunakan otak lu lebih dari dua persen setiap harinya!” Balas Jaya menggebu, menunjuk – nunjuk Agana tepat di hadapan wajahnya dengan mata yang setengah melotot.

Agana mengedipkan matanya berkali – kali, cukup syok dengan penghinaan Jaya, namun Agana tidak menyangkalnya karena perkataan Jaya tidak sepenuhnya salah. Agana bukan tidak pintar, hanya saja otaknya lebih lambat dalam memproses beberapa hal yang berkaitan dengan nama latin, angka dan deretan rumus. Tapi apakah orang – orang tidak mau mengakui bakatnya yang lain, walau tidak terlihat, Agana sangat pintar dalam menghasut dan merayu orang lain, bahkan Agana yakin hanya dengan kedipan sebelah matanya, orang – orang akan mudah terpesona padanya. Entah benar atau hanya sekedar bualan Agana, namun hal ini Agana namakan Angel Wink, tidak ada yang tidak berhasil, kecuali manusia aneh seperti Jaya dan Mamanya.

“Ck, pikiran lo ngebuat jijik banget sumpah! Pasti lo mikir tentang angel wink lo yang nggak ada gunanya itu!” Decak Jaya menatap Agana sinis seolah tahu seluruh isi pikiran Agana.

Agana berdecak pelan, “Kenapa lo nggak jadi peramal aja sih? Kan lo pinter tu baca pikiran.”

“Gue nggak pinter baca pikiran, lo aja yang kelewat bego mau dikibulin.”

Agana menarik nafasnya, berbicara dengan manusia seperti Jaya itu memang harus menyiapkan kesabaran yang tumpah ruah, Agana hanya diam walau dalam hatinya paling dasar berniat untuk memutilasi Jaya saat ini juga, dan memberikan potongan tubuh Jaya pada anjing bulldog milik tetangganya.

“Lo bener, nggak ada yang salah cuma gue yang bego.” Agana mendesah pelan, walau sejak dulu Jaya sering mencaci Agana dengan kata – kata kasar, Agana tidak akan pernah mendengarkannya dengan serius, hanya seperti angin lalu karena Agana tahu Jaya tidak benar – benar bermaksud. Namun, akhir – akhir ini Agana merasa sangat senditif terhadap kata – kata itu. Hampir semua orang yang bertemunya tidak akan melewatkan kata seperti ‘bodoh’, ‘lemot’, ‘tidak pintar’, dan kata konogatif yang bermaksud sama ditujukan padanya. Awalnya biasa saja, tapi Agana manusia, dan tidak semua kata bisa ia lewatkan begitu saja, secuek apapun dia, hatinya tidak pernah bisa untuk mengabaikan semuanya.

Jaya tahu kediamana Agana mengandung banyak hal, karena Agana dengan diam bukanlah hal yang dapat dipadukan. Temannya itu terlalu mandiri dan ekspresif, dan melihat Agana diam bahkan setelah perdebatan tidak bermutu mereka, Jaya tau ada yang tidak beres pada temannya. Jaya tidak akan pernah mencampuri urusan Agana, jika bukan Agana yang lebih dulu meminta padanya. Jaya membiarkan keterdiaman terjadi di antara mereka selama beberapa saat, hingga Jaya menghela nafas pelan.

“Sejujurnya gue nggak tahu,” Agana mengangkat kepalanya mendengar perkataan Jaya tiba – tiba, “Kalo ditanya? Gue juga sama bingungnya dengan lo. Bahkan gue nggak bisa ngebayangin dengan diri gue nantinya yang cuma bisa diam di rumah tanpa  ngelakuin apa – apa. Untuk sekarang gue Cuma bisa berusaha supaya gue lulus di salah satu universitas. Gue nggak berharap banyak, tapi itu setidaknya menenangkan pikiran gue tentang gue nggak harus jadi pengangguran dan beban orangtua gue.” Lanjut Jaya.

Agana perlahan paham bahwa Jaya sama resahnya dengan ia tentang nanti, bagaimana mereka harus menghadapi kehidupan mereka yang mungkin lebih rumit dari ini. “Lo pernah dengar kalo anak itu investasi?” Tanya Jaya menatap Agana tepat bersamaan dengan suapan terkahir di mangkuk buburnya. Agana mengangguk, Jaya tersenyum kecil, “Mungkin kalo bisa bilang, gue yakin orangtua gue udah kena investasi bodong,” cicit Jaya kecil, malu untuk mengakui ketidakmampuannya. Mau tidak mau Agana tertawa, mereka masih remaja yang sama, masih sama resahnya dengan semua pengalaman minim dan emosi yang tidak stabil. Cara mereka menyuarakan pemikiran mereka tentang takut dan khawatirnya diungkapan dengan berbagi cara, perlahan Agana mulai memahami, tidak ada yang tidak resah, mereka  nsemua sama, waktu tidak menyuruh mereka untuk berlomba tentang siapa lebih dulu yang menjadi dewasa, mereka hanya perlu berdamai dan menerima tentang segalanya dan bersabar tentag nanti yang akan segera tiba. Ah, ternyata hidup terlalu banyak cerita. (bersambung)

Sumber: