Bagian 11: “Mimpi Buruk”

Bagian 11: “Mimpi Buruk”

Ary--

JAYA meregangkan jari jemarinya, matanya memerah mengantuk akibat tidak tidur semalaman sebab bermain game semalaman. Badannya terasa letih, terutam punggungnya yang terasa sangat pegal sebab duduk di depan komputernya dalam jangka waktu yang sangat lama. Hari ini hari minggu, biasanya tidak akan masalah jika Jaya mengahabiskan waktunya dengan tidur seharian, dengan syarat ia memenuhi pekerjaan rumahnya. Jaya hanya bertugas mencabuti rumput dan menyapu sampah dedaunan yang berserakan di halaman depan rumahnya yang akan ia lakukan di sore hari. Namun, entah ide gila siapa yang pagi – pagi sekali sudah meniupkan peluit bak di asrama tentara di rumahnya, bahkan telinganya terasa pengang kala ternyata peluit itu tepat berbunyi di samping telinganya.

“Lo ngapain sih Kak? Kurang kerjaaan banget!” Kesal Jaya menatap Rena tajam, pasalnya kakak perempuannya itu tidak berhenti meniupkan peluitnya itu sejak lima menit lalu, apakah Kakaknya itu tidak tau bahwa perbuatannya itu sangat berisik! Jaya tekankan sekali lagi sangat BERISIK!

“Loh! Kok lo sewot sih, Ibu sama Ayah aja biasa aja tuh!” Balas Rena dengan tatapan yang tidak kalah tajam dari Jaya.

“Ya gimana mereka mau sewot! Orang Ibu sama Ayah jauh di depan kita! Nah, lo pas di samping gue dengan peluit lo nggak yang nggak ada gunanya banget itu!”

“Ya kalo lo nggak seneng ngejauh dong!”

“Gimana gue mau jauh dari lo, kalo lo daritadi ngintiling gue maemunah!!” Jaya menahan amarahnya, seiras dengan wajahnya yang memerah. Jaya sudah emosi sedari awal karena kurang tidur, belum lagi ia menahan pusing di kepalanya, dan Rena semakin menyulut amarahnya, ditambah panas matahari yang mulai menyengat, Jaya merasa emosinya sangat apik untuk menghancurkan apapun yang ada disekitarnya kini.

Tau bahwa Jaya sedang dalam mode senggol bacok, Rena mengambil Jarak beberapa langkah ke belakang dari Jaya, terkekeh menampilkan deretan gigi putihnya, “Nggak usah emosi brodie, nih gue pergi!” Rena mengambil langkah seribu meninggalkan Jaya, berlari kencang menyusul kedua orangtunya yang sudah lebih dulu.

Jaya mengepalkan tangannya kuat, meredam emosinya yang meluap – luap. Jaya memiliki keinginan besar untuk mengumpati kakak perempunya itu, ide gila untuk lari pagi di hari minggu ini pasti usulan Rena yang sejak seminggu lalu mengeluh berat badannya naik, dan berencana untuk diet. Masalahnya, jika Rena sudah menerapkan dietnya, serumah terpaksa mengikuti dietnya, dengan alasan—Rena tidak suka diet sendirian. Bilang saja tidak rela dirinya tersiksa sendirian, dasar manusia picik! Jaya memijit kepalanya pelan, memejamkan matanya sesaat, berusaha menanangkan pikirannya yang runyam. Kurang tidur ternyata sangat berdampak terhadap kesejahteraan hidupnya.

***

Beberapa meter di belakang Jaya, Agana tengah tertawa riang dengan sekantong plastik bubur ayam, moodnya pagi ini benar – benar baik setelah menghabiskan dua puluh episode drama terbaru yang sangat digandrungi oleh remaja perempuan sepertinya akhir – akhir ini. Belum lagi tadi malam, aktor drama favoritnya melalukan siarang langsung, semakin berbunga – bungalah Agana dibuatnya.

Notifikasi ponsel menginstrupsi perjalanan Agana, dari bilah notifikasinya, Agana dapat melihat dua pesan dari Bumi adiknya.

Kak, Bubur ayamnya nggak jadi.

Gue sarapan di luar sama Athasya.

“Bumi Sialan!” Umpat Agana dalam hatinya, nasi sudah menjadi bubur, Agana tidak dapat kembali meminta uangnya ke tukang bubur di depan komplek. Kalo tau begitu, Agana hanya akan membeli untuknya seorang diri, menatap miris plastic berisi bubur ditangannya.

“Dibuang Sayang, nggak dibuang mau dikasih siapa? Yakali gue makan dua – duanya!” Gumam Agana kesal, matanya mengamati sekitar, mana tahu mana tempe kan ada orang yang bisa Agana beri bubur miliknya, syukur – syukur kalo cogan tampan nan kaya raya, Agana bisa sekalian menggaet cari jodoh.

Mata Agana memincing kala mendapati sosok jangkung dengan kaos oblang yang sudah sedikit kusam dan celana pendek yang tidak lebih dari lutut itu tengah kelimpungan, tidak tepatnya seperti orang gila yang memijat kepalanya sendirian di pinggir jalan. Sudalah gayanya seperti gelandangan, tingkahnya kampungan, apa sosok itu benar – benar ingin dianggap gelandangan oleh orang – orang?

Agana berlari kecil menghampiri sosok tersebut, dan menepuk pundak sosok itu kuat, membuat kejutan mendadak.

“Jaya!”

“BANG—”sat!

Agana menyumpal mulut Jaya yang ingin mengumpat padanya itu dengan kerupuk bubur ayamnya, Agana tersenyum ceria walau tau nyawanya diujung tanduk. Wajah Jaya memerah, Agana cukup peka jika suasana hati Jaya buruk, dan kehadirannya semakin memperkeruh suasana hati Jaya.

“Hehe,” Agana mengedipkan matanya berulang kali dengan tampang sok imut. Menatap Jaya dengan tatapan paling memelas, cengengesan tidak jelas dengan raut tidak berdosa, seolah dirinya tak berbuat apa – apa. Jaya memakan kerupuk yang tersumpal dimulutnya dengan cepat, dan menatap tajam Agana. kini Jaya tampak seperti singa yang siap menerkam siapa – saja dihadapanya.

“Ja- Jay—Jaya dengerin gue dulu—” Belum siap Agana menyelesaikan kalimatnya, Jaya sudah memiting kepala Agana kuat, menghimpit kepala Agana di antara ketiaknya, “Lo bisa nggak sih nggak usah jadi penganggu di hidup gue sehari aja!” Kesal Jaya.

Agana menepuk – nepuk lengan Jaya, pitingan Jaya cukup kuat dan membuatnya sesak, melihat Agana yang kehabisan nafas, Jaya melepaskan pitingannya. “L-lo—lo mau ngebunuh gue hah?!” Tanya Agana dengan nafas terputus – putus, wajahnya sedikit pucat, sepertinya Jaya benar – benar serius untuk membunuhnya.

“Kalo bisa sih iya.” Jawab Jaya terlalu santai. Agana mendelik sebal, “Itu mulut lancar banget ngomongnya!” Komentar Agana mencubit perut Jaya. Ringisan kecil dapat Agana dengar, namun memilih untuk bodo amat jika itu Jaya!

“Jaya!” Panggil Agana lagi, kali ini atensi Agana sepenuhnya pada remaja laki – laki bertubuh jangkung dihadapannya kini. Agana dapat melihat jelas urat – urat leher Jaya yang timbul, kulit putih pemudah dihadapannya ini mempermudahnya untuk melihat itu, wajahnya basah dengan keringat di setiap sisi dahinya, rambutnya juga lepek, namun Jaya tetap tampak tampan bahkan disaat bibirnya mencebik kesal dan bergumam tidak jelas. Sesaat Agana terpana dengan sosok teman laki – lakinya ini, jantungnya berdebar lebih keras dari biasanya dalam sesaat.

“Jaya lo mau nggak jadi pacar gue?!” Tanya Agana tiba – tiba yang dibalas pelototon oleh Jaya. Jaya menepuk keras dahi Agana dan kembali memiting kepala teman perempuannya yang sudah tidak warasa itu.

“Please, Na. Jangan gila pagi – pagi, RSJ penuh buat nampung pasien gila kronis kayak lo!”

Jaya Sialan! (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: