Bagian 20: “Kata yang Tidak Boleh Ada”

Bagian 20: “Kata yang Tidak Boleh Ada”

Ary--

“Malam nanti gue mau pergi sama Jaya. Lo gapapa kan sendirian?”

Bumi menangguk mendudukan dirinya di bawah Agana yang duduk di atas sofa, keduanya terdiam fokus dengan tontonan di tv, padahal pikiran keduanya sama – sama berkelana. Bumi membasahi bibirnya, “kak,” Panggil Bumi.

“Hmm?”

“Soal semalam gue minta maaf,” Kata Bumi pelan, Agana mengusap kepala Bumi, “Gue juga minta maaf, gara – gara gue pipi lo jadi sakit gitu. Padahal kan cita – cita lo jadi artis, gue jadi merasa bersalah merusak wajah artis masa depan kita.” Setelahnya Agana terkekeh pelan.

Bumi menekuk wajahnya, “Nggak usah sok tau deh!” Bumi kesal sekali jika Agana sudah menyangkut pautkannya dengan cita – citanya dulu yang begitu terobsesi menjadi artis, bahkan dulu ia sengaja berpose yang sangat aneh di hadapan Agana dan dengan percaya dirinya mengatakan bahwa ialah top super model Indonesia selanjutnya. Tapi itu kan sudah sangat lama, mengapa juga Agana selalu mengingatnya. Bumi malu ya tuhan!

“Mi, gapapa buat nangis, nggak semua dari kita harus baik – baik aja.” Agana berkata dengan nada yang sangat pelan dan lembut. Memberikan Bumi ruang untuk menangisi rasa bersalahnya. Agana mengenal Bumi sepanjang hidupnya, sejak Bumi lahir ke dunia, kehidupan Agana hanya tentang Bumi, Mamanya selalu menraktor Agana bahwa Bumi adalah segalanya. Bumi yang tidak boleh terluka, Bumi yang tidak boleh sedih, Bumi yang inilah, Bumi yang itulah. Agana jengah, mengapa hanya Bumi? Bukankah Agana juga anak Mamanya.

Agana bukan manusia yang selalu bisa sabar dan berbaik hati, adakalanya ia sangat ingin membenci Bumi dan Mamanya. Adakalanya ia iri pada semua perhatian Mamanya untuk Bumi? Kapan ia akan berada di posisi yang sama? Kapan ia akan sama diperhatikan dan disayanginya seperti Bumi oleh mamanya? Namun, sekeras apapun Agana mencoba, Bumi seolah menjadi jantung Agana. ada rasa sakit yang begitu hebat saat Bumi terluka walau bukan karenanya. Ada saat tangan Agana bergetar mengusap air mata Bumi, bukan karena ia takut mamanya akan kembali memarahinya. Agana takut Bumi meninggalkannya dan membencinya, setiap kali Bumi menangis karena merasa bersalah pada Agana, setiap kali itu juga Agana merasakan hatinya menyeruakkan perasaan bersalah yang lebih besar.

Agana mendudukan dirinya di samping Bumi, memberi tisu pada Bumi sebab ingus Bumi yang kini memelar, “Lo ngapain nangis deh! Udah kek istri tua lagi dimadu.” Ejek Agana. Bagaimana bisa Agana membenci Bumi saat pemuda yang dihadapnnya itu menangisi dirinya dan meminta maad padanya berulang kali karena menyakiti dirinya. Padahal Bumi tidak melakukan kesalah apapun untuknya, karena Bumilah Agana mampu bertahan. Sekeras apapun Agana berusah untuk membenci Bumi, rasa bencinya akan selalu kalah oleh cintanya untuk Bumi. Adiknya itu tidak atau apa – apa, semestalah yang membuat mereka terjebak dalam luka yang seolah tidak habisnya datang dan menghujam. Jika itu untuk Bumi, luka yang Agana terima bukanlah apa – apa, hanya karena Bumi, Agana mampu menjadi manusia.

Bumi menatap Agana sinis, “Gue lagi merasa bersalah bego! Lo kan nggak bisa liat sikon banget.”

Agana terkekeh, “Sampai kapan mau ngerasa bersalah. Sampai Patrick jadi spesies gurita juga kaya Sandi? Buang – buang waktu, udah habis juga.”

“Cih! Sandai itu tupai! Sejak kapan Sandi jadi gurita?! Lo memang perusak suasana.” Bumi menatap lurus kedapan, selama pembicaraan yang terjadi, Bumi selalu menghindar menatap mata Agana, takut nanti yang ia temui adalah sinar terluka dari Agana.

Agana menatap Bumi dengan senyum cerianya, “Mi, sampai kapan kita mau gini? Sampai kapan kita terus merasa bersalah satu sama lain setiap habis bertengkar sama Mama? Jangan merasa bersalah sama apa yang terjadi sama gue, mama pasti nggak bermaksud buat ngelakuin itu semua. Mama cuma lagi emosi aja semalam,” Ujar Agana menengkan Bumi, “tetap hidup selayaknya nggak terjadi apa – apa. Kalo lo terus berlarut kayak gini, lo cuma ngebiarin luka yang ada disana semakin membusuk, dan satu hari nanti busuknya luka itu ngehancurin diri lo. Dan akhirnya lo nggak bisa ngerasain apa – apa selain penyesalan. Kita Cuma perlu berbenah, karena yang bahagia nggak akan pernah datang dari mereka yang putus asa.” Lanjut Agana, kata – kata yang ia utarakan bukankah lebih layak dikatakan sebagai penenang untuknya, Agana seolah membongi dirinya sendiri. Bumi masih diam, Agana tak berniat mengintrupsi Bumi sama sekali, memberikan kesempatan Bumi untuk berpikir dan merenungi perkataanya, meninggalkan Bumi terpaku di ruang tamu.

Bumi membiarkan Agana beranjak. Tentang perkataan Agana, entalah Bumi tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Bumi menatap punggung Agana yang menjauh, tersenyum culas. Sampai kapan mereka akan berusaha dan berharap pada hal yang sia – sia. Bumi lelah berpura – pura untuk terus terlihat baik – baik saja. (bersambung)

 

 

 

Sumber: