Bagian 2: “Sajaya Anggara”

Bagian 2: “Sajaya Anggara”

--

Sebaik – baiknya manusia adalah manusia yang berguna bagi orang lain, namun separuh manusia lupa, terlalu angkuh, hingga orang lain bukan apa – apa untuknya, toh, bisa hidup sendiri, itu sih katanya. Yen sampeyan rumangsa ora gampang, banjur yen sampeyan wis mati.”

-Jaya (Remaja gampang sensi tahun 2022)

***

Jaya mengayuh sepedanya yang terasa sangat berat bahkan pedalnya tersendat – sendat, tidak bisa berputar 360 derajat membuat Jaya menghela nafas lelah, “Ini sepeda bobrok amat dah, belum nyampe seperempat jalan juga,” Gerutu Jaya kesal, turun mengecek sepedanya. Matanya bergulir malas kala melihat rantai sepedanya lepas, lagi.

“Eh Benjonong, lo nggak bisa ya nggak nyusahin gue sehari aja? Punya dendam apa sih lo sama gue hah?! Tiap gue pakek, kelakukan lo buat gue emosi melulu!” Kesal Jaya menghentakan kakinya malas, jika bukan karena kakaknya yang mencuri motornya untuk dibawa berangkat ke kantor, Jaya tidak akan perlu serepot ini pagi – pagi.

Jaya menatap Benjonong nanar—sepeda lama milik kakaknya ini sangat menguji kesabarannya, sebenarnya jika ada pilihan lain, Jaya tidak ingin menunggunakan sepeda butut sialan ini. Namun, Jaya tidak punya pilihan lain, satu – satunya pilihan adalah pergi sekolah dengan Benjonong atau bolos sekolah. Jaya tidak yakin untuk memilih opsi kedua, Jaya cukup tau diri untuk tidak menyusahkan kakaknya lebih banyak, dan menyuruh kakaknya menghadiri panggilan sekolah atas namanya cukup sekali saja terjadi seumur hidupnya, selebihnya Jaya tidak ingin lagi.

Jaya menatap sekitarnya, masih sepi, Jaya berusaha mengingat bengkel terdekat di lokasinya, lama Jaya berpikir, memorinya tidak mengingat satupun bengkel di dekatnya. Dengan malas, Jaya terpaksa mendorong Benjonong, sembari berharap aka nada bengkel yang buka selama perjalanannya menuju sekolah.

Hampir tiga puluh menit, Jaya masih belum menemukan bengkel di sekitarnya, naas sekali nasibnya pagi ini. Jarak sekolahnya masih lumayan jauh, Jaya mengamati sekitarnya, dan untungnya Jaya melihat seorang laki – laki paruh baya tengah memperbaiki motor di halaman rumahnya. Jaya menatap senang, berniat meminjam alat perkakas sebentar untuk memperbaiki si Benjonong. Jaya menyandarkan Benjonong pada dinding di sudut jalan, dan menyebrang jalan.

“Assalamualaikum, Pak.” Salam Jaya mengusap tengkuknya cangkuk pada laki – laki paruh baya di depannya, tubuhnya gempal dengan kumis yang tebal, wajahnya sangar dengan tatapan mata yang tajam, Jaya jadi meningat tetangganya, Bang Togar, pemilik pohon mangga yang sering Jaya curi bersama kakaknya dulu. Vibesnya terasa sama, membuat Jaya sedikit takut dan merinding.

“Waalaikumsalam, iya kenapa?!”

Jaya meneguk ludahnya kasar, ditatap seintens dari ujung kepala hingga kaki cukup membuat Jaya tremor, Jaya berusaha ramah dengan senyum selebar mungkin, bukannya ramah, Jaya malah lebih tampak seperti orang bodoh, “Pak, saya mau minjam alatnya sebentar boleh? Sepeda saya putus rantai tadi.” Ujar Jaya sesopan mungkin.

Pria tersebut mengangguk dengan kumisnya yang naik turun, “Ooh!! Boleh – boleh, mana sepedanya?!”

Jaya menunjuk Benjonong di sudut jalan, “itu pak,” tunjuk Jaya.

“Kamu bisa perbaiki, kalo nggak biar bapak yang perbaiki,” Jaya tersenyum sungkan, “Nggak apa – apa pak, biar saya saja.” Ujar Jaya.

“Ya udah ini – ini ambil,” Ujar Pria tersebut memberikan alat perkakasnya pada Jaya. “Makasih ya pak—” Jaya menggantungkan kalimatnya, sadar akan nada suara Jaya yang kebingungan, “Agas,” Ujar Pak Agas yang langsung diangguki oleh Jaya.

“Makasih ya Pak Agas,”

Jaya memperbaiki Benjonong yang sudah terbiasa putus rantai, jadi Jaya sangat hafal bagaimana cara memperbaiki sepeda menyusahkan satu ini. Sembari memperbaki sepedanya, Jaya jadi memikirkan Pak Agas, ternyata Pak Agas tidak seburuk yang Jaya pikirkan, walau hampir sebelas dua belas dengan Bang Togar wajah sangar dan nada bicara serta aksen yang keras, Pak Agas sangat ramah bahkan sampai menawari diri untuk memperbaiki sepedanya, berbeda dengan Bang Togar, Jaya lewat di depan rumahnya saja, Bang Togar sudah sewot setengah mampus. Belum lagi, mulut Bang Togar itu cerewetnya sudah mengalahkan ibu – ibu komplek di rumahnya.

Sebuah obeng menggelinding dari Jaya, Jaya segera mengejar obeng itu, tidak sopan rasanya, sudah meminjam malah menghilangkan, apalagi Jaya juga baru mengenalnya.

“Hap! Dapat!” Ujar Jaya berhasil menangkap obeng tersebut, Jaya sedikit masuk ke dalam gang sebab jalanan yang menurun, obeng tersebut berputar lebih cepat sehingga jarak Jaya dari Benjonong cukup jauh. Betapa terkejutnya Jaya saat kembali sepedanya sudah tak ia temukan lagi ditempat. Jaya panik menatap sekitarnya, rahangnya hampir jatuh melihat seorang perempuan berseregam SMA mengendarai sepedanya dengan terburu – buru, tanpa pamit, bukannya berarti itu mencuri? Jaya masih bingung dengan situasinya kini. Jaya tercengang di tempatnya, melihat sepedanya dicuri di depan matanya, bukannya berteriak maling, Jaya malah melongo melihat aksi pencurian terjadi di depan matanya. Siapapun tolong pukul Jaya, sekarang!

“Itu kan sepeda gue,” Gumam Jaya pada dirinya, “ASTAGA ITU SEPEDA GUE ANJIR! DICURI!” Teriak Jaya panik kalas sadar. Jaya berusaha mengejar sepedanya namun sudah terlalu jauh. Mau sampai lepaspun kakinya, Jaya tidak akan mampu mengejarnya, sialan, apa yang harus ia katakana pada kakaknya nanti!

“AISH! SIALAN!” Umpat Jaya kesal.

***

Jaya memohon kepada pak satpam untuk membuka gerbangnya, oh, ayolah, Jaya hanya terlambat beberapa detik sebelum gerbang sekolahnya sepenuhnya ditutup, Jaya cukup bersyukur, Pak Agas sangat baik mengantarkannya setelah mengetahui sepedanya dicuri. Sebenarnya, Jaya masih tak habis pikir, bagaimana ada siswi SMA yang masih berseregam lengakap mencuri sepeda? Pagi – pagi pula. Jika yang dicuri emas Jaya masih bisa menoleransi, ini hanya sepeda butut, yang harganya dua ratus ribu saja tidak laku. Jaya menggelangkan kepalanya tidak habis pikir, semakin lama manusia semakin nyeleneh saja, motif pencurian jadi ada – ada saja.

“Pak, serius bapak nggak mau bukain gerbang buat saya? Saya nggak pernah telat loh pak, ini pertama kalinya, bapak tega banget.” Jaya masih sibuk memohon di luar gerbang dengan Pak Satpam yang berdiri di jalan masuk.

“Tunggu Bu Reni baru boleh masuk,”

Jaya menghela nafas, berjongkok, “Saya sebenarnya pengen ngeluarin jurus seribu gombal maut saya pak, tapi saya lagi lelah, jadi tepe – tepe juga percuma saja.”

Pak Satpam terkikik geli, Jaya ini salah satu spesies siswa unik yang jarang ditemui, “Coba, mana tau nanti bapak bukain.”

Jaya mendongkak, dimatanya terdapat binar penuh harapan, “Pak, bapak tau nggak bapak mirip obeng Tamiya!” Ujar Jaya dengan semangat empat lima berdiri dari posisi berjongkoknya.

“Weh, sembarangan kalo ngomong, tampan begini toh muka bapak!” Ujar Pak Arya a.k.a Pak Satpam menepuk bahu Jaya, tak terima.

“Sabar atuh pak!” Sungut Jaya, “Jawabnya harusnya kenapa tuh?!” Ujar Jaya dengan wajah cemberut, belum lagi bibir yang mencebik kesal sok imut, Jaya itu tampak, namun tampang sok imutnya itu  cukup membuat Pak Arya mual sekaligus muak.

“Iya! Iya! Kenapa tuh?” Ujar Pak Arya dengan nada manja, mengejek Jaya. Jaya memutar bola matanya malas, namun bertahan agar bisa masuk gerbang sekolahnya tanpa menunggu Bu Reni, guru disiplin yang terkenal galak, Jaya tidak ingin berurusan dengan perempuan paruh baya dengan tubuh tambun itu.

“Soalnya imut banget hehe,” Lanjut Jaya cengengesan. Pak Arya tergelak keras, digombali oleh remaja bau kencur seperti Jaya sangat menggelikan. Dilain sisi Pak Arya merasa puas, mengerjai Jaya, laki – laki yang terkenal dengan sifat bodoamatnya itu tampak tertekan dengan suruhan Pak Jaya.

“Ya udah karena saya baik hari ini, sok atuh masuk!” Suruh Pak Arya yang dibalas binaran girang oleh Jaya. Jaya berjingkrak girang tersenyum lebar, memasuki gerbang sekolahnya.

“MAKASIH YA PAK!” Teriak Jaya senang sambil berlari. Pak Arya terkekeh, padahal hari ini class meeting, tidak akan ada Bu Reni yang mendisiplinkan siswa – siswa seperti biasanya, memang dasar Jaya saja yang terlalu mudah dibodohi.

“Jaya, Jaya.” Batin Pak Arya. (bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: