Bagian 12: “Cerita Tentang Kita”

Bagian 12: “Cerita Tentang Kita”

Ary--

Like a river flows

Surely to the sea

Darling so it goes

Some things

Are meant to be

Take my hand

Take my whole life too

Oh, for I can't help

Fallin' in love with you

-Haley Reinhart, Can’t Help Falling in Love

֍♠♠♠♠֍


yamaha--

Jadi gini yah yang namanya cinta, yang diacak rambutnya yang berantakan malah hatinya…Eakkk. Dianya lucu, harusnya aku ketawa, bukan jatuh cinta…azeeek”

-Rojer, perempuan gampang baper genarasi 22

>>>***<<<

Ini sudah dua hari Rojer bersembunyi dari keluarga Chandra, bukannya apa – apa. Sebenarnya Rojer tidak malu, hanya saja ia belum siap mental melihat anak sulung keluarga Chandra, yang siapa lagi kalo bukan, Arya Sanggara. Sebenarnya malam itu cukup memalukan untuk Rojer. Namun, tidak menampik bahwa hatinya juga ikut berbahagia dan berbunga – bunga mendengar pernyataan cinta Arya. Malam itu, Rojer juga menangis bukan karena syok, melainkan ia terlalu bahagia mendenger kata cinta dari mulut Arya, mulut yang biasa mengumpatinya itu mengucapkan kata cinta untuknya, bahkan mengambil ciuman pertamanya. Untuk ciuman pertama sebenarnya Rojer ingin marah. Namun, lagi – lagi ia tak bisa membohongi hatinya, saat sensasi kala itu benar – benar candu untuknya.

“Rojer! Jangan jadi gila!” ingat Rojer memukul kepalanya. Kini, dirinya tengah bersembunyi di antara dinding yang mengapit, membentuk sebuah gang dengan jalan buntu. Sebenarnya jika ada jalan lain menuju rumahnya, Rojer ingin sekali melewati jalan itu, asal ia tak bertemu keluarga Chandra, terutama Arya. Namun, apa daya, rumahnya itu didalam komplek dan satu – satunya jalan menuju rumahnya hanya harus melewati jalan ini, jalan yang penuh dengan dinding gravity. Rojer mengendap – endap, kemudian bersembunyi saat melihat siluet atau bayangan yang sekiranya itu adalah keluarga Chandra.

“Ngendap – ngendap gini ngapain coba?” Sebuah suara bertanya pada Rojer yang masih setia di dalam tempat persembunyiannya. Rojer belum sadar bahwa ia diikuti, dengan lancarnya menjawab, “Ya biar nggak ketemu Arya lah! Ngapain lagi coba?!”

“Ngapain sembunyi? Memangnya dia bakal grepe – grepe kamu apa sampe kamu sembunyi?!” Suara tersebut naik beberapa nada, Rojer pun mencebik kesal, “Mesum aja lo sih jadi manusia! Gue malu ketemua dia, takutnya dia mabok pas nyatain cinta sama gue! Kan gue udah kepalang baper. Ah anying banget deh!” Gerutu Rojer.

Kini Rojer mendapat sentilan di mulutnya, “Guru kok bisa – bisanya ngumpat!” Balas suara tersebut.

“Memangnya guru bukan manusia hah?!” Balas Rojer lagi tak mau kalah, berbalik bersiap menendang orang yang menganggu kenyamanannya bersembunyi. Rojer membulatkan matanya saat melihat Arya yang turut berjongkok di sampingnya, “ARYA!” Teriak Rojer kaget, kelepasan menendang Arya betulan hingga membuat Arya tersungkur.

“Tolong dong itu tenaga gabannya dikontrol dulu! Sakit nih bokong aku!” Kesal Arya mengusap kedua bokongnya, Rojer segera mendekati Arya berusah membuat Arya bangkit. Arya menolak bangkit, dan duduk di kotornya trotoar yang tertupi bunga hias sepinggang mereka. Yang jika meraka duduk, jelas orang tidak menyadari keberadaan mereka. Arya menarik Rojer untuk turut duduk, membuat Rojer meringis sebab bokongnya menyentuh paving blok keras tanpa aba – aba.

“Ssh…sakit,” Ringis Rojer, Arya panik, “Eh, maaf – maaf. Kekencengan ya nariknya, serius nggak bermaksud nyakitin!” Ujar Arya berjongkok di depan Rojer.

Rojer menggeleng pelan, memberi tahu pada Arya bahwa dia baik – baik saja. Arya kembali mendudukkan dirinya, “Kamu dua hari sembunyi – sembunyi gini memang nggak capek?” Tanya Arya. Tadinya Ia, Aji dan Enza berniat pergi ke minimarket yang tidak jauh dari rumah mereka, sekitar lima belas menitan jika ditempuh dengan jalan kaki. Ditengah jalan, Arya melihat sosok berhodie hitam yang mengendap – endap, awalnya Arya pikir itu pencuri. Namun, rambut panjang dan bentuk tubuh yang familiar menjelaskan otomatis pada Arya bahwa itu Rojer. Dengan dalih kelupaan sesuatu di rumah, Arya meninggalkan Aji dan Enza menyusul Rojer kemudian.

“Capeklah!” bentak Rojer dengan mata mendelik kesal. Sih, Arya kalo mancing emosi nggak nangung – nangung, sudah tau capek, pake ditanya. Arya terkekeh pelan, “Yang suruh sembunyi siapa?” Tanya Arya menaikkan sebelah alisnya menggoda Rojer.

Rojer membuang wajahnya, menjauhkan pandangannya sebisa mungkin dari Arya. Arya menghela nafasnya, “Kamu beneren suka sama aku nggak sih?” Tanya Arya pelan menatap Rojer serius.

Rojer melototkan matanya, rasanya ingin sekali Rojer mencekik Arya. Perjuangannya selama dua tahun belakangan ini berlandaskan apa jika bukan suka?! Tidak, Rojer tidak suka Arya, melainkan ia mencintai Arya. “Mata lo buta?!” Kesal Rojer, dirinya sangat lelah, ditambah perutnya nyeri dan sakit karena hari pertama bulanannya datang malam ini, belum lagi moodnya ambrudul seharian. Jadi jika Arya hanya ingin mengganggunya, lebih baik biarkan ia pulang dengan tenang dan beristirahat.

Arya tertawa senang, mengamit jemari Rojer dan menarik Rojer berdiri. “Ayo jalan sama – sama, pelan – pelan. Kali ini biarin aku yang ngejar kamu,” Ujar Arya menatap Rojer serius, Rojer mematung mendengar pernyataan Arya, pernyataan yang sama dengan malam penuh drama antara mereka. Rasanya, Rojer merasa perutnya penuh dengan kupu – kupu. Jantungnya berdetak tidak karuan, bahkan kakinya kini terasa seperti jelly. Saat Rojer hampir jatuh, Arya dengan sigap menahannya.

“Baru segini doang udah lemes, gimana nanti kalo udah nikah?” Ujar Arya yang langsung dihadiahi pukulan oleh Rojer. Demi tuhan, Rojer baru tau jika Arya benar – benar laki – laki mesum, “Itu mulut minta dicabein banget!” Balas Rojer. Arya mengerlingkan sebelah matanya, "rather than that, wouldn’t it be better with a kiss?” Bisik Arya yang dibalas dengan wajah semerah tomat oleh Rojer.

Arya mengamati sekitarnya, selain lampu jalan yang temeram dan suara desing jangkring yang begitu berisik, tidak ada yang selain dirinya dan Rojer. Hanya sesaat. Namun, Rojer dapat merasakan benda empuk dan basah mendarat di belah bibirnya. Tolong siapapun, bawa Rojer pergi dari sini.

Diam – diam tanpa sepengetahuan Rojer dan Arya. Tak jauh dari mereka, Aji dan Enza tengah mengintip dengan raut wajah pias.

“Bang! Elah gue juga pengen liat. Mata gue jangan ditutup!”

“Bocil masih dibawah umur diam aja!”

***

Jingga menatap Sakul heran yang kini berpenampilan benar – benar tertutup. Jika Sakul menggunakan pakaian serba hitam maka Jingga tidak akan heran, sebab setahu Jingga, semua yang bersangkutan dengan Sakul itu benar – benar macho dan maskulin bahkan hingga aroma tubuh laki – laki itu, berbeda dengan Aji yang tampak lebih terkesan manis dan lembut. Jingga menggelengkan kepalanya, apa – apannya dirinya membandingkan Aji dan Sakul. Mereka berbeda satu sama lain. “Sadar Jingga!” Batin Jingga mengingatkan dirinya.

“Nggak usah natap gue gitu!” Sentak Sakul yang membuat Jingga terkejut. Sungguh, Jingga cukup terkejut dengan bahasa Sakul yang kembali seperti awal mereka berteman. Sebenarnya dalam hati Sakul, Sakul tengah merutuki Aji dan Mbak Ti habis – habisan. Bisa – bisanya mereka mendandani dirinya dengan gaya cowo kue seperti ini. Sebenarnya Sakul tampak biasa saja dengan sweater biru berlengan panjang dan celana kain berwarna putih, hanya saja Sakul sedikit merasa tidak nyaman sebab ia yang biasa berpakain hitam dari ujung kepala hingga kaki, bahkan Mbak Ti menyemprotnya dengan parfum milik Aji.

Sakul menghela nafas pelan, ia buka masker yang sedari tadi menutupi wajahnya. Memperlihatkan lebam biru buatan Aji. “Abi, muka lo—” Perkataan Jingga terpotong oleh Sakul, “Panggil gue Sakul,” Ujar Sakul. Jingga mengangguk kaku, rautnya kebingungannya mengundang kekehan Sakul.

“Nama gue memang Sakula Abinala. Tapi, seumur hidup gue dipanggil Sakul, bukan Abi.” Jelas Sakul yang lagi – lagi diangguki oleh Jingga.

Diantara wanita yang pernah menyandang status sebagai kekasih Sakul, Jingga adalah satu diantara banyaknya wanita yang mampu ia kencani selama dua tahun lamanya. Padahal biasanya, ia hanya akan bertahan paling lama tiga bulan. Jingga benar – benar wanita penuh pesona, wajar rasanya jika Aji sahabatnya, jatuh sedalam – dalamnya. Tidak ada percakapan yang terjadi dinatara mereka, keduanya sama sibuk dengan pikiran masing – masing.

“Temuin Jingga sana, kalo dia beneren milih lo, dia nggak pernah cerita tentang gue. Jadi Sakul yang biasa gue kenal, jangan jadi bajingan yang suka buat cewe nangis. Gapapa, kalo dia nolak, entar kita cari cewek eropa yang lebih bohay!”

Suara Aji kembali beputar di kepala Sakul, kalimat Aji memang terdengar brengsek. Tapi itu kata yang paling Sakul tunggu. Aji bener, untuk bersama Jingga, Sakul tidak perlu berpura – pura untuk menjadi orang lain, lupakan tentang imej sebagai cowo badboy yang baddas, walau Sakul memuja wanita, sumpah seumur hidupnya baru Jingga yang menangis untuknya.

“Jingga,” Panggil Sakul dengan senyuman hangat, Jingga turut tersenyum membalas senyuman Sakul.

“Perasaan lo ke gue itu masih ada?” Tanya Sakul, Jingga tersentak berpikir sesaat, genggaman tangannya semakin erat di totebag yang berada di pangkuannya. Setelah beberapa saat, akhirnya Jingga menangguk pelan.

Sakul tersenyum lebar, “Jingga, gue nggak tahu yang lo anggukin itu benar adanya atau nggak. Tapi biarin gue jujur malam ini, mungkin terkesan nggak tau diri kalo saat ini gue minta balikan sama lo, tapi sekali lagi gue bakal nanya lo, seandainya kita berkesempatan buat balikan, apa lo mau balik sama gue? Ayo jadi kita yang dulu, kita benahi sama – sama, pelan – pelan aja Jingga.”

Jingga masih dengan keterdiamannya, “Jingga,” Panggil Sakul lirih. “Gue minta maaf untuk semua kesalahan yang gue buat, yang nyakitin lo, sengaja atau nggak sengaja, gue bener – bener minta maaf!” Sambung Sakul pelan.

Kafe tempat pertemuan mereka tidak terlalu berisik, diantara bambu imitasi yang sengaja dipajang, Jingga dan Sakul terjebak di dalam suasana yang janggal. Jingga tidak tau harus menanggapi apa, di sisi lain hatinya ada perasaan lega. Namun, dilain hatinya yang lain ada perasaan bersalah yang terus berkecamuk, bahkan kini rasanya Jingga benar – benar ingin menangis, sebab rasa bersalah itu semakin mendominasi. Dengan helaan nafas, Jingga akhirnya mengeluarkan kalimatnya.

“Nama panggilan lo lucu. Sakul.” Ujar Jingga tertawa pelan, entah mengapa Sakul merasa perkataan Jingga nanti adalah hal yang akan mematahkan hatinya. “Gue cinta sama lo, itu nggak akan pernah berubah Sakul,” Ujar Jingga yang mengundang senyum lebar Sakul.

“Tapi, Gue nggak bisa mencintai lo setelah ini.” Jingga tersenyum lembut, dirinya menatap Sakul dengan sorot teguh. Kali ini biarkan Jingga yang memutuskan. “Jingga pernah mencintai Abi, itu nggak akan pernah berubah. Namun, lo cuma bisa berharap itu Jingga yang dulu, Jingga yang dua tahun sama Abi. Sekarang, Jingga yang ada di hadapan lo ini nggak lagi, karena yang dihadapan gue sekarang cuma Sakul. Tapi, seandainya lo juga Abi, Jingga yang sekarang juga nggak bisa mencintai Abi, karena hati kecil gue udah penuh.”

“Lo pernah dengar nggak, Kul. Katanya cinta itu ibaratnya pulang. Gapapa kalo rumah yang lo pulangin nggak sebagus rumah – rumah lainnya, asal didalamnya lo nyaman dan aman, sejatinya itu tempat lo pulang. Saat bersama lo, gue selalu merasa bangga, rumah gue tempat gue pulang itu rumah paling indah yang gue punya. Tapi, selama apapun gue tinggal, gue nggak pernah merasa nyaman dan aman. Dan saat ini gue menemukan rumah yang biasa – biasa aja, sederhana banget, tapi dia selalu ngebuat gue merasa nyaman dan aman. Lo tahu, bersama lo gue cuma singgah, bukan benar – benar untuk ada” Jingga mengakhiri kalimatnya dengan senyumannya yang paling tulus.

Sakul itu tampan, kaya, dan perhatian. Boyfriend material sekali kalo kata ciwi – ciwi jaman sekarang. Bahkan saat menyandang status sebagai kekasih Sakul, Jingga tidak menampik bahwa ia menikmati seluruh atensi yang khalayak berikan padanya. Sakul bener – benar sebuah aset kebanggaan, semua yang ada pada laki – laki itu tiada celah cacat. Namun, sesempurna apapun Sakul, Jingga tidak pernah merasa ada untuk Sakul. Ibaratnya, Jingga terus menjadi semu untuk Sakul. Berbeda dengan Aji, laki – laki itu cerewet, usil, aneh, bahkan Jingga tidak dapat mendeskripsikan seluruh sifat Aji yang membuatnya geleng – geleng kepala. Namun, laki – laki itu mampu membuatnya menjadi istimewa bahkan dengan cara yang paling sederhana. Tidak perlu tempat – tempat mewah, hanya mengajak berkelilingnya di pinggiran Ancol, Jingga merasa benar – benar puas dengan apa adanya Aji. Aroma manis dan lembut Aji itu membuat Jingga candu, sosok Sakul boleh jadi pas untuk segalanya. Namun, itu tidak akan membuat Jingga secandu ia mencandui sosok Aji. Pelukan laki – laki itu, gengamannya, bahkan memikirkannya saja membuat Jingga rindu.

Jingga merangkul Sakul, “Ini terkahir kalinya, gue pernah dengar dari Rena. Semua cewe yang pernah sama lo selalu pisah dengan baik – baik, lo selalu mengembalikan hati dan perasaan mereka dengan utuh. Makasih udah ngebalikin hati dan perasaan gue dengan utuh, dan maaf karena nyakitin hati lo.”

Sakul terkekeh, ia balas pelukan Jingga erat, dibalik kaca kafe, Sakul dapat melihat Aji berdiri di depannya, menunggu dirinya dan Jingga selesai. Brengsek benar memang si Aji, padahal Aji yang menyuruh Sakul berjuang, taunya laki – laki itu bahkan bergerak lebih cepat darinya.

“Lo bener – bener baik, julukan lo ada benarnya malaikat baik hati,” Komentar Sakul melepaskan pelukannya.

Jingga tertawa, “Gue bukan malaikat baik hati, bahkan Rena selalu bilang gue medusa berkedok dewi!” Ujar Jingga, ia menunjuk sosok Aji pada Sakul di balik kaca Kafe, melambikan tangannya yang dibalas Aji dengan lambaian tangan pula. “Itu cowo gue, namanya Aji” Kenal Jingga.

“gue yang minta jemput tadi sama dia! Lo harus kenalan sama dia kapan – kapan. Lo tau, kalo julukan malaikat baik hati itu lebih bagus disematin ke dia walaupun kelakuannya nggak ngalahin setan.” Ujar Jingga cepat, “Dia mungkin udah nunggu lama, gue pulang dulu…teman?” Tanya Jingga mengulurkan tangannya, Sakul menerima dengan lapang dada, “teman.” Jawab Sakul senang. Setelahnya, Jingga berlalari menuju Aji. Dari tempatnya, Sakul dapat melihat Jingga yang segera merangkul Aji, kemudian tertawa sambil asyik bercerita, entah apa yang diceritakan mantan kekasihnya itu. Keduanya melambai pada Sakul, yang dibalas Sakul dengan lambaian juga. Namun, saat Jingga berbalik, Sakul menunjukkan kepal tinjunya pada Aji yang dibalas Aji dengan juluran lidah, mengejek dirinya.

“Kalian….semoga bahagia.” (bersambung)

 

 

 

 

Sumber: