Bagian 10: “Diantara Berisiknya Kota Jakarta”

Bagian 10: “Diantara Berisiknya Kota Jakarta”

Ary--

Udara mana kini yang kau hirup?

Hujan di mana kini yang kau peluk?

Di mana pun kau kini

Rindu tentangmu tak pernah pergi

Di jalan ini menguning langit

Berkendara denganmu

Tajam mentari menembus pelan

Bening teduh matamu

Kau dan wangimu berpadu utuh

Tabungan kelak rindu

-Dere, Kota

֍♠♠♠♠֍

“Diantarnya lengang – lengang bangungan, berisiknya jalanan, dan temeramnya langit. Aku bahkan masih mengatakan dengan utuh dan begitu dalamnya, aku mencintai kamu. Bahkan disaat kamu ragu dengan perasaan kamu untukku. Bukankah cinta diantara kita terlalu menyakitkan Jingga?”

>>>***<<<

“Jadi gimana?” Tanya Jingga tak berhenti tertawa mendengar cerita Aji tentang peristiwa yang menimpa Mas Arya saat malam pernyataan cinta mereka, tepatnya dua hari yang lalu. Ini kesekian kalinya Aji menceritakan tentang keluarganya, bagi Jingga keluarga Aji atau yang bisa Jingga kerap ingat di memorinya sebagai keluarga Kapten Chandra itu terlalu unik, dari berbagi sisi keluarga itu sungguh asyik untuk dikulik. “Lagian, ngapain kamu ikut – ikutan nangis? Nggak guna banget deh!” Jingga masih terus mengejek Aji, menyisakan tawa dan air matanya sedari tadi.

“Ya, gimana! Kan aku udah mellow ditambah Mbak Rojer nangis kencang, Senja juga ikut – ikutan nangis, ya udah nangis aja dong ngeramein.” Jawab Aji, menyuapkan sesendok sioamay yang sedari tadi menemaninya dan Jingga. Jingga hanya menangguk, meminum es tehnya, “Jadi, Mbak Rojer sama Mas kamu itu jadi di arak?” Tanya Jingga kemudian, yang dijawab gelengan oleh Aji.

“Nggaklah!” Balas Aji cepat, “semisalpun iya nih Mas Arya bener ngelakuinnya, pasti langsung dinakihin sama mama malam itu.” Lanjut Aji.

“Ya terus gimana kelanjutannya, aku penasaran banget tau!” Desak Jingga. Aji mencebik, “Mbak Rojer nangis karena syok aja tiba – tiba, katanya kepalang malu doang nggak mau taro dimana mukanya di depan Mama. Terus Mas Arya juga udah pake berlutut mohon – mohon sama Mama nangis – nangis kalo sebenarnya itu nggak sengaja aja kebetulan posisinya gitu.” Jelas Aji.

“Awalnya sih Mama nggak mau percaya. Cuma, karena Mas Arya memang nggak pernah macem – macem bahkan waktu tinggal di singapura, akhirnya Mama percaya. Mas Arya minta maaf sama Mbak Rojer, dan the end.” Sambung Aji kemudian.

“terus gimana hubungan Mas Arya sama Mbak Rojer? Jalan nggak?” Tanya Jingga lagi. Aji menggeleng, “Nggak tahu, udah dua hari nggak ketemu Mbak Rojer, padahal biasanya selalu ketemu di tempat cilok Mang Ucup depan komplek,” Jawab Aji yang diangguki oleh Jingga.

“Eh bentar deh,” Ujar Jingga, “Kan nama Mbak yang kamu itu Rosa, kok dipanggil Rojer?” Tanya Jingga heran.

Aji tertawa, “Soalnya mbak itu suka banget sama power ranger sampai sekarang. Rojer, Rosa Ranger!” Jawab Aji dengan tawa kuat, Jingga tersenyum kecil, menepuk kepala Aji, “Dosa ngatain yang tua!” Ingat Jingga.

“Aku nggak ngatain, nyatuin doang itu mah!” Bantah Aji tak terima.

Jingga memutar bola matanya malas, “Sama aja!” Balas Jingga tak mau kalah.

“Udah ah! Keburu malem nih. Pulang!” Ajak Jingga yang diangguki oleh Aji. Aji memasangkan helm Jingga, Aji menepati janjinya untuk membawa jaket yang lebih tebal dari biasanya. Aji bukan laki – laki kaya yang bisa memanjakan Jingga dengan kendaraan mewah setiap harinya, atau membelanjakan Jingga barang – barang mewah. Bersama Aji, Jingga harus merasa kepanasan dan kehujanan, bersama Aji pula Jingga harus puas dengan makan di angkringan kaki lima setiap sorenya. Namun, apa yang dilakukan Aji lebih dari cukup untuk Jingga, laki – laki itu istimewa dengan caranya, cara Aji memperlakukannya tulus dan apa adanya. Aji tidak pernah berpura – pura punya untuk dirinya, Aji ya Aji. Tidak apa – apa kehujanan dan kepanasan di boncengan motor Aji, namanya Indonesia, ya kalo nggak hujan pasti panas. Lagipula angina Jakarta tidak seburuk itu untuk dilewatkan. Tentang angkringan kaki lima, Jingga juga tidak masalah, toh nyatanya banyak makanan kaki lima yang rasanya melebihi restoran bintang lima, tidak perlu gengsi untuk mengakuinya, lagian bintang lima tidak selalu menjadi yang paling utama bukan?

Jingga memeluk Aji erat, sebenarnya ada rasa geli dan malu bersamaan saat melakukannya. Namun, demi apapun, Jingga juga sama tidak tahannya melihat punggung Aji yang sungguh menggoda iman untuk ia sendari. Ia lingkarkan kedua tangannya di perut Aji, kemudian menaruh dagunya di pundak Aji. “Ji, kapan – kapan ajakin aku ketemu Senja ya?” Ujar Jingga, Aji melirik Jingga dari kaca spion motornya kemudian terkekeh kecil.

“Kalo itu anak tau, kamu manggil dia Senja. Dia bakal ngamok, nggak mau ketemu kamu,” Jawab Aji, mendengernya Jingga terkekeh. “Aku tu merasa adik kamu itu lucu banget gitu, padahal udah dua SMA masa sih masih bisa sepolos itu.” Ujar Jingga tak percaya. Aji yang mendengarnya sontak tertawa.

“Jingga, Jingga! Sejak kapan aku bilang si Senja polos? Dia itu lugu – lugu pukimah. Dirumah aja sok – sokan nggak tau gitu, kalo diluar mah dia nggak mengalahkan liarnya anak Jakarta.”

Jingga mencubit perut Aji pelan, “Anak Jakarta nggak semunya liar ya? Jangan nilai sebelah mata dong! Gini – gini aku lahir dan gede disini.” Balas Jingga tak terima. Aji mengangguk, “Itu kan cuma pandangan orang aja, liar nggak liarnya ya tergantung gimananya kita lah.”

“Ji,” panggil Jingga pelan, “Aku beneren cinta sama kamu,” Bisik Jingga pelan, suaranya samar terbawa angin. Namun, walau begitu Aji masih dapat mendengarnya dengan jelas. Aji tidak menjawab apapun pernyataan Jingga, ia biarkan berisiknya jalanan Jakarta mengisi kekosongan mereka. Jingga diam setelah berbisik pelan, pikirannya penuh, hanya karena seutas kalimat yang ia lontarkan tanpa balasan. Jingga memejamkan matanya, ia tempelkan wajahnya di punggung Aji, satu Kristal bening lolos dari kedua matanya yang tertutup. Jingga sungguh merasa risau, kalimat yang ia utarakan tak pernah benar ia tahu tujuannya dengan jelas, entah itu ia ungkapkan benar untuk Aji atau sekedar kata penenang untuknya, meyakinkan dirinya untuk lebih mencintai Aji.

Di temeramnya langit menuju malam, diantara berisiknya jalanan Jakarta, dua manusia yang kini tengah beriringan itu sama naasnya, sama – sama resah oleh rasa. Mengapa sih perihal hati selalu rumit? Padahal jika ditelisik lebih jauh, kebingungan mereka hanya berada diantara kata ‘ya’ dan ‘tidak’, mereka yang terlalu takut untuk menerima realita atau mereka yang terlalu larut dalam euphoria tentang ekspetasi bahagia ciptaan mereka.

“Jingga,” Panggil Aji pelan, lampu merah menjadi satu – satunya hal yang membuat mereka berhenti di antara jalanan yang tengah begitu sibuk, berada jauh dibelakang kendaraan yang berdesak – desakan untuk lebih dulu menekan gas, meninggalkan satu dengan yang lainnya.

“Kamu tau, cinta itu nggak selalu tentang kata. Mau berapa kali pun kamu bilang kamu cinta, kalo nyatanya ruang hati kamu penuh, aku nggak akan pernah ada untuk kamu,” Ingin sekali Aji mengatakan itu dengan lantang di hadapan Jingga. Namun, karena Aji memang juragan muka dua, satu – satunya hal yang Aji dapat katakan hanya satu, kata yang terus ada di palung terdalam hatinya.

“Aku juga, Aku cinta kamu” Ujar Aji pelan mengusap, “bahkan disaat kamu nggak pernah yakin dengan perasaan kamu,” Batin Aji kemudian. (bersambung)

Sumber: