Bagian 3: “Kocheng, Ncing, dan Cat”

Bagian 3: “Kocheng, Ncing, dan Cat”

Ary--

Sejak aku memandang

Hati rasa terguncang

Ku sapa dan sebut namamu

Kau tertunduk dan menghindar

Jangan kau salah duga, aku sama

Hanya tak ingin orang lain tau

Diam Diam ku telah jatuh cinta

-Arsy, Tiara, Diam – Diam

֍♠♠♠♠֍

“Kalo kata gue Aji itu gila. Selain jadi budak cintanya Jingga, Aji tu nggak lebih dari babu kucing – kucingnya!”

-Sakul, sahabat sehidup mati Aji, titik gak pake koma.

>>>***<<<

Sakul menatap Aji malas yang kini tengah mesam – mesem sendiri, sejak pagi hingga malam kini sahabatnya itu tak berhenti tersenyum. Awalnya, Sakul, yang berperan sebagai sahabat sehidupnya mati Aji berpikir positif, mungkin Aji tengah bahagia kala menemui Aji di pagi hari. Kemudian, di siang hari Sakul tak lagi menemui Aji dimanapun, dan saat menjelang jam sepuluh malam, Aji bertemu Sakul yang tengah tertawa sendiri sembari menatapi tangan kanannya lama.


yamaha--

“Ji! Lo masih waras kan?” Sakul bertanya pelan, menoel – noel pundak sahabatnya itu. Namun, tak digubris oleh Aji.

“Dia kenapa?” Tanya Mbak Ti heran, kakaknya Sakul. Sakul mengangkat kedua bahunya, sama bingung dengan kakaknya kini.

“Coba panggil ustadz kali ya? Takutnya benar – benar ditumpangi.” Mbak Ti menjauh, bersembunyi di belakang Sakul yang kini tengah berhadapan dengan Aji.

“Ji! Lo kenapa deh?!” Sakul bertanya sewot, pasalnya sudah sejak setengah jam lalu Aji mampir ke rumahnya, dan hanya tersenyum – senyum tidak jelas.

“Kul, Mbak Ti,” Aji akhirnya menjawab, “Langit Jingga beneran cantik ya? Sama kayak Jingga hehe,” Aji terkekeh layaknya orang mabuk, kembali tersenyum, sambil menangkup kedua pipi Sakul.

“Mbak cepat telpon ustadz!” Sakul menyuruh kakaknya panik. Aji masih belum menyadari kondisi, Mbak Ti yang panik segera ke dapur dan mengambil buku yasin dikamarnya, “Kul, coba bacain ayat kursi!” Suruh Mbak Ti panik yang segera Sakul lakukan.  Sakul meminum air yang dibawakan Mbak Ti kemudian menyemburkannya diwajah Aji, memegang kepala Aji erat membaca ayat kursi.

“Allahu la illah ha illah…” diiringi dengan Mbak Ti yang membaca surat yasin, “Yassiinn…”

“JUANCOK!” Umpat Aji yang mendapat semburan ludah mendadak dari Sakul. Mbak Ti dan Sakul masih melanjutkan kegiatannya dengan mata terpejam dan jantung berdebar kencang, pasalnya ini pertama kalinya mereka menemui orang kerasukan. Parahnya Aji pula, yang belum kerasukan saja kelakuannya sudah melebihi setan.

“MBAK TI! SAKUL! NGAPAIN?!” Teriak Aji kesal, memandang dua saudara berbeda gender ini heran. Sakul dan Mbak Ti kompak membuka mata dan melotot.

“AJI SAHABATKU! AKHIRNYA LO SADAR!” Sakul berteriak senang, memeluk Aji erat yang disusul oleh Mbak Ti.

“Ji! Mbak panik kamu kesurupan,” Mbak Ti bahkan sampai meneteskan air matanya, lega melihat Aji kembali sadar.

“Weleh! Mbak sama Sakul nih sama sama gendeng toh! Siapa yang kesurupan coba?!” kesal Aji. Sakul menjitak kepala Aji, mengusap air matanya yang sempat menetes, “Dosa ngatain yang lebih tua!” Ingat Sakul.

“Maaf, Mbak Ti.” Aji segera meminta maaf yang diangguki oleh Mbak Ti. “Tapi gue beneren nggak kesurupan, ini namanya kasmaran!” Gerutu Aji meghentakkan kakinya kesal, tidak habis pikir, kalo Sakul yang minim waras sih, Aji terbiasa, tapi ini Mbak Ti. Diantara Sakul, Aji dan Mbak Ti, cuma Mbak Ti yang bisa dipercaya menjadi manusia seutuhnya, kalo Sakul dan Aji mah badan saja manusia, kalo kelakuan sudah sebelas duabelas dengan setan.

“Dih! Bocah kampret! Sok – sokan kasmaran, mikir noh ngampus lo udah sampe mana!” Sakul tidak tahan untuk tidak menempeleng kepala sahabatnya itu.

“Sampe mana – mana!” Aji tergelak keras, tidak ada yang lucu sebenarnya. Namun, mengingat suara tawa Aji yang renyah dan menular, membuat Mbak Ti dan Sakul juga terkekeh. Di tengah tawa mereka, suara bel pintu rumah terdengar nyaring dan buru – buru.

“Siapa?” Tanya Sakul pada Mbak Ti, sebabnya ini sudah hampir jam sebelas malam. Masa ada yang bertamu ke rumah mereka semalam ini? Yakali Mbak melati yang sering nangkiring di pohon jambu depan rumah mereka, jikapun iya harusnya bukang ‘ting tong’ yang berbunyi, melainkan suara tawa nyaring hihihihi.

Sakul dan Aji bertanya – tanya, kemdian dikejutkan dengan Mbak Ti yang menepuk dahinya keras, “Mbak, nelpon ustadz tadi!” Aji tergelak, “Ngadi – ngadi nih si Sakul, mbak!” Ujar Aji, “Mbak juga kenapa percaya aja sama Sakul.” Lanjut Aji. Mbak Ati tidak lagi mendengarkan Aji, bergegas ke depan menemui ustadz di depan rumah mereka.

“Mana anak – anak gue?” Tanya Aji pada Sakul selepas kepergian Mbak Ti. Bukan tanpa alasan sudah malam begini Aji datang ke rumah Sakul, tentu saja menjemput anak – anak kesayangannya. Lagipula, anak – anaknya inilah yang menjadi alasan keterlambatan Aji pada Mamanya, pulang tanpa alasan di waktu hampir tengah malam, bisa – bisa putus kepala Aji besok paginya. Mamanya itu, cantik – cantik begitu nggak beda jauh sama algojo kalo soal penggal memenggal.

“Di belakang, ambil sendiri sana!” Suruh Sakul yang kini tengah bermalas – malasan di sofa ruang tamunya. Aji segera berlari ke belakang rumah Sakul, “Anak – anakku!” Teriak Aji girang, memeluk satu – satu buntalan lemak yang tengah bermalas – malasan.

Aji mengelus kepala mereka, “Bentar ya anak – anakku, Papa ngasih duit dulu buat Om Sakul sialan kalian.” Aji meninggalkan anak – anaknya kembali ke tempat Sakul, dengan kuat Aji menempalkan dua buah uang merah di kepala Sakul.

“Sakit anjing!” Kesal Sakul, Aji menutup mulut Sakul dengan telunjukknya, “Lo itu buka penginapan kucing, bukan anjing. Bisa – bisanya lo buat kucing – kucing disini merasa terkhianati!”

Sakul melotot, “Lo manusia, tapi otak kagak beda jauh sama hewan.” Komentar Sakul pedas, Aji memukul Sakul kuat, “Kayak yang ngomong nggak sadar ras aja?!” Balas Aji.

Sakul menaikkan sebelah alisnya, “Ras apa?”

“BINATANG!”

“AJI JUANCOK!”

“SAKUL BLEGUG!”

“SE—” Aji menyumpal Sakul sebelum melanjutkan kalimatnya, “Jangan dilanjut, anak – anak gue nunggu, ntuh duit jangan dibuang!” Potong Aji menunjuk uang yang berserak di sofa.

“Ambil balik, gue nggak nerima. Lo kata gue orang lain sampe lo giniin?!” Sakul yang baru sadar uang – uang itu menolak. Aji mendelik malas, “Siapa bilang ntuh duit buat lo? Itu buat whiskas anak – anak gue ya! Soalnya gue bakal sering nitip mereka, cuz’ your sahabat ini kudu menjemput your calon ipar.”

“Idih, Gayaan lo!” Cibir Sakul malas, menatap Aji tidak percaya.

“Hmm…gue mencium bau?” Ujar Aji, “Oh, ternyata bau – bau iri dari jomblo ngenes!” Lanjut Aji.

Sakul memiting kepala Aji, sialan memang punya sahabat senglek seperti Aji!

Aji edan!

***

Aji kini tengah berbaring di karpet kamarnya, ditemani dengan tiga anak – anaknya. Aji sangat bersyukur, sebab anak – anaknya, Aji dapat lolos dari terkaman Mama. “Anak – anak Papa enak nggak dirumah Om Sakul?” Aji bertanya menatap mereka lembut. Kelakukan Aji boleh sama dengan setan. Namun, dirinya tak lebih dari manusia yang terlalu mencintai gumpalan lemak dan bulu seperti kucing.

Aji mengusap kepala kucing – kucingnya sayang, ada tiga kucing yang ia pelihara sejak empat tahun lalu. Pertama Kocheng, ini kucing liar yang ditemukan Mas Arya, karena tidak tega Mas Arya membawa Kocheng pulang. Hidup Kocheng ini sulit sekali, awal – awal ia tidak diterima oleh Mama dan Enza, hanya Aji dan Mas Arya. Aji jadi membayangkan rasanya tidak diterima oleh keluarga pasti sakit, oleh karena itu kadangkala Kocheng mendapat kasih sayang lebih dari Aji. Misalnya, saat makan ikan lele, Aji akan memanggil Kocheng diam – diam dan memberi durinya. Dibanding dua kucing lainnya, menurut Aji, Kocheng adalah majikan yang paling mengerti dirinya.

Kucing kedua Aji itu Ncing, Enza yang menghadiahinya. Jika Kocheng adalah kucing kampung, Maka Ncing adalah kucing elite ras Persia. Bulunya memang lebih tebal dan lebih cantik. Dulu saat ditanya, mengapa Enza memberinya Ncing, kata Enza, Kocheng tampak kesepian, dia butuh betinanya untuk menemaninya hidup. Aji sih iya – iya aja, jika dipikir – pikir lagi ada baiknya juga, nantikan Aji bisa jadi juragan kucing kalo Kocheng dan Ncing punya anak banyak. Namun, dua bulan berlalu ditunggu – tunggu, Ncing tak kunjung hamil. Enza pikir Ncing mandul, jadi Aji setuju atas usulan Enza untuk membawa Ncing ke dokter hewan. Usut punya usut, pantas saja Ncing tak bisa hamil, toh, batang sama batang. Enza sialan!

Kucing ketiga Aji itu Cat, kali ini Mas Arya yang menghadiahi Aji di hari ulangtahunnya, bahkan Mas Arya membelikan satu set rumah kucing dan perlengkapannya untuk Aji. Aji benar – benar merasa terharu dengan Mas-nya yang satu itu. Kata Mas Arya Cat itu betina, tak mau tertipu dua kali, Aji memeriksa Cat, yang untungnya benar betina. Awalnya Aji takut Kocheng dan Ncing bakal bertengkar karena memperebutkan si Cat. Anehnya, Cat seolah menjadi tahta tertinggi perkucingan di rumah keluarga Aji. Baik Kocheng maupun Ncing tak satupun yang berhasil mendekati si Cat, kucing blasteran kampung-anggora. Jangan bertanya mengapa nama kedua kucing pertama Aji seperti terdengar plesetan dari kata kucing, itu benar. Bukannya Aji tidak kreatif, hanya saja otaknya benar – benar buntu jika sudah disuruh memberi nama. Sedangkan kucing terkahir Aji, karena betina Aji berpikir untuk menamainya Catharine. Namun, mengingat salah satu nama temannya juga Catharine akhirnya Aji memutuskan untuk menamainya Cat saja, lagipula masih memiliki korelasi yang sama dengan nama Kocheng dan Ncing, sama sama plesetan, bedanya Cat dari bahasa yang berbeda.

“Cat, lo kenapa deh sombong banget ama sih Kocheng dengan Ncing! Kan enak tu punya dua laki!” Aji menanyai Cat yang tenga goleran di perutnya sedangkan Kocheng dan Ncing di sisi kanannya tengah tidur.

Cat mengeong, kira – kira seperti ini arti omongan Cat jika ditranslatekan, “Gue bukan kucing sembarangan kayak janda sebelah ya! Gue mau kawin sama kucing yang gue cinta, nggak kayak blegug dua itu, setan aja nomor dua kalo udah disampingin sama mereka!” Aji terkekeh seolah mengerti perkataan Cat.

“Ntuh dengerin tuh Kocheng, Ncing. Kata si Cat lo berdua bukan levelnya.” Aji tampak seperti orang gila yang kini berbicara pada kucing – kucingnya.

Kocheng dan Ncing mengeong serampak, “KITA JUGA NGGAK SUDI PUNYA BETINA KAYAK DIA!” Aji tergelak keras melihat kucing – kucingnya mengeong bersahut – sahutan sama lain, dalam hatinya Aji memberikan semangat, “Ayo kucing – kucingku selamatkan harga diri kalian!”

“Kocheng, Ncing, sama Cat. Jadi saudara saling menyayangi ya, kayak gue, Mas Arya, sama Enza.” Aji tidak bosan mengingatkan kucing – kucingnya, seolah kucing – kucing itu mengerti perkataan Aji, tidak ada lagi suara mengeong yang sahut – sahutan. Cat mendekat mendekat ke leher Aji, memeluk babunya itu lembut dan mengeong lirih, disusul dengan Kocheng dan Ncing yang mendusel ke tubuh Aji.

“Kalian mah gitu, buat gue terharu mulu ih!” Komentar Aji yang tak lagi di sahuti kucing – kucingnya.

Aji menatap lampu kamar di kamarnya, langit – langit kamarnya penuh dengan foto – foto keluarganya, ada foto Enza kecil yang tengah menangis, foto Mas Arya pertama kali wisuda, Foto Mama, dan Foto kapten keluarganya. Disana juga tertempel mimpi – mimpi Aji. Tidak ada satupun orang di rumah ini yang menyadari bahwa langit – langit kamar Aji begitu penuh, penuh dengan kenangan dan memorinya. Aji tidak pernah mematikan lampunya saat tidur, karena Aji butuh cahaya untuk tidur. Itu bukan karena Aji takut, melainkan kebiasaan yang sejak dulu tak dapat Aji ubah begitu saja. Sedangkan langit – langit kamarnya hanya akan terlihat saat Aji mematikan lampunya.

Aji mengambil dompetnya, disana ada paloroidnya dengan Jingga yang ia ambil tadi saat berjalan – jalan dengan Jingga, Aji tersenyum senang, “Kocheng, Ncing, Cat. Entar lagi kalian punya Mama hehe,” Ujar Aji, matanya perlahan mengatup erat, mengantuk.

‘Jingga, semoga kamu tahu betapa pujangga satu ini begitu dalamnya mencintaimu, tulus dan begitu apa adanya.’ tulisan itu bersanding dengan foto Jingga di sudut langit – langit kamar Aji. Diam – diam saat malam, sebelum Aji pergi terlelap, selalu ada nama Jingga terselip dalam doanya. Jika begini, bukankah Jingga akan merugi menyia – nyiakan orang seperti Aji? Sayangnya tidak, karena kata Aji, mencintai Jingga itu layaknya menyukai langit senja, satu – satunya waktu, dimana kita bisa pulang, dan bahagia melihatnya. Jingga itu ada untuk dicintai bukan untuk dimiliki. Namun, jika Aji memeliki kesempatan, sebentar saja, Aji ingin melihat Jingga berdiri si sampingnya, bukan sebagai teman dekat atau manusia yang memiliki pandangan setara, melainkanya menjadi miliknya, satu – satunya teman hidupnya.

Malam itu, Kocheng, Ncing, dan Cat menjadi saksi bisu, cinta seorang Setiaji Archandra kepada seorang perempuan bernama Jingga Sanarati. (bersambung)

Sumber: