Bagian 19: “Sampai Kapan Pura-Puranya?”

Bagian 19: “Sampai Kapan Pura-Puranya?”

Ary--

“Karena bahagia nggak datang dari mereka yang putus asa”

-Agana

>>>***<<<

“Lo bolos?” Agana menatap Jaya yang kini sibuk dengan mainan logonya, sedangkan Agana hanya terus menghela nafas bosan sembari menatap Jaya bermain. Jaya menggeleng, “Nggaklah! Kalo gue bolos gue yakin kepala gue nggak bakal aman sama si Rena!”

Agana melempar kotak lego yang ada di dekat kakinya, “Lo sembarangan aja manggil Rena – Rena, gitu gitu dia tua lima tahun dari lo, Jaya!”

Jaya menyatukan alisnya, “tapi dia nggak pernah manggil gue adek!” Kesal Jaya dengan bibir yang sudah komat – kamit.

“Ya, gimana dia mau manggil loh adek, lo kalo dipanggil adek sering ngecosplay jadi orang pasien RSJ!”

Jaya mendelik kesal, “Gue berlaku sewajarnya, adek itu manja. Wajar dong gue manja – manja sama kakak gue! Sewot banget deh nih cewek satu!”

“Nggak gitu juga konsepnya bangsul! Bumi nggak gitu tuh!”

“Gimana Bumi mau gitu, orang dia punya bentukan kakak kayak elo! Siapa yang tahan punya kakak ke elo!”

Agana mengembungkan pipinya kesal, “Memangnya Rena mau punya adek kek elo? Dia juga nyesal kali punya adek kek lo, kalo seandainya bisa resign, gue yakin Rena udah resign jadi kakak lo dari lama!”

“Sembarangan Rena – Rena, kakak goblok! Menghormati yang lebih tua!”

“Loh kok sewot, Rena sendiri nggak masalah!”

“Nyari ribut lo?!”

“Kenapa nggak senang!”

“Sini baku hantam!”

“Siapa takut!”

Agana bersiap melompat kearah Jaya. Namun, baru ancang – ancang sepasang tangan menahan tubuhnya erat, memeluknya dari belakang. Agana mendecak kesal, menatap orang yang sudah menahannya, dan tampaklah wajah bodoh dengan senyuman lebarnya, “Gue tau lo kuat, tapi kalo lo nekat, lo bisa sekarat.”

Jaya menjulurkan lidahnya mengejek Agana yang tak dapat menyerangnya, Agana menatap Jaya penuh dendam, namun karena Bumi memperingatinya, Agana harus menahannya. Lain kali, akan Agana pastikan Jaya benar – benar mati ditangannya.

“Tunggu aja!” Desis Agana pelan tidak direspon oleh Jaya. Bumi yang diabaikan sedari tadi menghela nafas lega karena Agana tidak melanjutkan aksinya, jantungnya berdetak lebih cepat dan kuat saat melihat Agana yang nekat menyerang Jaya dengan tubuhnya yang penuh luka akibat Mamanya semalam. Karena rasa terkejut itu, Bumi menyisakan sedikit rasa sakit di dadanya. Bumi meniti kondisi Agana dari kepala hingga ujung kakinya, Agana tampak lebih manusiawi dari semalam, luka –lukanya juga di balut perban dengan rapi. Bumi menyembunyikan obat – obatan yang ia bawa di belakang tubuhnya, tersenyum melihat Agana yang terlihat membaik.

“Udah ah! Gue mau mandi, males banget ketemu lo!” Agana meninggalkan Jaya dan Bumi berdua dengan kaki yang dihentak – hentak.

“Dih! Siapa juga yang mau ketemu orang kayak lo!” Kesal Jaya bersamaan juga meninggalkan Bumi sendirian, bahkan Bumi dapat mendengar pintu rumahnya yang dibanting keras oleh Jaya, sungguh tetangga tidak tau diri! Dan naasnya Bumi selalu menjadi orang ketiga di antaranya.

Bumi merapikan mainan lego bekas Jaya tadi, sungguh Jaya benar – benar menjadi tamu yang terlalu budiman, sudahlah menumpang bukannya di bereskan malah ditinggalkan, berserakan pula. Belum lagi, kehadiran Jaya hanya untuk memancing keributan di rumahnya bersama Agana. Dua muda – mudi itu layaknya kucing dan anjing, Jaya yang anjingnya. Karena Bumi tidak setega itu meng-anjing-kan kakaknya.

“Untung gue anak baik hati yang rajing menabung, tidak sombong, serta rendah hati!” Gumam Bumi memungut lego terkahir yang ada di atas karpet, “Coba kalo nggak! Udah gue santet tu si Jaya, datang nggak diundang, pulang nggak diantar. Udah kek jelangkung! Mana bikin sial!” gerutu Bumi sendirian. Agana yang tengah melilit rambut basahnya dengan handuk, menatap heran Bumi yang berbicara sendiri seperti orang gila dari arah tangga.

Agana menghampiri Bumi, dan menepuk pundak adik laki – lakinya pelan. “ANJING!” Umpat Bumi, yang dibalas pelototan kaget oleh Agana, rahangnya hampir jatuh mendengar umpatan Bumi untuknya, menjewer telinga Bumi kuat.

“Sejak kapan lo berani ngeanjing – anjingin hah? Ngebet banget jadi anjing gitu?!”

Bumi meringis menahan lengan Agana agar tidak menjewer telinganya lebih kuat, “Gue kaget tau! Lo datang nggak ada suara tiba – tiba nepuk pundak! Siapa yang nggak kaget coba gue tanya?!”

Agana mendengus, “ya nggak usah lo anjingn juga, babi! Gimana kalo yang tadi itu mama bukan gue.”

Bumi terdiam, jika mama yang mendengarnya, tidak akan berdampak apa – apa pada Bumi. Namun, Aganalah yang akan menerima semua kemarahan mamanya, dengan alasan yang terus sama, Agana gagal menjaga Bumi. “Lo sendiri ngebabi-in, gue nyontoh yang lebih tua.” Balas Bumi.

Agana mencubit perut Bumi kuat, “Udah tau salah jangan dicontoh lah!”

“Udah tau salah jangan dilakuin lah!” Ujar Bumi tak mau kalah. Rasanya Agana ingin sekali menempeleng kepala adik satu – satunya ini. Tapi ia tunda dulu, karena tujuannya memastikan wajah adik tidak tau dirinya itu tanpa luka dan lebam.

Agana menangkup wajah Bumi, tidak ada lebam, merah dan bekas apapun. “pipi lo sakit nggak bekas mama semalam?” Tanya Agana menekan pipi Bumi pelan.

Bumi menggeleng, “Nggak, biasa aja. Nggak lebam kan? Berarti gapapa.” Agana menangguk, menekan kembali pipi Bumi lebih kuat.

“Yakin nggak sakit?” tanya Agana memastikan sekali lagi. Bumi menarik tangan Agana dari pipinya, “Dibilangin juga gapapa! Lebay deh lo!” Ujar Bumi. Sejujurnya, sentuhan yang diberikan Agana di pipi Bumi terasa sangat sakit, Bumi berusaha untuk menampilkan raut seolah dirinya baik – baik saja, padahal dirinya ingin berteriak kerasa saat Agana menyentuh pipinya lebih kuat kedua kalinya. (bersambung)

Sumber: