Bagian 14: “Siapa Aku Untukmu?”

Bagian 14: “Siapa Aku Untukmu?”

Ary--

“Setelah lamanya hubungan ini terjalin, mengapa pertanyaa ini harus diakhir saat kita sama – sama di ujung tanduk. Siapa aku bagi dirimu? Begini rasanya membunuh tanpa menyentuh, hidup selalu saja bercanda ya?”

-Agana (Remaja Overthingking tahun ini)

>>>***<<<

Agana menatap Bumi heran, di hari minggu disaat jam kamarnya masih menunjukkan pukul 6 pagi, Agana sudah melihat Bumi bersiap – siap dengan hoodie dan jeans. Oh, dan jangan lupakan satu tas besar yang Agana tak tau apa isinya tersampir di pundak Bumi. Biasanya, baik Agana maupun Bumi akan menghabiskan weekend mereka dengan tidur hingga jam sepuluh pagi, lalu bangun dan merecoki tetangga sebelah mereka, siapa lagi kalo bukan Jaya.

“Lo mau kemana sih?” Agana menguap panjang, suara gaduh Bumi bersiap – siap membangungkannya dari mimpi indahnya yang tengah berkencan dengan aktor drama korea favoritnya, Ji Chang Wook.

“Mau nemuin temen,”

“Tumben? Lama nggak?”

“Lumayan, kenapa?”

“Kalo lama banget, gue seharian di rumah Jaya.”

Bumi mengangguk, “Mama pulang tadi malam?” Tanyanya.

Agana mengamati sekitarnya, tidak ada jejak bahwa mamanya pulang tadi malam, “kayanya nggak” Jawab Agana. Agana tidak akan bingung sebab sudah menjadi kebiasaan mamanya sejak dua tahun lalu, menghabiskan waktunya lebih banyak di kantor.

“Ada apa sih? Kok bawaan lo banyak banget.” Tanya Agana.

“Acara, biasalah.” Jawab Bumi, beranjak setelah selesai mengikat tali sepatunya.

Agana memicingkan matanya, menatap curiga pada Bumi, “Lo nggak mabuk – mabukan? Rokok ataupun narkoba kan?”

Bumi menjitak kepala Agana kuat, “Sshh…sakit bego!” Kesal Agana menendang bokong Bumi.

“Ya lo seudzon mulu sama gue, emang gue pernah pulang bau rokok? Pernah pulang sambil mabok? Ada lo liat gejala pecandu di gue?!”

“Ya mana tahu mana tempekan! Manusia kepala aja sama hitam, otak sama hati nggak ada yang tau!” Sanggah Agana.

“Iya, tapi hati sama otaknya nggak ada yang sebusuk punya lo!” Bumi menuju halaman depan rumahnya, motornya terpakir rapi siap dinaiki, dibelakangnya Agana mengintil, “Hati – hati di jalan,” Pesan Agana kala Bumi bersiap pergi.

Bumi mengacungkan jempolnya, “Lo juga hati – hati di rumah, jaga diri, jangan macem – macem sama Jaya!”

Agana ingin membalas perkataan Bumi, namun seolah tau isi pikiran Agana, Bumi segera menancap motornya meninggalkan Agana dengan mulut terbuka, belum sempat mengatakan apapun untuk membalas perkataan Bumi.

“Mau kemana si Bumi?” Suara berat Jaya menyapu gendang telinga Agana, jarak yang terlalu dekat membuat Agana bisa merasakan nafas hangat Jaya ditengkuknya. “Bangsat!” Kaget Agana, mendapati Jaya di belakangnya dengan mata mengerjap bingung. Ingin sekali Agana menginjak wajah inconnect tetangga sialan yang merangkap sebagai sahabatnya ini.

“Lo ngapain bisik – bisik ke setan gitu hah?!” Tanya Agana, Jaya mengangkat kedua bahunya acuh, “Nggak salah liat lo, perasaan yang gue ajak ngomong deh yang setan.” Balas Jaya santai. Agana bersiap menerjang Jaya, namun seolah paham isi otak Agana, Jaya langsung menyetil dahi Agana kuat.

“Sshhh….sakit!” Ringis Agana mengusap dahinya.

“Tahan dulu emosi lo! Gue laper, Kak Rena nitip ini tadi sama gue sebelum pergi, katanya mama lo nitip pesan buat ngingatin lo sarapan, jadi berhubung gue juga belum, gue beliin sekalian buat lo sama Bumi.” Jelas Jaya mengangkat plastik berisi bubur di tangannya.

Agana mendengus pelan, “Sejak kapan lo disini?” Tanya Agana di belakang Jaya yang kini memasuki rumahnya. “Sejak lo mangap – mangap nggak jelas kek ikan buntal.”

Agana menarik nafasnya lagi, “Yang waras harus ngalah!” Pikirnya. Biarkan Jaya dengan kata – kata tajam nan nyelekitnya, lagipula ini bukan pertama kalinya Agana mendapati kata – kata buruk itu dari Jaya, bahkan rasanya Agana kenyang mendengarnya sejak lima tahun lalu, saat dia pertama kalinya bertemu Jaya.

Agana mengambil mangkuk, menyiapkan bubur yang dibawa Jaya. Keduanya sama – sama diam, Agana yang sibuk dengan peralatan makan dan Jaya yang duduk tenang menunggu Agana untuk makan bersama.

“Lo nggak bosan apa makan bubur tiap pagi? Yang lain kek, lontong gitu, nasi gemuk, gado – gado.” Agana menyuapkan satu buburnya menunggu Jaya yang masih sibuk memisahkan kacang dan daun bawang di mangkuknya.

Jaya menggeleng, “Nggak tuh, biasa aja.” Jawab Jaya menatap Agana dengan pandangan menilai, “Gue baru tau ada orang yang nggak setau diri lu, udah dibeliin, bukannya makasih malah milih – milih.”

Agana tersedak, mengambil gelas di depannya dan mengisi air dengan terburu – buru, bahkans sebagian airnya tumpah di meja makan. Jaya menatapnya acuh, sedangkan Agana sedang menetralkan nafasnya dengan wajah memerah dan mata yang berair.

“Makan bubur aja bisa keselek gitu,” Gumam Jaya sangat pelan.

“Lo nggak ikhlas ya ceritanya ngasih gue nih bubur.” Sungut Agana, yang dibalas Jaya dengan tatapan datar, “Yang ngasih dan beliin kak Rena, jadi soal ikhals dan nggak ikhlasnya tanyain sendiri.”

Dering telepon memutuskan pertengkaran Agana dan Jaya, asalnya dari telepon Agana. Agana mengernyit heran, tumben sekali telponnya berbunyi, Agana mengambil ponselnya, menghidupkan speaker tanpa melihat siapa yang menelpon.

“Halo?” Sapa Agana.

“Agana!!” Suara di balik telepon terdengar dengan ceria, “Kita boleh nggak kerumah lo!” Tanya si penelpon.

“Rosa? Emang lo dimana? Sama siapa?” Tanya Agana mengenali suara penelpon. “Gue sama Rayhand di depan rumah lo!” Agana mendengus keras dan berlari ke pintu rumahnya yang hanya dipandangi Jaya cuek, melanjutkan sarapannya.

“ROSAAAA!!!!” Agana berteriak senang memeluk Rosa yang tersenyum lebar di depan pintu rumahnya, sedangkan satu mahkluk lagi yang berdiri diabaikan begitu saja. Rayhand memandang malas dua ratu drama di depannya.

“Nggak usah lebay deh lo pada! Kita ketemu tiap hari di sekolah.” Komentar Rayhand, menyingkarkan dua dedemit jejadian yang masih berpelukan ria dia hadapannya. Rayhand memasuki rumah Agana dan segera menjatuhkan dirinya di sofa rumah Agana, berbaring dengan nyaman memejamkan matanya. Sejujurnya ia masih mengantuk, namun kembarannya menganggunya untuk bangun lebih pagi, dan menyeretnya paksa menuju rumah Agana.

Rayhand merasakan sofanya bergerak pelan, tandanya ada yang menghampirinya dan duduk tak jauh dari posisinya. Awalnya ia pikir itu Agana atau Rosa, namun mendengar suara cempreng Agana dan Rosa masih diluar bergosip ria. Rayhand membuka matanya.

“LO?!”

***

Kini empat remaja itu tengah duduk serius di lantai ruang tamu rumah Agana, meja di tengah – tengah mereka menjadi pembatas satu sama lain. Keadaanya cukup tegang dengan Jaya dan Rayhand yang memasang aura permusuhan yang terasa sangat kentara.

“Hmm..kalian udah saling kenal?” tanya Agana memecah kehenigan. Menatap Rosa, Rayhand dan Jaya bergantian.

“NGGAK!” Jaya dan Rayhand kompak menjawab, lalu membuang muka satu sama lain setelahnya. Rosa mengedipkan matanya pada Agana, memberi kode pada Agana bahwa bukan ranah mereka untuk mencapuri urusan dua laki – laki itu. Agana yang paham setelahnya hanya mengangguk sekilas.

“Jaya mereka temen gue di sekolah, ingat si kembar yang gue ceritain minggu lalu,” Jaya menoleh pada Agana, tidak seperti biasanya yang mendebat Agana, Jaya hanya mengangguk diam. Suasana kembali canggung untuk Agana, Rosa tersenyum maklum, namun tak dapat banyak bicara juga.

“Enggg….Ini Jaya, tetangga gue yang gue ceritain di sekolah kemaren.” Agana mengenalkan Jaya singkat. “Jadi ini yang lo bilang tetangga sialan lo itu, wajar sih nggak heran gue.” Tiba – tiba Rayhand berucap dengan sinis menatap Jaya tajam penuh dendam. Jaya mengepalkan tangannya kuat di bawah meja yang ditangkap oleh netra Agana.

“Dan gue juga nggak heran kalo dua kembar nggak jelas yang diceritain Agana itu kalian.” Balas Jaya tersenyum meremahkan yang mengundang sepercik amarah Rayhand. Suasana diantara keduanya kian memanas, menatap satu sama lain menantang. Agana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus berbuat apa. Sedangkan Rosa memutar kedua bola matanya malas, melayangkan dua pukulan di masing – masing dahi Jaya dan Rayhand.

“Sshh….Lo ngapain sih?!”

“Arggh, sakit bego!”

Keduanya meringis bersamaan menatap Rosa kesal, seandainya tatapan bisa membunuh, Rosa yakin kini tubuhnya sudah berdarah – darah dan tergelatak tidak bernyawa dengan mengenaskan karena kedua orang itu. Rosa tersenyum lebar, menampilkan senyumnya yang paling manis, hingga kedua lubang di pipinya juga terlihat.

“Apapun urusan kalian, gue datang ke sini buat main sama Agana. Jadi, lo Jaya lupain sesaat masalah lo sama Rayhand, ayo main bareng. Dan lo Ray, kita kesini tamu dan temen Agana, jangan cari masalah, temen Agana temen kita juga.” Agana menangguk semangat mendengar pernyataan Rosa, yang dibalas dengusan kasar oleh Jaya dan Rayhand.

Jaya berdiri tegak, “Gue nggak pernah sudi temenen dengan salah satu brengsek kayak dia!” meninggalkan Rosa dan Agana. Rayhand turut berdiri dari duduknya, “dan siapa bilang gue sudi temenen sama bajingan kayak lo!” turut meninggalkan rumah Agana. Agana dan Rosa  mengerjap bingung, menatap kepergian keduanya dengan wajah cengo.

“Mereka kenapa?” tanya Agana pada Rosa yang dibalas gelengan kepala oleh Rosa, tanda ia juga sama tak tahunya. Namun senyumnya menyiratkan banyak hal.

“Apapun masalah mereka, itu urusan mereka. Kita cuma perlu ngambil pisau kalau mereka niat bunuh- bunuhan terus jadi wasit dipinggir lapangan.” Agana menjitak kepala Rosa mendengarnya.

“Bumi kemana?” Tanya Rosa menatap sekeliling rumah Agana namun tak mendapati ekstensi adik laki – laki Agana yang muda setahun darinya itu. “Pergi, nggak tau kemana.” Jawab Agana yang diangguki oleh Rosa.

“Tapi mereka benar – benar nggak apa – apa kan?” Tanya Agana lagi, Rosa mendengus pelan menatap Agana, “Mereka dewasa Agana, apapun urusan mereka itu ya terserah mereka.” Jawab Rosa malas beranjak meninggalkan Agana menuju dapur.

“Tapi gue bener – bener khawatir,” Ujar Agana lagi, Rosa terdiam sesaat dan tersenyum manis namun terkesan sinis, “Memangnya lo siapa mereka? Jaya cuma tetangga lo dan Rayhand temenen sama lo karena kita dekat. Jangan jadi orang yang seolah tau luar dalam mereka, di saat lo nggak tau apa – apa tentang mereka.”

Agana terdiam, tersenyum kecut memandangi punggung Rosa yang menghilang di balik dinding dapur. Alih – alih bertanya siapa mereka untuk Agana, Rosa malah bertanya siapa Agana bagi mereka. Bukankan itu perbedaan yang kentara dalam bahasa, tentang sebuah prioritas dan hubungan dalam pendangan seseorang. Jika Rosa bisa memiliki pikiran seperti itu, berarti orang lain turut punya. Sepaputnya Agana bertanya siapa dirinya bagi Rosa. Namun lidahnya kelu, pertanyaan tentang siapa dia berputar memenuhi benaknya. Perkataan Rosa mencubit hatinya jauh hingga Agana merasa bahwa sakit itu tidak akan hilang dengan cepat, namun disisi lain Rosa tidak salah. Memunculkan tanya yang kini bercokol di kepalanya.

Siapa Agana dimata orang – orang?

 

 

Sumber: