Bagian 10: “Tangis yang Menjadi Rumah”

Bagian 10: “Tangis yang Menjadi Rumah”

Ary--

JAYA  dan Rena mengempar di karpet ruang tamu, Ayah dan Ibu sudah pergi sejak setengah jam lalu, Agenda biasa orantuanya di hari libur, menghadiri acara undangan. Jaya pernah bertanya mengapa ibunya begitu rajin menghadiri Acara undangan terutama pernikahan.

“Kakak kamu itu udah gede, Jaya. Kalo kakak kamu nikah, acara yang udah ibu datangin nanti bisa ibu undang balik,” Saat itu Jaya tidak terlalu memikirkannya. Namun, saat ini pikiran itu terpintas di wajah Jaya.

“Kak, lo udah punya calon?” Tanya Jaya, Rena yang sedang asyik berchatingan entah dengan siapa sembari memakan keripik kentang tersedak mendengar pertanyaan Jaya. Jaya memutar bola matanya malas, berdiri, mengambil air untuk kakaknya, “Harusnya gue biarin aja lo mati keselek nggak sih!” Ujar Jaya meihat kakaknya yang minum air sudah seperti orang kesetanan.

“Mulut lo! Minta dicabein banget!” Balas Rena setelah lega dari acara tersedaknya. Jaya mecibir, Rena dan kealayannya ini siapa yang mau sih?

“Lo nanya kenapa gitu tiba – tiba deh? Kan gue kaget!” Protes Rena, Jaya menatap Rena heran, “Memangnya pertanyaanya aneh? Kan wajar gue nanya, lo udah dua lima.” Balas Jaya.

Rena hanya cengengesan tidak jelas, “Hmmm…jawab nggak ya?” Goda Rena pada Jaya, “Kalo gue punya lo kenapa? Takut nggak disayang lagi ya lo sama gue? Ngaku lo!” lanjut Rena terkikik geli yang hanya dibalas tatapan datar oleh Jaya.

Jaya tidak lagi menggubris Rena, kembali berbaring di samping Rena dan menutup matanya dengan kedua tangannya, “Menurut lo gue udah punya apa belum?” Tanya Rena menatap Jaya.

“Ada, tapi lo sama dia nggak bisa sama – sama,” Canda Jaya terkekeh, namun tak ada sahutan sebal seperti biasanya, untuk pertama kalinya Rena diam menanggapi candaanya, terlalu serius untuk Jaya sekarang.

“Kak?” Panggil Jaya menyenggol bahu Rena pelan, sebab kakaknya itu sibuk melamun. Rena tersenyum culas, “Lo nebak doang, atau keliatan banget ya gue gitu?” Bersamaan dengan perkataannya, setetas air mata turut jatuh di pipi Rena.

Jaya mengubah posisinya menyamping menghadap Rena, “Gue bakal tidur, nangis yang puas sebalum Ibu sama Ayah datang,” Jaya memejamkan matanya. Jaya hafal dengan Rena yang sangat pantang menangis, bahkan saat Rena jatuh dari motornya dan tak bisa berjalan, Rena masih bisa tersenyum cerah, mengajaknya bermain seolah tak pernah terjadi apa – apa. Kakaknya bukan perempuan yang suka dipeluk, biarkan Kakaknya merasa kuat dengan caranya.

Jaya dapat mendengar isakan Rena yang semakin keras, sudah berapa lama sejak terkahir kali Jaya mendengar kakaknya menangis? Apakah itu saat Jaya terkena demam berdarah di rumah sakit? Jaya tidak membuka matanya sama sekali, namun telinganya dengan handal mendengar seluruh tangisan dan ucapan Rena.

“Ya, hari itu gue bawa dia buat ketemu ayah sama ibu, waktu itu gue bener – bener bahagia, dan berharap ayah sama ibu bisa nerima dia apa adanya dengan segala kekurangannya. Dan lo tahu, Ya? Disaat gue merasa sangat beruntung dan bangga punya orangtua kayak ayah sama ibu, untuk pertama kalinya gue kecewa dengan perlakuan ayah sama ibu.” Rena terisak pilu, suaranya parau. Jaya adalah orang yang sangat mudah sentimental, mendengar Rena, membuat Jaya turut ingin menangis, bahkan Jaya dapat merasakan, air matanya turun di sisi wajahnya.

Rena menyenggol lengan Jaya, tanda bahwa Jaya sudah boleh membuka matanya, “Lega?” Tanya Jaya. Rena menangguk, tertawa pelan dengan wajah sembab dan basah.

“Kok lo makin lucu sih Ya? Gue yang ngerasain ngapain lo yang ikut nangis?” Tanya Rena mencubit pipi Jaya, biasanya Jaya akan protes dan membalas dengan cubitan pelan di kaki Rena, namun kali ini ia membiarkannya.

Jaya hanya diam, “Ya, lo ngomong dong! Kalo lo nggak ngomong gue ngerasa aneh!” Sungut Rena. Jaya masih diam menatap Rena, pikirannya berkenal, tentang bagiamana rasanya ia bertukar peran dengan kakaknya? Apa ia masih bisa setegar dan sekuat Rena? Apa ia masih berdiri di tengah tekanan? Bahkan Jaya yakin, bahwa saat ini isi kepala Rena lebih berisik, banyak hal yang ingin dikatakan Rena, namun semuanya terlalu sulit dan berantakan, sekuat apapan usaha Rena mengurainya, Rena hanya menemui titik buntu.

Jaya menangis pelan, “Sekali lagi, Jaya gagal ya buat jadi garda terdepan untuk kakak?”

Suasana pagi menjelang siang itu terasa muram, dalam rumah yang hangat dan nyaman itu ada dua hati yang menangisi bagaimana kehidupan ini begitu keras menimpa mereka, mengajarkan mereka untuk menerima apa adanya. Untuk kesekian kalinya, Jaya benci pada dirinya yang lemah. (bersambung)

 

 

 

Sumber: