Bagian 3 : “Yang Senantiasa Ada”

Bagian 3 : “Yang Senantiasa Ada”

--

Bukannya nggak berteman, cuma mager aja gitu ketemu manusia penjilat kaya mereka

-Rosa (Remaja anti drama tahun ini)

***

Agana melesat begitu saja, memakirkan sepedanya, maksudnya sepeda hasil curiannya ralat sepeda pinjamannya sembarangan di halaman sekolah, dan berlari menuju kelasnya. Demi tuhan, Agana merasa nafasnya sudah tak ada lagi pada dirinya. Seragamnya basah dan lepek akibat berlari tadi dan harus mengayuh sepeda dengan kecepatan maksimal. Kakinya mati rasa, dengan wajah pucat dan rambut berantakan.

Agana berbaring di depan pintu kelas, bodo amat dengan pandangan orang yang mungkin saja kini menilai dirinya seperti gembel. Teman – teman sekelasnya tampak asyik dengan kegiatan masing – masing, ada yang belajar, menggosip dan main game. Agana harusnya bergabung dengan lingkaran teman – temannya yang sedang belajar, sebab Agana tau mereka yang belajar hanyalah mereka yang harus remedial atau mengikuti susulan.

Agana benar – benar lupa harus mengikuti ujian susulan matematika, bahkan tadi malam ia tak belajar sama sekali, bagaimana nanti ia harus menjawabnya, astaga, rasanya hari Agana semakin suram saja.

“Lo habis kena bencana angin topan ya, Na?” Tanya Rosa menghampiri Agana dengan raut wajah bingung, mengusap wajah basah Agana dengan tisu dan merapikan rambut sahabatnya. Agana tidak menjawab, selain helaan nafas yang masih tersengal dengan mata terpejam, Agana tidak memberikan respon apapun. Rosa mencoba pengertian, memberikan Agana waktu untuk menetralkan dirinya.

“Na, lo baik – baik aja kan?” Tanya Rosa kembali, masih tidak ada respon. Rosa mengguncang tubuh Agana pelan, berusaha menyadarkan Agana akan kehadirannya. Wajah Agana pucat, membuat rosa semakin panic, takutnya Agana sudah tidak bernafas, Rosa kan takut jadinya.

“Agana, lo nggak mati kan?” Rosa bertanya panik, kali ini berusaha menggucang tubuh Agana dengan lebih kencang. Mengecek detak jantung Agana dan hidung Agana, memastikan sahabatnya masih bernafas. Agana berdecak kesal, membuka matanya lesu, “Gue lagi berjuang hidup, bisa nggak usah berisik?!” Ujar Agana. Rosa menghela nafas lega, dan duduk di sebelah Agana yang masih setia mengempar di pintu kelas.

Agana cukup senang dengan kehadiran Rosa walau dirinya tampak cuek. Agana bukan tipe orang yang bisa berteman dengan siapa saja, bahkan selama jenjang sekolah menengah atasnya, Agana hanya berteman dengan Rosa dan Rayhand.Bahkan Agana ragu, hubungannya dengan Rosa dapat dikatakan sebagai teman atau tidak? Rosa yang tidak ingin kesepian dan Agana yang biasa saja ada atau tidaknya kehadiran Rosa.

Agana bingung, bagaimana perempuan dengan lama lengkap Rosayana Adinda Putri bisa tidak memiliki tema? Padahal Rosa senormalnya siswi sekolah. Tidak terhitung berapa banyak prestasi yang sudah Rosa sumbangkan untuk sekolahnya, Rosa juga cantik dengan mata boba dan tubuh langsing idelanya, tubuh idaman wanita sekali. Terlepas benar atau tidaknya rumor Rosa adalah sosok yang sangat manja dan bertele – tele, Agana sama sekali tidak mendapatinya. Bahkan Rosa sendiri terlihat sangat mandiri di mata Agana. Rosa mendudukan dirinya di sebelah Agana, mengipasi wajah Agana yang masih basah dengan keringat, walau tidak terlalu berdampak, Agana tersentuh dengan perhatian Rosa.

“Weh, ngapain nih lo pada ngempar disini?” itu suara Rayhand, Rayhand Saputra. Laki – laki dengan mata sipit itu terlalu rusuh dan pecicilan, Agana cukup terkejut bahwa teman laki – lakinya itu menjabat sebagai ketua kelasnya selama tiga tahun. Bahkan, saat ada pergantian struktur kelas, Rayhand terus bertahan dengan polling suara paling banyak sebagai ketua kelas. Kedekatan Agana dan Rayhand cukup unik, kedekatan mereka tercipta dengan sifat semborono Rayhand yang menyatakan perasaannya pada Agana saat hari pertama pengenalan lingkungan sekolah sebagai siswa baru. Untuk pertama kalinya, Agana bertemu orang se-tidak waras Rayhand.

“Ayang Ray kenapa nih?” Tanya Rayhand pada Agana, namun matanya mengerling pada Rosa. Agana memutar bola matanya malas menanggapi Rayhdan sama saja berbicara dengan orang gila. Agana duduk, berdiri bersiap meninggalkan Rayhand dan Rosa yang duduk, “Mau kemana lo? Gue baru aja duduk anying!” Protes Rayhand, menarik tangan Agana untuk duduk kembali. Agana mendecak kesal, menuruti Rayhand. Duduk bertiga melingkar, tampak seperti aparat negera yang tengah memusyawarahkan keadialan di negeranya.

“Entar gue pukul dibilangnya nggak sayang binatang!” Jawab Agana membalas Rayhand. Sang empu yang dimaksud hanya tertawa kemudian mencolek dagu Agana, “Yang kalo ngambek makin cantik, buat Aa makin sayang deh.” Goda Rayhand, terdengar kekehan Rosa.

Agana menaikkan sebelah alisnya, menatang Rayhand kembali, “Yang makin hari makin ganteng, bapernya udah nggak main – main nih aa,” Balas Agana bercanda, Rayhand langsung menyentuh dadanya dramatis seolah perkataan Agana menembus jantungnya.

“Ros, jangan diem mulu, lo nggak mau godain gue? Mumpung gue masih free,” Ujar Rayhand, Rosa berlagak muntah, “Muka sepeng, mata sipit, bibir jongos kek itu apanya yang mau digoda? Lihat lo aja gue enek!”

Agana tertawa terbahak mendengar Rosa, satu sisi Rosa yang lain, setiap perkataan yang keluar darinya tidak pernah gagal membuat Rayhand terdiam. “Nggak asyik ah sama Rosa, bawaanya emosi melulu.” Kesal Rayhand mencebikkan bibirnya kesal.

Rayhand mengambil kaca dari saku celananya, “Masih ganteng ah gue! Mata rosa nih slepet kagak bisa liat cogan,”

“Iyain biar cepet,” Kompak Rosa dan Agana.

“Ruang susulan dimana?” Tanya Agana menanyakan alasan mengapa ia harus ada di sekolah, “Seruangan sama yang remedy, entar bareng gue aja.” Jawab Rayhand yang diangguki Agana.

Beberapa saat, hening mendominasi mereka, Agana sibuk dengan pikirannya, Rosa yang melamun dan Rayhand yang tampak bingung. Hingga hela nafas Rosa terdengar, “Gue pengen cepet – cepet lulus, biar rasanya semua yang ada disini hilang,” Ujar Rosa menunjuk dadanya, maksdnya hatinya.

Rayhand memringkan kepalanya bingung, lalu mengangguk setelah paham maksud Rosa, berbeda dengan Agana yang hanya diam mendengarkan. “Bahasan kita bertiga kalo ngumpul berat banget ya,” Komentar Rayhand

“Nggak berat, bukan manusia namanya.” Balas Agana

“Berarti kalo bahasan kita ringan, setan gitu?” Tanya Rayhand polos.

Agana tersenyum kesal, “Iya, lo setannya!” mendengarnya Rosa terbahak keras dan Rayhand dengan tampang bodohnya. Setelahnya Agana turut tertawa, jauh di sudut hati kecilnya, ada secercah harapan yang Agana panjatkan, bahwa tawa yang kini merek ciptakan akan terjadi kemudian, walau entah kapan, semoga kedepannya ini senantiasa selalu ada. Agana mungkin mengatakan ia tak pernah butuh mereka, namun perlahan Agana juga kesepian, ia mencintai mereka, menyangi mereka, layaknya teman, Agana ingin diandalkan, walau hanya menjadi pendengar, Agana ingin hadir, memberi kenangan, hingga nanti di masa depan, Agana bisa mendengar ucapan, lama tidak jumpa kawan. (bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: