Workshop Kulintang Kayu Hidupkan Semangat Pelestarian Musik Tradisional di Museum Siginjei
Praktek pembuatan alat musik tradisional kulintang kayu oleh siswa SMA--
JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID – Dalam rangkaian kegiatan Pameran Kenduri Swarnabhumi, UPTD Museum Siginjei menggelar Workshop Alat Musik Tradisional Kulintang Kayu dengan mengusung tema “Museum di Hatiku, Lestari Budayaku”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada 26–27 September 2025 ini diikuti oleh sebanyak 50 pelajar SMA se-Kota Jambi.
BACA JUGA:BRI Peduli Ajak Generasi Muda Jaga Ekosistem Sungai dan Peduli Lingkungan
Workshop ini dirancang sebagai upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan kekayaan musik tradisional Nusantara, khususnya kulintang kayu yang menjadi ciri khas budaya Jambi. Pada hari pertama, para peserta menerima materi seputar sejarah, filosofi, hingga teknik memainkan kulintang kayu. Sementara pada hari kedua, mereka diajak langsung membuat alat musik tersebut mulai dari memilih jenis kayu, merangkai bentuk, hingga mencari nada yang tepat.
BACA JUGA:Kota Jambi Bahagia Bershalawat, Menghidupkan Syiar dan Menjemput Berkah

Narasumber menyampaikan materi seputar sejarah, filosofi, hingga teknik memainkan kulintang kayu--
Kasi Bimbingan dan Publikasi Museum Siginjei, Haristo Ariguna, menjelaskan bahwa di akhir rangkaian kegiatan digelar penampilan kolaborasi peserta. Mereka memainkan sekaligus menyanyikan lagu dengan iringan kulintang kayu hasil karya mereka sendiri. “Kami berharap generasi muda tidak hanya mengenal kulintang kayu sebagai warisan budaya, tetapi juga memahami proses pembuatannya. Dengan begitu tradisi musik daerah dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
BACA JUGA:Warga Geragai Temukan Mayat Mengambang di Sungai Lagan

Siswa SMA yang mengikuti Workshop Alat Musik Tradisional Kulintang Kayu--
Azhar MJ, pemateri dalam kegiatan tersebut, yang juga dikenal sebagai inisiator musik daerah Jambi, menekankan pentingnya menjaga eksistensi kulintang kayu. Menurutnya, kulintang khas Jambi memiliki karakteristik unik karena menggunakan nada kura dengan tangga nada pentatonik, yakni sistem nada lima bunyi yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur.
BACA JUGA:Agus Suparmanto Terpilih Jadi Ketum PPP 2025-2030

Foto bersama usai kegiatan--
Dalam penjelasannya, Azhar juga memaparkan proses pembuatan kulintang kayu. Bahan baku biasanya menggunakan kayu mahang, kayu cendangkring, atau kayu tutut yang memiliki serat lurus agar mampu menghasilkan resonansi bunyi yang baik. Proses pembuatan diawali dengan pemotongan kayu sesuai ukuran, dilanjutkan penyetelan nada.
Pemotongan bagian kayu dapat menaikkan nada, sementara penipisan justru menurunkan nada. Setelah itu, nada dicocokkan dengan standar internasional dan disempurnakan menggunakan aplikasi penyetel modern.

Penampilan kolaborasi peserta memaikan Alat Musik Tradisional Kulintang Kayu--
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



