DISWAY: Luhut Merit
Luhut dikenal pula dengan julukannya sebagai menteri segala urusan. Ia sendiri Menko Kemaritiman dan Investasi. Tapi begitu banyak mendapat tugas tambahan.
Luhut memang menunjukkan prestasinya. Apa pun hambatan berhasil ia atasi. Soal nikel adalah contoh paling nyata. Kritik begitu keras. Mulai dari tenaga kerja asing sampai komunisme. Itu sama sekali tidak mengganggunya. Industrialisasi nikel pun terwujud di Sulawesi Tengah bagian miskin: Morowali.
Mungkin juga karena Presiden Jokowi merasa nyaman dengan Luhut. Ia seorang jenderal. Kopassus. Senior –73 tahun. Batak. Kristen. Tidak akan menjadi ancaman bagi posisi presiden. Akan beda kalau Luhut itu muda, Jawa, dan Islam.
Tapi penambahan beban pada orang yang berprestasi adalah gejala umum di bidang manajemen. Seorang atasan pasti ingin berprestasi. Berarti programnya harus terlaksana. Maka seorang atasan tidak akan memberi tugas kepada bawahan kalau sang bawahan sering tidak sukses di tugas sebelumnya.
Saya pikir yang seperti itu hanya terjadi di manajemen perusahaan. Ternyata juga sampai di pemerintahan –pun di tingkat yang paling atas.
Itu sekaligus sebagai indikasi bahwa merit sistem memang belum berjalan di mana-mana. Banyak yang terpilih menduduki jabatan ternyata bukan yang paling mampu. (Dahlan Iskan)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




