Bagian 17: “Akhirnya Kita Tetap Nggak Bisa Sama Sama”

Bagian 17: “Akhirnya Kita Tetap Nggak Bisa Sama Sama”

Ari Hardianah Harahap--

Dimana saja, kapan saja, dan apa saja yang ia dan Arya lakukan bersama, akan Zona ingat, bukan karena ia tak rela, namun semuanya begitu indah, hingga alih – alih di detik detik terakhir perpisahan mereka, Zona menghabiskan waktunya dengan tawa, tawa terkahirnya bersama Arya. Mungkin di lain waktu, bisa nanti, bisa esok, bisa lusa, bisa kapan saja, sebab takdir seringkali bermain – main bersama mereka, Zona kembali tertawa, menggenggam semua rasa hangat itu, namun pasti tidak akan sama, sebab kali ini dibalik akhir dari jalan bersama mereka yang pilih, Zona tanggalkan seluruh hatinya pada Arya, hatinya yang lalu biarlah mencintai Arya dengan sungguhnya, nanti hatinya yang baru akan ia beri pada yang lebih layak menggenggamnya hingga ia menutup usia.

“Besok genggamnya bukan aku lagi kan?”  Tanya Arya, Zona terkekeh, “Lah kamu yang lepas, harus ikhlas dong.” Balas Zona terkekeh pelan, Arya turut terkekeh, matanya berkaca – kaca, hari ini tak sama sekali ia sembunyikan sedihnya, biasanya akan ia tertawai, kali ini ia biarkan matanya berair, merah dan tumpah.

“Besok genggam yang lebih erat, biar kamu nggak sendiri lagi.” Ujar Arya, Zona tertawa, “Tapi kalo maunya sama kamu, gimana? Apa nggak susah buat nyari genggam yang lain, yang sama hangatnya, yang sama nyamanya Ya?” Tidak ada balasan, diantara kemuningnya lampu malam, Arya nikmati wajah Zona, tiap garis yang terbit di pinggi bibir perempuan itu selalu sama indahnya untuk Arya, sebab senyumnya masih sama candunya walau Arya terus menggerutu.

Zona mengusap pipi Arya, “Besok jangan jatuh cinta yang susah – susah, jangan buat romansa yang rumit, biar sakitnya nggak ada lagi. Cukup yang senang – senang aja, susah – susahnya udah sama aku, udah sam mbak rosa juga.” Ingat Zona, Arya terkekeh, “Kalo mau susahnya lama – lama bisa nggak?” Tanya Arya.

“Kalo nantinya kita sampai merasa hampa, gimana tentang hati yang lain? Bertahan itu nggak gampang, susah, saking susahnya, aku aja nyerah. Nyerah sama kamu, nyerah sama kita.” Bisik Zona pelan, dengen begitu Arya tak segan menitikkan air matanya.

“Endingnya kita tetap nggak sama – sama?”

“Sama kok, bahagianya sama, sakitnya juga sama, bedanya kamu kesana, dan aku nanti lagi mencari jalan.”

“Padahal bukan terakhir kalinya, kali ini benar – benar hampa.” Bisik Arya memeluk Zona.

“Pada akhirnya kita berakhir di batas kata ‘semoga kamu bahagia, bahkan jika itu bukan aku’.” (bersambung)

Sumber: