SUZUKI

Oneday In Our Universe

Oneday In Our Universe

Ari Hardianah Harahap--

-Throwback ke fase fase Zona dulu hehehe :D-

Zona tersenyum ceria, walau hatinya tersayat – sayat, diluar sana dari kaca transparan di dinding halaman belakang, Agana dapat melihat bagaimana orang bersorak – sorai bahagia, menyuarakan suka cita mereka terhadap acara sakral yang akan terjadi hari ini. Hampir setiap sudut dimana – mana Zona berdiri, ia hanya dapat melihat dekorasi ruangan yang didominasi oleh warna putih dengan beberapa campuran warna gold sebagai pemanisnya. Khusus hari ini, mawar menjadi poin utama acara, bahkan rata – rata gaun yang dikenakan oleh orang – orang hampir seluruhnya memiliki pernak – pernik bunga mawar.

“Na, kakak gimana?” tanya sesosok perempuan yang sebentar lagi akan menjadi bintang acara hari ini, gaun seputih gading menjuntai dengan anggun hingga mata kakinya, membalut tubuh langsingnya dengan sempurna. Riasannya tampak pas, tidak tebal tidak juga terlalu natural. Sinar matanya tampak khawatir namun tetap tidak menyembunyikan raut bahagianya. Zona tertawa, “Kakak cantik banget hari ini, bang bagas pasti pangling liat kakak.” Puji Zona tulus pada Rojer, calon pengantin wanita sepupunya, Bagas Kalindra.

Semu merah tampak menghiasi pipi perempuan itu, senyumnya ia sunggingkan selebar mungkin. Zona mengenggam tangan perempuan itu, kini hanya ada mereka berdua, sebab yang lain tengah berlomba menyaksikan akad di ruang utama, Zona menampilkan senyum manis miliknya, matanya berkaca – kaca, untuk apapun itu, ia turut bahagia. “Selamat menempuh hidup baru kakak, semoga kakak bahagia dengan pernikahan ini. Jangan ada penyeselan kakak, baik – baik hidup sama abang ya kak, Zona selalu doain yang terbaik buat kakak sama abang, semoga Zona selalu bisa liat kalian bahagia. Zona sayang kak Rojer.” Zona bertutur dengan lembut, ia suarakan isi hatinya, menatap Rojer dengan teduh. Tinggal menunggu beberapa menit lagi, segalanya akan resmi, perempuan itu akan menjadi satu – satunya wanita seorang Bagas Kalindra, satu – satunya tempat ia harus kembali kehilangan rumah untuk pulang.

“Kamu…,” Rojer menitikkan air matanya, dari banyaknya rumit diantara mereka, benang kusut yang bahkan belum terurai dengan sempurna hingga sekarang, Zona masih dapat mengatakan sebaik – baiknya perkataan untuknya. “Maafin aku,” Bisik Rojer, Zona terkekeh, mengusap air mata yang tumpah diantara mereka, “Jangan nangis dong kak! Nanti eyelinernya luntur, kakak bukannya ngecosplay jadi putri malah jadi mbak kunti!” Pekik Zona yang dibalas tawa kencang oleh Rojer, dinatara banyaknya luka, hari ini Rojer dapat melihat manusia lain yang sama kuatnya, yang sama tulusnya, yang sama apa adanya, dengan ia yang telah tiada di tahun – tahun yang lalu.

“Kamu mirip seseorang,” Ujar Rojer tiba – tiba, Zona terkekeh, “Oh ya? Siapa?” Tanya Zona, Rojer menggeleng, “Ada, seandainya ia disini pasti kalian bakal cocok banget.” Kata Rojer dengan senyum manis.

“kalo cocoknya sama aku, aku setuju.” Sebuah suara memotong percakapan dua perempuan itu, Arya Sanggara. Zona dan Rojer kompak menoleh, pria menyebalkan itu layaknya pangeran dengan jas hitam yang sangat pas membalut tubuh atletisnya, gerak kakinya melangkah pasti, berhadapan dengan Rojer dan tersenyum manis

“Iya kan?”

Damn! So Hot Man!

 

Sumber: