Bagian 11: “Sahabat Sehidup Semati Titik Nggak Pakai Koma”

Bagian 11: “Sahabat Sehidup Semati Titik Nggak Pakai Koma”

Ary--

Satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori

Satu cerita teringat di dalam hati
Karena kau berharga dalam hidupku, teman
Untuk satu pijakan menuju masa depan

Saat duka bersama, tawa bersama
Berpacu dalam prestasi, huh, hal yang biasa
Satu persatu memori terekam
Di dalam api semangat yang tak mudah padam

Kuyakin kau pasti sama dengan diriku
Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
Kawan, kau tahu, kawan, kau tahu, kan?

-Bondan Prakoso & Fade2Black, Kita selamanya


֍♠♠♠♠֍

“Kadang – kadang yang kita butuhin diantara banyaknya hidup yang naik turun itu bukan dukungan atau ucapan dari keluarga. Tapi dari teman yang ngebuat kita mati rasa cuma karena ketawa.”

-Aji, nyesal mukul Sakul sumpah!

>>>***<<<

Aji dan Sakul kini tengah duduk berhadap – hadapan dengan mata yang saling memicing tajam. Seandainya tatapan memang bisa membunuh, Mbak Ti yakin bahwa sudah lama ia ditemukan tergeletak tidak bernyawa sedari tadi dengan tiga anabul kesayangan milik Aji. Sudah sejak setengah jam lalu, Mbak Ti hanya mendapati keheningan dari dua sejoli yang biasanya kompak merusuhinya. Bahkan, menghancurkan tatanan rumah yang sudah susah – susah ia bereskan pagi – pagi sekali. Namun, siang ini Mbak Ti hanya mendapati aura permusuhan yang sangat kentara.

Aji masih menatap tajam Sakul dengan setoples keripik kentang buatan Mbak Ti, suara renyah dari mulutnya yang tengah mengunyah, sesungguhnya amatlah mengganggu suasana kelam yang tengah Sakul ciptakan. Sedangkan, di sisi lain, sebenarnya Sakul tidak jauh berbeda. Dengan seplastik chiki – chiki dari berbagai merek berjajar di sampingnya, Sakul menatap Aji tak kalah tajam. Suara plastik yang terbuka dan decakan kesal saat beberapa kali ia gagal membuka kemasannya serta membuat seluruh lantai berserakan dengan chikinya cukup membuat suasana permusuhan diantara mereka jauh lebih hancur.

Kocheng mengeong pelan, seolah berbisik pada Ncing dan Cat. “Ini dua babu kita ngapain deh? Ngecosplay jadi orang gila?” tanya Kocheng pelan. Cat memukul kepala Kocheng dengan kakinya, turut mengeong, “Babu kita cuma satu, namanya Setiaji Archandra. Jangan sembarangan dong! Meong!” Kesal Cat yang langsung diangguki oleh Kocheng dan Ncing, mengeong kompak seolah mengatakan, “Dalem doro!”

Sakul yang dasarnya selalu perhatian sekitar, menyadari bahwa tiga anabul favoritnya yang juga berstatus sebagai milik Aji mulai bertengkar, “Eh kan gue ama babu lo pada yang bertengkar, ngapain lo pada ikut – ikutan.” Tegur Sakul pada Kocheng, Ncing dan Cat. Seolah paham dengan perkataan Sakul, tiga kucing milik Aji itu menurutinya.

Aji yang sudah sensitif dengan berbagai hal, semakin sensitif saat tiga kucing miliknya sangat menurut pada Sakul. Dasar kucing – kucing tidak tahu diuntung, Aji yang pontang panting cari whiskas siang malam, eh nurutnya ke cecenguk seperti Sakul. Coba aja kalo Aji, pasti kucing – kucingnya itu bengalnya minta ampun.

“Jangan mendoktrin kucing – kucing gue! Gara – gara loh nih pasti makanya kucing – kucing gue nggak nurut!” Ujar Aji segera memeluk tiga kucingnya. Kocheng, Ncing dan Cat yang diperlakukan seperti itu hanya memutar bola mata mereka malas, melihat drama murahan yang dibuat oleh babu setia mereka.

“Idih! Kucing buluk gitu aja! Noh, dibelakang banyak lebih bagus!” Aji terkejut mendengar perkataan Sakul, tidak ada yang boleh menghina anak – anaknya kecuali dirinya. Kocheng, Ncing dan Cat juga sama terkejutnya. Ncing, kucing paling sensitif diantara ketiganya bahkan sudah mengeong lirih dengan mata yang berkaca – kaca. Aji segera memberikan kucing – kucingnya pada Mbak Ti, “Mbak, tolong jaga anak – anak Aji. Aji harus memberantas mulut – mulut kotor yang udah menghina anak – anak Aji!” Titah Aji dengan semangat yang mengebu – gebu.

“Anak – anak papa tolong doain papa!” Suruh Aji pada tiga kucingnya. Mbak Ti menghela nafas jengah melihat drama alay yang dilakukan oleh Aji dan Sakul, tidak lantas menuruti perkataan Aji. Mbak Ti malah menyamankan dirinya duduk di sofa, mengambil camilan kucing untuk kucing – kucing Aji dan mengambil Snack milik Sakul untuk camilannya. Duduk dengan nyaman menonton opera sabunan yang akan dilakoni oleh Aji dan Sakul.

Yok, anak – anak Aji, jangan malu – malu. Kita nontok bapak lo pada dulu ya,” Sekarang rasanya kewarasan Mbak Ti juga patut dipertanyakan.

Mata Aji menyala merah, sama merahnya dengan mata Sakul sekarang. Diantara mereka tidak ada yang mengalah, bahkan berdecih satu sama lain. Mbak Ti meneguk ludah, rasanya ini bukan candaan yang biasa mereka lontarkan satu sama lain. Namun, mengingat Aji dan Sakul selalu akur – akur saja, tidak mungkin bukan mereka akan saling membunuh bukan? Setidaknya tidak di depan Mbak Ti. Paling tonjok – tonjok manja, itu mah sudah biasa Mbak Ti hadapi. Bahkan rasanya jika Aji dan Sakul tidak tonjok menonjok dalam sehari, Mbak Ti yang akan heran sendiri, harinya terasa kurang. Ibaratnya bagai makan tanpa garam.

Aji yang lebih dulu meninju Sakul, matanya panas bukan karena ingin menangis. Sudah cukup bercanda dan main - mainnya. Aji benar – benar serius untuk kali ini, emosi Aji mendidih bahkan genggamannya kini terasa gemetar dan tak bertenaga. Tinjuan pertama Aji berhasil mengenai wajah Sakul, memberikan jejak merah yang mungkin akan berubah menjadi biru keunguan dalam beberapa saat kedepan. Tidak ada pemberontakan dari Sakul, Aji menduduki perut Sakul, sedang Sakul hanya pasrah seolah menunggu Aji untuk kembali memukulnya.

“Lawan bego! Jangan diam aja!” Bentak Aji melayangkan pukulan kedua untuk Sakul. Lagi – lagi, Aji hanya mendapati keterdiaman panjang oleh Sakul. Saat ingin melayangkan pukulan ketiga, Aji menggantungkan tinjuannya tepat di depan wajah Sakul, wajah sahabatnya itu tampak sayu dengan kedua mata yang terpejam. Mata Aji berkaca – kaca, menempuk embun yang semakin lama memburamkan pandangannya. Jika ditanya apa yang paling Aji syukuri di bumi ini selain lahir dari keluarga Chandra, maka Aji dengan lantang menjawab bahwa ia sangat bersyukur di pertemukan dengan Sakul. Satu – satunya orang yang mengaku sebagai sahabat sehidup semati Aji titik nggak pakai koma.

Aji tidak pernah menyangka jika di ia akan memukul sahabatnya karena seorang wanita yang bahkan belum lama singgah di kehidupannya. Sahabat yang sudah ia anggap saudaranya, keluarganya. Hanya saja, Aji tidak dapat menahan dirinya. Satu embun yang Aji tahan, lolos mengenai pipi Sakul.

“Lo! Lo harusnya ngelawan gue bangsat!”

***

Mendapati dua pukulan dengan tenaga penuh. tentu sakit. Bahkan Sakul tidak dapat mendeskripsikan bagaimana rasa sakitnya kini. Kepala dan telinganya terasa berdengung, bahkan pipi kanannya yang dihantam dua kali habis – habisan oleh Aji masih berdenyut sakit. Sakul ingin membalasnya lebih kuat. Namun, mengingat itu adalah Aji, Sakul tidak mampu. Walau didalam hatinya perih, Sakul menahannya. Sejujurnya Sakul ingin berteriak, menyuarakan isi hatinya, “Ji, lo tega mukul gue cuma demi Jingga.” Sakul ingin menangis mengadu pada Mbak Ti, jika kini hatinya sungguh tergores oleh perbuatan Aji.

Sakul tidak membuka matanya, menunggu Aji kembali melayangkan tinjuan ketiganya. Setelah pukulan yang ketiga, Sakul berjanji akan membalas Aji dengan pukulan yang lebih kuat, jika bisa hingga membuat hidung mancung sahabatnya itu patah dan masuk rumah sakit. Sakul merasa janggal sebab pukulan yang ia tunggu tak kunjung datang. Sakul membuka matanya perlahan, Aji masih setia duduk di perutnya, menahan pergerakan tubuhnya. Sedang tangan Aji yang mengepal, menggantung tepat di atas wajahnya. Sakul merasakan air menetes di pipinya, Aji dengan mata yang memerah menahan tangis.

“Lo! Harusnya lo ngelawan gue bangsat!”

Aji berdiri membelakanginya, pundak sahabatnya itu bergetar. Sakul mematung, bukan karena Aji yang tidak menjadi memukulnya, melainkan karena Aji menangis. Seumur hidup selama bersahabat dengan Aji, Sakul hanya mendapati Aji menangis dua kali, pertama saat Enza masuk rumah sakit dan kedua saat kabar duka tentang kapten Chandra. Dan hari ini Aji menangis untuknya. Aji boleh jadi teman paling tolol yang ia punya. Namun, Sakul bersumpah, diantara ribuan manusia yang datang padanya. Aji menjadi satu – satunya manusia yang mendekapnya erat dengan tulus, menawarkan jalinan pertemanan sederhana. Aji itu teman paling berkualitas yang ia miliki.

Sakul menarik pundak Aji menghadapnya, dengan kekuatan penuh ia memukul rahang Aji, hingga sudut bibir sahabatnya itu berdarah. Setelahnya, Sakul mendekap erat Aji, “Satu pukulan aja, gue udah nggak dendam sumpah!” Ujar Sakul kesal memukul punggung Aji kuat. Aji terkekeh namun matanya terus menangis, “Gue nggak mukul lo sekuat itu walau dua kali, ini bibir gue sampe berdarah Kul!” Protes Aji.

“Lo ngapain juga sama si Jingga sih?! Kan dia mantan gue goblok! Kayak nggak ada cewe lain aja di dunia ini!” Sakul memukul wajah Aji pelan, Aji meringis sebab Sakul mengenai sudut bibirnya.

“Ya mana gue tahu itu cewe mantan lo!” Kesal Aji, masih menangis. “Lo pake ganti nama abi – abi segala. Kalo gue tau Abi itu lo, gue juga udah mundur dari awal!” Lanjut Aji kemudian, ditariknya kaos Sakul dan ia lap ingusnya.

“Jorok Anjing!” Umpat Sakul kesal, Aji mencebik, “Lo mah baru ingus gue aja udah segitunya. Katanya sahabat sehidup semati titik nggak pakai koma,”

“Ya nggak gitu juga Samsudin!” Balas Sakul kesal menepuk kepala Aji dari belakang.

“Pala gue anying! Gini – gini di fitrahin sama bapak gue ya!”

“Bapak lo yang mana? Yang udah jadi hantu laut?”

“Ini lampu mana deh, gelap banget!”

Sakul tertawa, “Jadi lo beneren sama Jingga?” Tanya Sakul, kini keduanya duduk di sofa. Aji mengangguk, “Iyalah, namanya cinta!” Balas Aji.

Sakul mendengus, “Kek hidup aja lo dibuat sama cinta!”

“Ini buktinya hidup!” sewot Aji.

“Dia mantan gue Ji, putusnya baru dua bulan yang lalu. Masa lo tega, gue kan masih cinta!” Protes Sakul.

“Cinta nggak seharusnya selingkuh!” Ujar Aji memukul lengan Sakul kuat, “Lo jadi cowok bajingan banget elah. Spik selingkuh aja dapat modelan yang kayak si Jingga.” Sambung Aji.

Pro itu namanya Ji,” Balas Sakul.

“Gue slepet nih lama – lama,” Aji sudah bersiap untuk mengambil sandalnya, yang segera ditahan oleh Sakul.

“Jadi gue beneren harus mundur ya? Padahal mantan terindah gue itu.”

“Kalo terindah nggak akan jadi mantan bambank

“Ya mana gue tempe, orang si Jingganya yang mutusin”

Lah, lo yang selingkuh ya brengsek!”

“Iya juga sih,” Pasrah Sakul. Sakul melamun, kemudian menatap Aji dalam.

“Ji, janji tetap jadi sahabat sehidup semati titik nggak pakai koma!” Ujar Sakul tiba – tiba, matanya memerah, kemudian menangis.

“Lo ngapain nangis sih banci!” Kesal Aji. Namun tak seiras dengan matanya yang kini turut menangis.

Lah, lo kenapa ikutan nangis juga?!” Tanya Sakul kesal sambil menangis.

“Gue nangis kerena merasa bersalah sama lo ya bego! Gue berasa jadi pebinor anjir! Mana gue nonjok lo kuat banget! Sakit nggak? Tapi gue gedek juga sama lo!” Aji menangis keras, memeriksa pipi Sakul yang ia pukul tadi, Sakul turut menangis, “Sakitlah! Mana ada yang dipukul nggak sakit!” Kesal Sakul.

Sakul merantangkan tangannya, “Sini, hiks” Suruh Sakul.

“Mau ngapain?” Tanya Aji berusaha mengusap air matanya namun tak kunjung berhenti untuk turun, “Mau peluk nggak lo?” Kesal Sakul, Aji memuluk Sakul erat.

“HUWAAAA JIII LO SAHABAT TERBAIK GUE WALAU LO RADA TOLOL!” Teriak Sakul menangis keras berpelukan dengan Aji.

“LO JUGA TETAP SAHABAT TERBAIK GUE MESKI LO! M-MESKI L-L-LO NGGAK WARAS!” Teriakan Aji menyusul tersendat – sendat dengan tangis yang kini menggelegar lebih keras.

Dibalik dinding dapur, Mbak Ti bersembunyi mengelus tiga anak Aji dengan kekehan pelan. Sejak pukulan pertama yang dilayangkan oleh Aji, tanpa sepengetahuan mereka, Mbak Ti pergi diam – diam. Membiarkan dua pemuda itu menyelesaikan urusan mereka, yang ternyata tidak jauh – jauh dari wanita. Mbak Ti menatap figura yang tidak jauh dari kedunya, disana ada dirinya yang tengah wisuda sekolah menengah atas, Sakul yang tengah berpelukan manja dengan boneka Narutonya dan kedua orangtua mereka yang tertawa penuh suka dan cinta. Mbak Ti menatap figura itu dengan haru, sebuah air mata jatuh dari netranya, kemudian berbisik pelan.

“Ma, Pa. Sakul udah gede, udah bisa berantem gara – gara perempuan,” (bersambung)

Sumber: