Bagian 2: “Aji dan Jingga Sang Pujaan Hati”

Bagian 2: “Aji dan Jingga Sang Pujaan Hati”

Ary--

Aku disini padamu

Sekali lagi padamu

Kubawakan..rindu yang kau pesan utuh..

Aku disini untukmu

Sekali lagi untukmu

Percayalah…tak perlu lagi kau gundah

-Jaz, Kasmaran

֍♠♠♠♠֍

“Kalo kata Aji, ngebet cewek tu harus selalu ingat, Petru jakandor samyang jumanji pepet terus jangan kasih kendor sampe sayang juancok mantap anjing!”

♥♣♥♣♥♣

Pernah satu hari, Aji membaca, katanya manusia yang lahir ke dunia ini adalah sebuah pilihan. Dulunya, manusia dipertontonkan bagiaman kehidupan mereka akan berjalan nantinya, selepasnya itu pilihan mereka untuk tetap lahir atau tidak. Terlepas benar atau tidaknya, Aji percaya jika itu benar adanya, dan mengapa Aji lahir di dunia ini tentu karena Aji pasti memiliki alasannya tersendiri, mungkin saja ia akan melihat keajaiban yang tak akan ia rasakan jika ia memilih untuk tidak lahir. Semrawut dengan pikirannya, Aji terkekeh pelan, masih pagi padahal, lalu mengapa otaknya random sekali?


yamaha--

Aji berdiri tak jauh dari halaman parkir Fakultas Kedokteran, kelas paginya masih jam sepuluh nanti, jadi Aji memutuskan untuk berangkat lebih awal. Mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Kedokteran tampak berlalu lalang dengan buku – buku tebal mereka, kebayakan raut wajah mereka tampak tegang dan frustasi. Aji terkekah, lucu melihat mereka, jika tidak salah dengar hari ini fakultas kedokteran akan ujian, entah apa namanya, Aji tidak begitu ingat, OSCE? SOCE? Apapun itu, terserahlah. Aji mendoakan yang terbaik untuk mereka, terlepas siapapun orangnya.

Dari jauh, Aji dapat melihat seseorang yang sudah lama ia tunggu, beberapa saat Aji merasa semuanya melambat, setiap gerakan yang dilakukan seseorang di seberang sana terlihat sangat slowmotion di mata Aji. Rambut panjang yang tersapu angin, mata yang menyipit karena tersenyum, dan cekung pipi yang mengiringi, cukup menggambarkan betapa cantik dan manisnya dia yang ditunggu oleh Aji, Jingga Sanarati. Sesuai dengan namanya, Jingga benar – benar mirip dengan jingga di langit senja, semburat kemerahan dengan warna keungu – unguan oranye kala matahari mulai bersembunyi di arah barat, tentu menjadi langit paling banyak dikagumi orang – orang karena keindahannya, selain langit merah kala fajar. Layaknya langit senja yang dikagumi banyak orang, Jingga sama halnya juga, perempuan itu sosok idaman seluruh orang, sahabat perempuan yang baik, pacar yang cantik, apa yang tak bisa Jingga lakukan? Perempuan itu sempurna dari ujung rambut hingga kakinya. Bahkan julukan yang disematkan orang – orang menggambarkan betapa baiknya perempuan yang kini hanya berada lima langkah di depannya, ‘malaikat baik hati’.

“Aji, ngapain di sini?” Suara lembut itu mengalun indah, menembus gendang telinga Aji. Mendengarnya, Aji tersenyum manis.

“Ya ngapain gue disini kalo nggak nunggu lo Jingga Sanarati!” Jawab Aji membatin. Namun, yang namanya Aji memang markasnya muka dua, lain dimulut lain pula di hati, “Nggak sengaja tadi lewat sini,” Aji beralasan. Padahal sudah dua setengah jam Aji menunggu Jingga disini, bahkan Aji sudah menghabiskan dua mangkok bubur ayam karena bosan menunggu Jingga.

“Eh, ini tadi kebetulan mampir ke minimarket gue beliin ini, katanya mau ada ujian ya? Ujian apa itu Soce? Koce?” Ujar Aji memberikan dua buah Sliverqueen Chunky Bar White yang diterima Jingga dengan senyuman lebar.

“Osce,” Ralat Jingga tertawa pelan, Aji turut tertawa kecil. “Ngg…entar sore ada kelas nggak? Habis pusing – pusing gitu enaknya keliling Jakarta nggak sih?” Aji ketar – ketir, dalam jantungnya sudah tak terhitung speed detak jantungnya yang terus berdebar, bersiap untuk sebuah penolakan.

Jingga tampak berpikir sesaat, Aji yang tampak paham akan mendapat sebuah penolakan, “Kalo nggak bisa juga gapapa, pasti pengen healing sama teman – teman lo juga nggak ya? Haha.” Aji tertawa canggung melanjutkan kalimatnya, mengusap tengkuknya pelan.

“Boleh, kenapa harus enggak? Jalan – jalan juga healing,”

Sesaat kepala Aji ngeblank dengan jawaban Jingga, hatinya gonjang – ganjing, mulutnya gatal ingin berteriak, belum lagi rasa menggelitik di bagian bawah perutnya. Rasanya begitu bahagia dan lega. Aji tersenyum lebar seperti orang bodoh di hadapan Jingga, tak sedikitpun Aji sembunyikan raut bahagianya, “Okeee…kalo gitu gue jemput entar sore jam berapa selesai?” Tanya Aji bahagia.

Jingga terkekeh pelan, “setengah tiga, kalo telat gue ngambek.” Jawab Jingga dengan gaya imut. Membuat Aji gemas, ingin menggigit dan mencubit pipi mochi yang berhias semburat merah alami itu. Sebagai gantinya, Aji mengusap kepala Jingga lembut dan sedikit mengacak rambut Jingga pelan. Ada yang salah dengan Aji, yang diacak rambut Jingga, mengapa hatinya yang berantakan?! Aji sungguh tidak tahan ingin segera menggaet perempuan satu ini, mengubah status yang tadinya teman, berubah menjadi pasangan kencan, kemudian berkahir di pelaminan. Indahnya dunia Aji jika benar di Aamiin-kan.

“Setengah tiga kan? Nggak mungkin gue lupa, orang yang mau dijemput itu masa depan.” Aji just being Aji, dikasih lampu hijau dikit, geer-nya sudah sampe ke langit.

***

Jingga melihat kembali dua buah coklat putih ditangannya, tidak mungkin coklat di tangannya ini kebetulan di beli melihat pita pink yang menghiasinya dan sebuah tulisan ‘Semangat Jingga!’ yang dihiasi dengan stiker hati itu tertempel rapi. Jingga tertawa pelan, Aji benar – benar bodoh dalam  berbohong. Jingga juga tahu, kemungkinan Aji yang sudah menunggunya sangat lama di parkiran, mengingat dua bulan belakangan ini ia selalu diikuti oleh Aji. Ekstensi keberadaan Aji tiba – tiba menjadi sebuah kebiasaan untuk Jingga, tak jelas kapan terkahir kali Jingga mulai terbiasa dengan kehadiran Aji dihidupnya, seolah dimanapun ada Jingga, Aji pasti ada disana.

Jingga mengulang kembali ingatan pertemuan pertamanya dengan Aji. Klise, layaknya kisah pada umumnya. Pertemuan itu terjadi di persimpangan tangga menuju aula. Aji ke kanan, Jingga ke kiri dengan posisi yang berhadapan, karena gerakan yang terus sama, membuat keduanya terjebak di tempat yang sama. Hingga akhirnya mereka tertawa, tidak terpikir saat itu entah apa yang mereka tertawakan, mungkin menertawakan kebodohan satu sama lain. Saat itu mereka hanya sebatas dua orang asing yang tidak sengaja bertemu, kemudian tertawa, tanpa tahu apa – apa.

Jingga bukan sosok yang senang dengan kehadiran orang baru dihidupnya, menurutnya itu terlalu merepotkan untuk terus mengulangi hal yang sama, berkenalan, berteman sesaat, kemudian menghilang, dan setelahnya nomor – nomor mereka hanya menjadi sampah di kontak ponselnya. Lalu, pertemuan tak sengaja itu kembali terjadi, kali ini di perpustakaan, Jingga menyukai waktu ia menghabiskan harinya dengan membaca buku – buku, menjelajahi semestanya sendiri. Namun, suara berisik dari rak di belakangnya terlalu menggangu.

“Berisik, ini perpusatakan!” Jingga mengucap sewot, orang jaman sekarang punya mata buat baca nggak dipakai, punya ilmu buat mikir malah dianggurin, situ hidup niat nggak sih?! Jingga sudah di ujung tanduk, entah mengapa emosinya semakin mendidih, saat oknum – oknum itu masih saja berisik setelah peringatannya. Dengan langkah lebar, Jingga menghampiri mereka, menghempaskan dua buku tebal di hadapan biang – biang yang menjadi perusuh di perpustakaan.

“BE. RI. SIK! Tekan Jingga pada setiap katanya di hadapan dua orang yang tengah menatapnya bingung, Jingga mengenali salah satunya, laki – laki yang hampir ia tabrak di persimpangan tangga.

“Memangnya ini perpus punya bapak lo?!” Lelaki jangkung lainnya menjawab Jingga dengan nada kelewat sewot, Jingga yang sudah emosi ingin sekali menggampar laki – laki tersebut. Namun, niatnya tertahan mendengar suara lain menyahuti.

“Kita minta maaf, maaf ya udah ribut.” Itu Aji, Aji menatapnya dengan raut bersalah, begitupula pada penghuni perpustakaan lainnya, Aji menggumam maaf pelan, menarik temannya, dan meninggalkan Jingga begitu saja. Sesaat, Jingga merasa dunianya berhenti, untuk pertama kalinya Jingga tidak mendengar suara lain, selain suara perminataan maaf milik Aji.

Katanya jika kita bertemu orang yang sama selama tiga kali tanpa sengaja, itu namanya takdir. Dan ketiga kalinya, lagi – lagi Jingga bertemu Aji. Kali ini, di warung bubur dekat universitasnya. Aji menyapanya lebih dulu, “yang kemaren di perpus kan? Maaf gue nggak tau itu lo.” Lagi – lagi hanya suara Aji.

“Gapapa, udah lewat juga.” Jingga menjawab singkat, tidak berniat melanjutkan obrolan mereka. Bahkan Jingga sudah menekuk wajahnya, tanda ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun, tanpa terkecuali! Anehnya, Aji tetap melanjutkan obrolan itu, bahkan dengan jawaban Jingga yang begitu ketus dan apa adanya, Aji bercerita seolah – olah Jingga memang menikmatinya. Obrolan mereka berkahir kala pesanan Jingga tiba.

“Jingga kan? Nama gue Aji, Setiaji Archandra. Jangan lupa ya!” saat itu Jingga hanya mengagguk dan anehnya Jingga benar – benar mengingatnya. Nama Setiaji Archandra terus berputar di kepalanya. Jingga baru menyadari setelah hari itu, dimanapun Jingga, dalam jarak pandangnya ia akan menemukan Aji, entah itu Aji yang tengah melambai padanya, atau Aji yang tersenyum seperti orang bodoh saat melihatnya. Dan entah sejak kapan, setiap Jingga membuka mata, Aji menjadi orang pertama yang ia pikirkan dan selalu menjadi orang pertama yang ia cari.

“Coklat dari siapa tuh?” Tanya Rena, sahabat Jingga. “Senyum – senyum sendiri aja. Spill dong orangnya,” Lanjut Rena lagi menggoda Jingga.

Jingga tertawa, “Nggak dari siapa – siapa, dikasih orang iseng tadi.” Jawab Jingga, bagaimana respon Aji jika tahu jika ternyata Jingga hanya menganggapnya orang iseng yang kurang kerjaan.

“Dih! Lo mah gitu banget Jingga, kalo ada orang ngasih tu diinget – inget! Nggak semua orang mau ngasih gitu sama lo, apalagi udah dihias cantik – cantik gitu, mana disemangatin lagi, nggak tahu terimakasih lo!” Rena mencebik kesal, menasehati Jingga. Siapa sih yang memberi julukan ‘malaikat baik hati’ pada sahabatnya ini, Jingga itu nggak lebih nggak kurang ‘medusa berwajah malaikat’.

“Dasar Medusa,” cibir Rena setelahnya, yang dibalas Jingga dengan tawa lepas, “Iya, iya. Gue ingat kok siapa yang ngasih, Na.” Kata Jingga tersenyum senang.

“Tumben?” Tanya Rena raut bingung, gerangan siapa yang akan diingat oleh orang secuek Jingga.

“Nggak mungkin gue lupa, orang yang ngasih calon masa depan!” Jingga tertawa lepas dengan semburat merah di wajahnya, meninggalkan Rena yang diam mematung, speechless dengan jawaban Jingga.

“JINGGGAAAAA!! SIAPA ORANGNYA?!” Rena berteriak, berlari mengejar Jingga yang kini tengah berbunga –bunga.

“Aji, namanya Setiaji Archandra.” Bisik Jingga pelan yang hanya dapat didengarnya sendiri.

“AJI LO HARUS TANGGUNG JAWAB, SOALNYA GUE BAPER!” Batin Jingga berteriak.

Jika saja Aji mendengarnya…..

 

If You Know…

 

You Know…

 

Sumber: