Bagian 13: “Lega dan Malu”

Bagian 13: “Lega dan Malu”

Ary--

SEPANJANG hari Jaya menghabiskan waktunya bersama Agana, sesekali Jaya merasa kepalanya terguncang dan pandangannya sedikit berkunang, efek samping kurang tidur sangat memprihatikan untuknnya. Jaya merebahahkan tubuhnya di kasur minimalisnya, rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi, matanya kosong menatap langit – langit, pikiran berkelana kembali saat sore yang ia habiskan bersama Agana.

“Jaya, gue sayang sama lo, selayaknya saudara, sahabat, dan keluarga. Jangan ragu buat datang ke gue,” tiba – tiba Agana menghampirinya dengan senyum tulus yang jarang Jaya lihat, tatapan matanya hangat, tidak ada gurat kepura – puraan seperti biasa, bahkan nada bicara Agana lebih lembut. “Gue bakal selalu jadi tempat lo pulang,” Lanjut Agana mengusap kepala Jaya pelan.

Jaya tidak merespon apapun, Agana itu orang paling cheesy yang pernah Jaya temui, satu – satunya teman perempuan yang mampu menembus zona nyaman Jaya selain Rena dan mamanya. Jaya tidak pernah keberatan dengan ekstensi Agana disekitarnya, terlepas bahwa ia begitu tidak suka suasana yang berisik, Jaya akan membiarkan suara cempreng dan sumbang Agana itu mengisi gendang telinganya seperti radio rusak. Atau skinship yang berlebihan, namun jika itu adalah Agana, Jaya akan membiarkan perempuan itu melakukannya sesukanya. Bukan tanpa alasan mengapa Jaya membiarkan Agana merecoki kehidupannya dan merenggut hari – harinya yang tenang. Satu diantara ribuan manusia yang Jaya temui hingga kini, Agana menjadi satu – satunya yang mengamit lengannya saat dunia begitu acuh padanya.

Jaya terkekeh, hampir tiga per empat kepalanya dipenuhi dengan perempuan bar – bar itu, dan seperempatnya tentang betapa malasnya ia untuk beranjak dari tidurnya untuk melihat jadwal pelajaran sekolahnya besok. Jaya memeluk bantal gulingnya, mengusapkan wajahnya frustasi dan mengacak rambutnya pelan, lagi – lagi pikirannya tidak fokus dan kembali pada momen yang ia lewati bersama Agana, masih di waktu yang sama, hari ini.

“Jaya lo tau nggak sih kalo lo itu sebenarnya keren banget!” Agana kembali memulai topik yang dibalas Jaya dengan tatapan heran. Menyiratkan kesan yang tak terguda mendengar perkataan Agana, “Selama ini kemana aja? Baru sadar gue keren?” Balas Jaya tenang.

Agana mencubit lengan Jaya main – main, namun perhatiannya tak luput dari telinga Jaya yang memerah, “Ahhh….ada yang malu sampe kupingnya merah!” Ujar Agana pura pura terkejut, menjawail daun telinga Jaya. Jaya mendorong Agana pelan, berusah tidak mengubris godaan Agana, yang mau tak mau harus ia akui bahwa ia malu.

“Kalo lagi gini, gue ngerasa ngeliat lo sebagai Jaya. Jaya yang bener – bener Jaya,” Komentar Agana, Jaya tidak membalas perkataan Agana, sudah terbiasa bagi Jaya untuk membiarkan Agana mengoceh sepanjang hari yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri olehnya.

Agana menggandeng tangan Jaya seperti anak TK, sesekali melodi sumbang terdengar dari Agana, “Jaya, jangan cepet – cepet dewasanya, tungguin gue, soalnya gue belum siap hehe,” Agana menyengir lebar.

“Lo kalo ngelantur jangan siang – siang, gue nggak bisa ngasih alasan lo kerasukan setan, soalnya ini siang.” Akhirnya Jaya bersuara, matanya semakin menyipit akibat panas matahari.

“Menurut lo gue udah cocok belum jadi dewasa?” Tanya Agana

Jaya berpikir sesaat, “Gue nggak tahu,” jawab Jaya setelah keterdiamannya. Hening sesaat, Jaya menghentikan langkahnya menatap Agana dalam, meremat bahu Agana sedikit kuat, “Nggak ada yang bisa mendefiniskan dewasanya seseorang, Na. dewasa nggak dewasa lo itu bukan tentan penilaian orang – orang ke lo, bukan juga tentang pendapat gue. Lo nggak bisa ngebiarin orang – orang mendefiniskan diri lo. Saat lo bisa diam ditengah kepala lo yang berisik, itu dewasa. Saat lo bisa senyum dan ketawa padahal lo pengen banget nangis, itu dewasa. Gue nggak pengen lo dan otak kecil lo itu salah paham, dewasa bukan berarti lo harus sempurna dan bisa jadi apa yang mereka mau, tetap jadi diri lo, tetap jadi kekanan gini, tetap jadi secerewet ini, karena…..”

Agana tersenyum mendengar penuturan Jaya, bukankah Agana benar, disaat – saat seperti ini Jaya benar – benar terlihat keren, laki – laki memiliki kepala yang besar tentang bagaimana semesta ini berjalan, presepsinya dari berbagai sudut pandang selalu membuat Agana takjub, “Karena?” Agana bertanya, menunggu Jaya kembali melanjutkan kalimatnya.

Jaya mematung, wajahnya tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya, mata Agana menyipit curiga menunggu kalimat Jaya dengan tidak sabaran, perlahan Agana dapat melihat semburat merah di wajah Jaya, awalnya di pipi hingga menjalar ke telinga.

“K—kare—kerena,”

“Apa?”

“Karena gue suka Agana yang dihadapan gue, Agana just being Agana.”

Pernyataan secara tidak langsung itu menjelaskan tentang perasaan tersirat Jaya pada Agana, hanya beberapa saat, Jaya dapat merasakan kembali wajahnya memerah, dan memilih menenggelamkan kepalanya pada bantel apek penyetnya.

“Sialan banget sih nih mulut!” Batin Jaya, detik – detik terkahir sebelum dirinya terlelap. Jaya suka dan lega, hanya saja rasanya tidak gentle untuk laki – laki macho sepertinya, untuk pertama kalinya Jaya merasa, bertingkah seperti orang gila bersama Rena jauh lebih baik, ketimbang kembali bertemu Agana. (bersambung)

Sumber: