Bagian 8: “Hangat tapi Hampa”

Bagian 8: “Hangat tapi Hampa”

--

JIKA ada yang bisa membuat Agana bertahan untuk tetap mencintai walau dikasari berkali – kali itu hanyalah kasurnya. Agana dan kasurnya sudah seperti sosok pasangan sejati. Yang hidup dan matinya kudu barengan kalo kata Agana. Agana masih berbaring dengan santai di kasurnya, padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan, selamat datang hari minggu. Hari dimana Agana tidak perlu bangun subuh hanya untuk mengenakan seragam kurang bahannya. Bumi masih di kamar Agana, namun bedanya kini Agana sendirian di kasurnya, sedang Bumi berada di karpet kamarnya, berdaya tidak memiliki tenaga walau hanya membuka mata.

Hujan belum berhenti, masih terdengar pelan walau tidak sederas saat ia bangun. Sejak kapan hujan datang? Agana tidak tau. Mungkin, sejak Bumi menggumam sendiri dalam tidurnya, menyebut nama ‘Arini’ berulang – ulang kali. Toh, nama yang disebut Bumi memiliki unsur – unsur kehujanannya, hanya feeling, jika dijelaskan pun Agana tidak akan tahu. Agana sudah bangun dan membuka matanya segar sejak dua jam lalu, hanya beranjak sebentar untuk sikat gigi dan minum, setelahnya kembali berbaring. Di Jam segini, Mama pasti sudah bekerja, lama – lama Agana berpikir mamanya tidak kalah dari Bang Toyib—pergi pagi pulang pagi.

Agana merasa lapar, namun kemalasannya benar – benar hakiki, “Bumi,” Panggil Agana, Bumi bangun dan melirik Agana lesu, “Masak mie sono, laper nih!” Suruh Agana. Bukannya jawaban, Agana malah mendapat lemparan bantal yang mendarat mulus di wajahnya.

“Lo kalo nggak mau bilang dong!” Sungut Agana kesal, menyingkirkan bantal bau iler milik bumi dari wajahnya. “Tuh tau, pakek ditanya segala.” Jawab Bumi cuek, kembali memejamkan matanya dan memeluk guling erat.

“”Sabar Agana, nanti tiba saatnya lo bisa tendang dia ampe antartika” batin Agana dendam, Agana terpaksa berdiri dan berjalan ke dapur. Agana kembali membasuh wajahnya dan menguncir rambutnya rapi sebelum turun ke dapur. Dari luar kamarnya, Agana dapat mencium aroma sup menyerbak ke seluruh rumah. Agana berpikir sesaat siapa yang memasak pagi – pagi sekali di rumah mereka? Bibi? Tapi bibi biasanya tidak datang di hari minggu. Mama? Itu mustahil, karena mama sudah pasti berkerja. Papa? Lebih tidak masuk akal karena Papa pasti ada dirumahnya.

“Siapa yang masak?” Agana terlonjak kaget mendengar suara Bumi yang tiba – tiba di belakangnya, mamandang Agana dengan raut bertanya dan wajah bantalnya. Agana menggelengkan kepalanya tanda sama tak tahunya dengan Bumi. Bumi mengerti.

Agana dan Bumi memutuskan untuk turun ke dapur bersama. Sesampainya di dapur tidak ada siapapun, keculi meja makan yang sudah terhidang dengan berbagai makanan dan sup ayam yang masih panas sebagai menu utama.

“Ayoo makan!” Teriak Agana girang menuju meja makan, namun kerah bajunya segera ditarik oleh Bumi, “Sembarangan aja lo!” Peringat Bumi, membuat Agana menaikkan sebelah alisnya bertanya.

“Kita nggak tahu siapa yang masak, kalo ternyata itu makanannya ada racun gimana?” Tanya Bumi, Agana segera melototkan matanya, “Beneren ada yang gitu?” Tanya Agana serius, Bumi mengangguk dengan wajah lebih serius, mengamati makanan dengan seksama, berlagak seperti Detektif Conan, serial anime jepang yang ia tonton setiap sabtu pagi di tv.

“Bumi, coba cicip, kalo lo ada gejala entar gue teriak deh manggil tetangga buat nolongin lo,” Saran Agana yang langsung dibalas jitakan oleh Bumi, “Kenapa nggak lo coba? Gue yakin lo mah bakal ngebiarin gue kejang – kejang gara gara keracunan.”

“Kok lo tahu habis makan ini bisa kejang – kejang?”

“Kan biasanya yang namanya keracunan gejalanya kebanyak kejang – kejang goblok!”

“Ngomong jangan ngatain dong!”

“Tapi lo mancing, Agana!” Bumi kesal hingga separuh wajahnya memerah. Astaga demi apapun, pagi – pagi sekali Agana bahkan sudah menyulut emosinya.

“Kalian kenapa?”

“ASTAGFIRLLAH, DAGING AGANA NGGAK ENAK SETAN, MAKAN PUNYA BUMI AJA!!!”

“KAK AGANA AJA SETAN, DAGING BUMI KERAS DAN PAHIT, BANYAK DOSA LAGI!!!”

Teriakan Agana dan Bumi bersahut – sahutan, mengorbankan satu sama lain tentang siapa yang harus lebih dulu di makan setan. Membuat sosok wanita paruh baya yang bertanya diantara perdebatan mereka memasang raut bingung, tapi tak lama kemudian tertawa pelan, tau jika putra dan putrinya ini tengah ketakutan.

PLAK

PLAK

Pukulan ringan yang masih lumayan sakit mendarat di kedua lengan anaknya, “Siapa yang kalian bilang setan? Mama?”

Agana dan Bumi langsung membuka kedua matanya dan memobal, terkejut akan sosok mamanya, “Loh, bukannya mama harusnya—” Agana tidak melanjutkan kalimatnya, Bumi melirik Agana sekilas, paham akan apa yang akan dirasakan Agana.

“Mama nggak kerja?” Tanya Bumi, Diandra menggeleng, “Enggak, mama sengaja libur, kenapa?” Tanya Diandra yang dibalas gelengan oleh Bumi. “Mama yang masak?” Lanjut Bumi yang dibalas anggukan oleh Diandra.

“Ayo makan!” Ajak Diandra yang langsung diangguki oleh kedua anaknya, Agana dan Bumi berbinar senang, jika ada Mama dirumah mereka tidak akan susah – susah untuk memasak, ataupun membuang uang untuk order makanan yang tidak terjamin kualitas higenis dan kesehatannya. Seandainya bisa, Agana dan Bumi selalu ingin seperti ini, tidak usah setiap hari, seminggu sekali saja, Agana dan Bumi akan sangat bersyukur. Namun saat ini, mereka sama bahagianya, sama bersyukurnya.

Makan pagi mereka berlangsung tenang dan hangat, mama yang tampak perhatian dan Agana serta Bumi yang tak sungkan menunjukkan afeksi kebahagian mereka tentang keberadaan mama, walau dalam hati Agana sedikit membebani tentang tadi malam. Bumi lebih dulu pamit untuk mandi. Sedangkan Agana dan mama memberishkan meja dan sisa makanan mereka.

“Agana,” Agana berpaling mendengar namanya yang dipanggil, setelah mengelap noda terkahir di meja, Agana mengulas senyum hangat, dan mengampiri Mamanya, “Kenapa, Ma?” Tanya Agana. Agana hanya diam memperhatikan mamanya yang memandangnya sendu, ditangan mamanya ada bantal hangat yang ditaruh di pipinya, Agaka sedikit tersentak.

“Maafin, mama.” Agana melihat Mamanya menangis, segera memeluk Mamanya. “Mama nggak salah, maaf kakak negecewain Mama,” Bisik Agana pelan.

Agana mengulas senyum kecil, memandang Bumi yang meperhatikannya diam – diam dari tangga, Agana dapat melihat dengusan malas dan tatapan sinis yang dilayangkan Bumi untuknya.

“Bumi, Mama tetap mama, peluk dan luka pertama kakak, mama memamg pemberi luka paling awet tapi Mama juga penyembuh paling ampuh. Gapapa, selama Mama bahagia, kakak bahagia. Demi Mama, Agana sayang Mama” (Bersambung)

 

 

Sumber: