Bagian 4: “Kelana”

Bagian 4: “Kelana”

--

“Apakah tidak lelah kamu bersembunyi? Sampai kapan aku harus mencari, sebab aku mulai kehabisan waktu, temui aku, sekali saja, sebelum langkah ini usai dan peta ini tak lagi terbaca”

Manusia 11-05-22

AKU kehabisan waktu menunggunya, Senja telah usai, masih ditempat yang sama aku kembali mendatanginya, hari dimana aku menghabiskan sebuah eskrim bersamanya, hari dimana aku dan dia merayakan ulang tahun yang kala itu penuh duka. Membahas tentang apa itu dewasa, hingga tanpa kami sadari hari itu telah berganti. Aku duduk di tempat yang sama, masih dengan rasa eskrim yang sama pula, berharap suatu hari nanti ia ingat, dan kembali datang setelahnya, menemuiku, menunaikan janji yang pernah terucap.


yamaha--

Kotak cincin masih tersimpan rapi di dalam saku jasku, setiap tahunnya seperti orang gila, dihari ulang tahunku aku akan menunggunya disini dengan cincin dan bunga matahari seperti yang ia inginkan.

“Jangan menangis! Kamu jelek kalo nangis!” Ujarnya, padahal aku dapat melihat jelas Agana juga menangis, dan kini ia berusah menahan tangisnya mati – matian.

“Harga bolunya mahal nggak? Soalnya aku nggak punya uang buat ganti uang kamu kalo sekarang.” Ujarku yang dihadiahi pukulan di bahuku, Agana tertawa sambil menangis. Keadaan kami hampir sama anehnya hampir sama gilanya.

“Ganti dengan cincin berlian yang mahal dan bunga matahari nanti saat kamu sudah bener – bener jadi dewasa,” Agana menjawab dengan nada mengancam, mendengarnya aku terkekeh, mengacungkan kedua jempolku padanya dan setelahnya kembali tertawa bersama.

“Ayo tiup lilinnya,” Suruh Agana, aku menutup mataku, tidak ada harapan yang kukatan, entahlah saat itu terasa hampa jadi tak satupun kuucapkan. Setelahnya aku membuka mataku dan segera meniup lilin kecil tersebut. Setelahnya, Agana mencabut lilin kecil tersebut, dan membuka kemasan bolu lapis yang berbentuk balok tersebut, memotongnya menjadi bagian kecil dengan tangannya, seperti mencubit.

“Aaa…”Ujar Agana, mengikutinya ia menyuapkan bagian kecil bolu tersebut, “Selamat ulang tahun, semoga bahagia.” Ucap Agana tulus, aku mengangguk, Agana menatapku lekat, jemari kecilnya menghampiri kepalaku, awalnya tampak ragu sebelum akhirnya ia benar – benar mengusap rambutku pelan dan lembut. “ternyata orang – orang bener ya, kamu kalo diliat dari deket beneren ganteng,” Pujinya, dapat kulihat semburat merah diwajahnya.

Aku tersenyum kecil, “Ternyata aku baru tau kalo kamu secantik ini dari dekat,” Balasku, walau malam hampir mendekati larut, wajahnya yang memerah masih dapatkulihat dengan jelas.

Perlahan wajah Agana mendekat, sangat dekat, menyisakan jarak hidungku dan hidungnya yang sudah bertemu, jalanan tampak lengang karena ini jelas tengah malam. “Maafkan aku,” Bisik Agana pelan dan setelahnya dapat kurasakan benda lembab dan lengket menempel di bibirku, rasanya basah dan sedikit aneh saat itu hanya terjadi beberap detik saja, dan aku masih sangat terkejut dengan apa yang kuterima, terdiam seperti patung. Mengingat hari itu membuat wajahku memerah, sudah sejak 9 tahun terkahir, namun debaran itu masih sama.

“SEAN!”

Aku terkejut kala mendengar suara itu kembali memasuki gendang telingaku, di seberang jalan sana, seseorang yang sudah lama ku rindu akhirnya tiba, sang hati telah menemui kembali dambaanya. Wajah itu tersenyum manis, tidak ada yang berubah sejak terkahir kali mereka bertemu, senyum itu masih sangat manis, wajah itu masih sangat cantik, bahkan rambut pendek khasnya itu masih sama seperti Sembilan tahun lalu. Aku mengusap air mataku haru, akhirnya aku menjemputnya.

Agana tampak sangat riang, ia berlari menuju arahku tanpa melihat sekitarnya, dari arah samping dapat kulihat sebuah tronton besar melaju ke arahnya, suara teriakan pecah kala itu, di depan mataku, aku melihat Agana bersimbah darah, badannya terkulai lemas, dan aku masih mematung di tempatku. Namun, aku melihat Agana tersenyum, namun bukan untukku, melainkan untuk sosok lain yang disampingku. Persis Sembilan tahun lalu, itu diriku kala menemui Agana untuk pertama kalinya, wajahku pias, suara bisik – bisik kembali ribut didalam kepalaku, penyesalan kemudian datang bertubi – tubi ke arahku, aku ingin menghampiri Agana, namun entah mengapa rasanya kakiku tak pernah bisa sampai, Agana tersenyum ia menatapku sendu, mengingatkanku tentang cincin dan bunga matahari dengan geraknya yang terbatas, pasti sakit, namun aku tak berdaya.

“Sean!” Itu suara mama memanggilku, keras, namun terdengar lirih dan tak berdaya. Aku merasa setiap tubuhku ditahan dengan kekuatan besar, bahkan aku merasa kesakitan, setiap kali aku meronta meminta di lepaskan, kukungan itu kian kuat.

“Sean ini mama! Adek ayo sadar, kita mulai lagi semuanya dari awal.” Kali ini aku dapat mendengar suara mama dengan tangis pecah, namun aku tak mendapati sedikitpun raga mama, hingga aku merasa sesuatu yang tajam menusuk kulitku, dan kudapati pandanganku memberat, sebelum gelap benar – benar menguasaiku, aku dapat melihat berbagai orang dengan seragam putih di sekelilingku, mama yang menangis kencang di hadapanku, serta kakak dan abangku yang menangis memeluk satu sama lain. Ada apa dengan mereka? Aku turut menangis, namun entah mengapa air mata ini terasa hampa sama seperti sebelumnya alasanku tiada dengan kepergiannya.

“Agana kapan kamu pulang? Aku rindu.” (bersambung)

Sumber: