Karhutla dan Langkah Bijak Menjaga Alam

Karhutla dan Langkah Bijak Menjaga Alam

Dr.M.Lucky Akbar, S.Sos, M.Si--

BACA JUGA:Daihatsu Ayla Jadi Pilihan Utama Mobil Pertama untuk Pengemudi Pemula

Karena itu, Indonesia membutuhkan penghitungan kerugian karhutla yang semakin komprehensif. Tidak cukup menghitung luas areal terbakar. Kerugian kesehatan, kehilangan hari kerja, gangguan pendidikan, kerusakan ekosistem, kehilangan produksi, emisi karbon dan biaya pemulihan juga perlu masuk dalam satu kerangka penghitungan.

Mengelola Risiko

Pengalaman negara lain memberikan pelajaran bahwa kebakaran tidak selalu dapat dihilangkan, tetapi resikonya dapat dikelola dengan baik melalui berbagai pendekatan berbasis kebijakan ekologi berbasis risiko yang diterapkan.

BACA JUGA:Seksi Tol Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat Raih Rekor MURI Berkat Rest Area Galeri Budaya Pertama

Australia menggunakan pendekatan *planned burning* atau pembakaran terkendali di kawasan dan kondisi tertentu untuk mengurangi akumulasi bahan bakar sebelum musim kebakaran. Kanada mengembangkan pengelolaan kebakaran berbasis risiko melalui pemetaan bahaya, pemantauan cuaca, pengelolaan bahan bakar dan sistem peringatan dini. Praktik tersebut tentu tidak dapat diterapkan begitu saja di Indonesia, khususnya pada ekosistem gambut, tetapi prinsip pencegahannya relevan.

Indonesia juga memiliki kerangka kerja regional melalui ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution, yang menegaskan pentingnya kerja sama negara-negara ASEAN dalam mencegah dan menanggulangi pencemaran asap lintas batas.

Di dalam negeri, langkah bijak perlu dimulai jauh sebelum api muncul. Sistem peringatan dini harus menggabungkan data satelit, titik panas, prakiraan cuaca, kelembaban tanah dan gambut, serta kondisi vegetasi. Ketika indikator risiko meningkat, patroli dan pencegahan harus segera diperkuat.

Pengelolaan gambut juga harus menjadi prioritas. Pembasahan kembali gambut, pembangunan dan pemeliharaan sekat kanal, pengaturan tata air serta restorasi vegetasi merupakan investasi untuk menjaga agar lahan tidak mudah terbakar ketika musim kering datang.

Pada saat yang sama, masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian dari solusi. Edukasi dan pelibatan masyarakat perlu disertai alternatif ekonomi yang memungkinkan pengelolaan lahan tanpa bakar dilakukan secara produktif dan menguntungkan.

BACA JUGA:Lincah dan Praktis, Wuling Aira ev Jadi Mobil Pilihan Keluarga Muda Modern

Dunia usaha juga memiliki tanggung jawab besar. Perusahaan yang mengelola konsesi di wilayah rawan harus memiliki sistem pencegahan, pemantauan dan pemadaman yang memadai. Penegakan hukum perlu berjalan bersama kewajiban pemulihan lingkungan sehingga biaya kerusakan tidak seluruhnya menjadi beban negara dan masyarakat.

Yang tidak kalah penting adalah membangun satu sistem data karhutla nasional. Data luas terbakar, lokasi, jenis lahan, penyebab, emisi, dampak kesehatan dan kerugian ekonomi perlu terintegrasi. Dengan data tersebut, kebijakan dapat bergerak dari sekadar respons terhadap kebakaran menjadi manajemen risiko berbasis bukti.

Musim kemarau akan selalu datang. El Niño dan fenomena iklim lainnya juga merupakan bagian dari dinamika alam yang harus diantisipasi. Yang dapat kita lakukan adalah memastikan bahwa ketika kondisi alam menjadi lebih kering, manusia tidak memperbesar risikonya.

Pada akhirnya, menjaga alam bukan berarti sekadar memadamkan api. menjaga alam adalah mencegah api muncul, merawat ekosistem sebelum musim kering, membangun kesadaran masyarakat dan memastikan dunia usaha menjalankan tanggung jawabnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: