Namun, optimisme terhadap prospek 2026 ini harus dibarengi dengan langkah kebijakan yang lebih berani dan terarah. Diversifikasi ekonomi tidak bisa lagi ditunda jika Jambi ingin keluar dari jebakan pertumbuhan menengah yang stagnan. Pembangunan infrastruktur, terutama di bidang logistik dan energi, perlu dipercepat agar konektivitas antardaerah di Jambi maupun dengan provinsi tetangga semakin kuat. Hal ini penting untuk memperluas basis ekonomi dan menarik investasi. Kebijakan penguatan UMKM dan ekonomi lokal juga harus diarahkan agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan pasar global.
Untuk memperkaya perspektif, perbandingan singkat dengan beberapa provinsi tetangga di Pulau Sumatra menunjukkan variasi kinerja ekonomi yang relevan. Misalnya, Provinsi Bengkulu, yang merupakan salah satu provinsi tetangga, mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 4,56 persen pada triwulan III 2025. Angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Jambi berada dalam kisaran yang setara dengan beberapa provinsi lain di Sumatra, meskipun masing-masing memiliki struktur ekonomi yang berbeda. Lebih jauh ke Selatan, provinsi besar seperti Sumatera Selatan mencatat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi yakni sekitar 5,20 persen pada triwulan III 2025. Ini merupakan sebuah indikasi bahwa provinsi dengan basis ekonomi yang lebih beragam dan konektivitas yang lebih kuat berpotensi tumbuh lebih cepat dalam beberapa periode.
Perbandingan ini menegaskan bahwa Jambi perlu memperkuat efisiensi struktural, yakni memperluas basis ekonomi dari sekadar sumber daya alam menjadi sektor bernilai tambah tinggi seperti industri pengolahan dan digital. Selain itu, perbaikan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, pelatihan kerja yang relevan dengan tuntutan pasar, serta peningkatan produktivitas tenaga kerja lokal menjadi faktor penentu untuk menopang laju pertumbuhan di masa depan.
Pertumbuhan ekonomi ke depan tidak cukup hanya tinggi secara angka, tetapi harus inklusif dan berkelanjutan, menjangkau berbagai kelompok masyarakat, meningkatkan kesempatan kerja yang layak, serta menurunkan ketimpangan antarwilayah di dalam provinsi. Dengan pendekatan kebijakan yang tepat dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, Jambi berpeluang memperkuat posisi ekonominya baik dalam konteks regional di Sumatra maupun dalam kontribusinya terhadap perekonomian nasional secara umum.
Penutup
Tahun 2025 memberikan pelajaran penting bagi perekonomian Jambi. Stabilitas ekonomi telah terjaga meski relative kurang menggeliat dan dibawah pertumbuhan ekonomi nasional. Transformasi struktural masih menjadi agenda besar yang belum tuntas. Tahun 2026 harus menjadi momentum untuk melompat lebih jauh, bukan sekadar melanjutkan tren yang ada. Keberhasilan Jambi ke depan tidak hanya ditentukan oleh angka pertumbuhan, melainkan oleh kemampuan daerah ini mengubah potensi menjadi nilai tambah, dan pertumbuhan menjadi kesejahteraan yang merata. Di situlah ukuran sejati keberhasilan pembangunan ekonomi daerah. (*)
*) Penulis Adalah Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi