Tidak dapat dipungkiri, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung ekonomi Jambi. Sektor ini berperan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi dan menyerap tenaga kerja, terutama di wilayah perdesaan. Dalam konteks ketahanan ekonomi, dominasi sektor ini justru menjadi penyangga ketika sektor lain mengalami tekanan.
Namun demikian, ketergantungan yang tinggi pada sektor berbasis sumber daya alam juga menyimpan risiko. Fluktuasi harga komoditas global membuat kinerja ekonomi daerah rentan terhadap faktor eksternal yang sulit dikendalikan. Sektor pertambangan, misalnya, meskipun memberikan kontribusi signifikan terhadap PDRB, menunjukkan volatilitas yang tinggi sepanjang 2025. Di sisi lain, industri pengolahan yang diharapkan menjadi jembatan menuju nilai tambah yang lebih tinggi, belum berkembang optimal. Keterbatasan infrastruktur, pasokan bahan baku, serta lemahnya hilirisasi membuat Jambi masih berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah. Nampak jelas, perekonomian Jambi belum sepenuhnya bertransformasi.
BACA JUGA:Gegara Motor Berisik, Lansia di Jambi Jadi Korban Penganiayaan
Digitalisasi sebagai Jalan Baru Pertumbuhan
Di tengah keterbatasan tersebut, muncul secercah harapan dari sektor informasi dan komunikasi. Sepanjang 2025, sektor ini mencatatkan pertumbuhan tertinggi dibandingkan sektor lain. Aktivitas perdagangan daring, layanan berbasis aplikasi, serta meningkatnya konektivitas digital mulai mengubah wajah ekonomi Jambi, khususnya di wilayah perkotaan.
Pertumbuhan sektor ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan juga soal perubahan perilaku ekonomi masyarakat. Kendati demikian, tantangan besar masih menghadang, yakni bagaimana memastikan transformasi digital tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu. Integrasi UMKM dan sektor tradisional ke dalam ekosistem digital menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi tidak menciptakan kesenjangan baru.
Inflasi Terkendali, Kesejahteraan Bertahap Membaik
Dari sisi stabilitas harga, inflasi di Provinsi Jambi sepanjang 2025 relatif terkendali dan berada pada tingkat yang moderat. Beberapa data BPS menunjukkan bahwa laju inflasi year-on-year di Jambi meningkat bertahap dari awal tahun: pada Januari tercatat masih rendah sekitar 0,46 persen, kemudian meningkat menjadi sekitar 1,34 persen pada Juni, dan terus naik hingga 2,76 persen pada Agustus serta 3,77 persen pada September 2025. Terakhir, pada November 2025 inflasi tahunan di Provinsi Jambi tercatat 3,55 persen, dengan fluktuasi inflasi tertinggi di beberapa kabupaten seperti Kerinci mencapai di atas 5 persen dalam beberapa periode. Pergerakan inflasi yang relatif moderat ini sebagian besar disebabkan oleh tekanan harga pada kelompok pangan dan transportasi, namun masih berada dalam batas yang umum dicatat di banyak daerah—terutama karena upaya koordinasi pengendalian harga kebutuhan pokok dan program stabilisasi pasar yang dilaksanakan TPID dan pemda. Inflasi yang terkendali menjadi penting karena memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan daya beli, khususnya rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah.
Indikator ketenagakerjaan menunjukkan perkembangan yang menggembirakan namun tetap perlu perhatian. Data BPS Provinsi Jambi menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di daerah ini menurun dari sekitar 4,48 persen pada Februari 2025 menjadi sekitar 4,26 persen pada Agustus 2025. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya jumlah angkatan kerja, yang mencerminkan bahwa pembentukan lapangan kerja masih mampu mengikuti pertumbuhan tenaga kerja.
Jika dilihat dalam konteks absolut, data BPS juga mencatat jumlah penduduk yang menganggur di Jambi pada Agustus 2025 sekitar 82,35 ribu orang, menurun dibanding Agustus 2024 yang berada di kisaran 86 ribu orang. Penurunan angka pengangguran secara absolut ini menunjukkan perbaikan dalam penyerapan tenaga kerja meskipun tantangan kualitas pekerjaan masih ada.
Untuk indikator kesejahteraan, data terakhir yang dipublikasikan mencerminkan trend penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia secara umum, termasuk di banyak provinsi. Secara nasional, tingkat kemiskinan pada Maret 2025 tercatat turun menjadi sekitar 8,47 persen dari total populasi Indonesia. Meski data spesifik tingkat kemiskinan Provinsi Jambi 2025 belum dirilis lengkap, angka kemiskinan Provinsi Jambi pada September 2024 tercatat sekitar 7,26 persen, sedikit meningkat dari periode sebelumnya, tetapi masih berada di bawah rata-rata nasional.
Secara keseluruhan, meskipun perbaikan indikator kesejahteraan di Jambi masih berjalan bertahap dan belum sepenuhnya signifikan, tren penurunan tingkat pengangguran dan inflasi yang terkendali pada tahun 2025 menunjukkan arah yang positif. Tantangan yang tersisa terutama terkait dengan kualitas lapangan kerja dan produktivitas tenaga kerja, yang belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertumbuhan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas dalam jumlah besar. Pendalaman keterampilan dan peningkatan produktivitas akan menjadi kunci dalam fase berikutnya.
Menatap 2026: Antara Peluang dan Pekerjaan Rumah
Memasuki tahun 2026, prospek perekonomian Provinsi Jambi diperkirakan tetap positif dengan pertumbuhan ekonomi berkisar 4,5–5,2 persen. Proyeksi ini tidak lepas dari pola pertumbuhan yang tercatat sepanjang 2025 yang menunjukkan ekonomi daerah ini stabil berada di kisaran 4,5 persen pada beberapa triwulan pertama 2025, termasuk pertumbuhan sekitar 4,55 persen pada triwulan I 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sektor jasa modern, khususnya yang berbasis digital, dipandang berpotensi menjadi motor pertumbuhan berkelanjutan. Upaya memperkuat ekosistem ekonomi digital melalui pengembangan transaksi digital, literasi digital, dan integrasi UMKM ke platform digital telah digaungkan oleh pemerintah provinsi sebagai bagian dari strategi transformasi ekonomi. Namun tantangan berupa kesiapan infrastruktur teknologi, akses internet merata, serta peningkatan keterampilan masih perlu dijawab dengan kebijakan konkret.
Sementara itu, pertanian dan perkebunan diperkirakan tetap menjadi penyangga ekonomi, khususnya komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, dan hasil pertanian lainnya. Peran sektor primer ini penting, tetapi harus didukung dengan peningkatan produktivitas dan hilirisasi untuk mendorong nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja yang lebih besar. Sektor energi dan pertambangan juga memiliki peluang tumbuh melalui kegiatan hilirisasi, terutama di sektor batubara dan migas—asalkan kebijakan investasi dan infrastruktur pendukung dapat dioptimalkan.