"Jangan ragu menanam jagung. Jangan takut soal penjualannya. Bulog siap menampung berapapun banyaknya. Harganya berkisar Rp. 7.500 perkilogram," tambahnya.
Usai memanen jagung dan menikmati kopi khas Jangkat Timur, Bupati dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Desa Rantau Suli Kecamatan Jangkat Timur.
BACA JUGA:Gunung Semeru Hembuskan Asap Setinggi 1.000 Meter, Ini Himbauan Badan Geologi
Sekira pukul 16.00 wib, rombongan tiba dikediaman Kepala Desa Rantau Suli, Salman dan disambut oleh Tokoh Masyarakat dan Tokoh adat diiringi tarian daerah.
Bupati singgah sejenak untuk istirahat, sholat dan melakukan dialog ringan sembari melepas lelah dalam perjalanan.
Rombongan kembali melakukan perjalanan ke Desa Tanjung Benuang untuk meletakkan batu pertama Pondok Pesantren Hafiz Qur'an Al-Faruq.
Rombongan tiba di Desa Tanjung Benuang sekira pukul 17.00 wib yang lagi-lagi disambut antusias warga.
"Agama adalah benteng terakhir generasi penerus dari gempuran perkembangan zaman. Semoga, ponpes Al-Faruq bisa mencetak generasi penerus yang berakhlakul karimah, beragama dan berbudaya," harapnya yang tak lupa menyerahkan bantuan pembangunan Ponpes Al-Faruq.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Jangkat Kecamatan Jangkat Timur untuk bermalam dan berkemah. Lokasinya tepat berada di Tepian Batang Tembesi, Muaro Sungai Lirik dan Lubuk Larangan Desa Jangkat.
Untuk menuju lokasi perkemahan, Bupati M. Syukur terlebih dahulu melewati jalan yang cukup ekstrim. Jalannya fungsional untuk kendaraan roda dua, namun berat untuk kendaraan roda empat.
Sekira pukul 18.00 wib, Bupati M. Syukur tiba dilokasi perkemahan. Setelah meletakkan barang didalam kemah, Bupati M. Syukur menginstruksikan untuk membuat musholla darurat beratapkan langit. Rombongan melaksanakan shalat Maghrib bersama diiringi gemericik air Sungai Batang Tembesi.
Musholla darurat yang semula menjadi tempat ibadah, seketika berubah menjadi lokasi dialog bersama warga Kecamatan Jangkat Timur.
Camat, 14 Kepala Desa beserta Tokoh Masyarakat, Adat, Agama dan Tokoh Pemuda Kecamatan Jangkat Timur berkumpul diarea perkemahan. Begitu juga dengan seluruh Kepala OPD dilingkungan Pemerintah Kabupaten Merangin. Mereka berkumpul untuk berdialog dan menyerap aspirasi masyarakat.
Sebelum dialog, seluruh peserta diskusi terlebih dahulu menikmati hidangan makan malam. Warga Desa Jangkat menyuguhkan makanan khas berupa Nasi Hibus yang dimasak dalam bambu. Mirip lemang, tapi tanpa santan dan terbuat dari beras. Ada pula sambal terung lecang/lecak yang merupakan makanan Khas warga Jangkat Timur dan sekitarnya.
Nasi dan sambal dihidangkan diatas daun pisang. Masyarakat setempat menyebutnya Bajamba atau lebih dikenal dengan istilah Ngeliwet.
Usai santap malam, dialog pun digelar. Dengan pencahayaan dari temaram obor bambu dan penerangan seadanya, Camat Jangkat Timur, Marzon memimpin jalannya dialog. Semua duduk bersinggung lutut diatas tikar yang sederhana namun penuh kebersamaan, keakraban dan kekeluargaan. Suasana pun terasa penuh kedekatan dan tidak ada batasan antara Bupati dan warga masyarakat.