Formula E Dinilai Sukses, Anies Baswedan Trending di Twitter

Formula E Dinilai Sukses, Anies Baswedan Trending di Twitter

Potret Presiden Jokowi ditemani Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat kunjungi Formula E Jakarta 2022-Biro Pers Sekretariat Presiden-

JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Meski sempat menuai kontroversi, Sabtu (4/6), event Formula E yang merupakan perhelatan pertama di Indonesia berlangsung sukses. Hal ini membuat nama Anies Baswedan trending di Twitter.

Media sosial Twitter ramai dengan cuitan Anies. Sebanyak 43,6 ribu cuitan di Twitter dan kini jadi trending topik.Dilihat, Sabtu malam (4/6), akun resmi Anies Baswedan @aniesbaswedan menuliskan kalimat menyentuh usai Formula E tuntas.

“Ketika hadir kesempatan untuk mengibartinggikan nama Ibu Pertiwi di hadapan dunia, kami tak tunda menyambutnya. Ketika tantangan bertubi hadir, kami tak lelah menuntaskannya. Ketika ragu dan cela terus disandangkan, kami katakan: biar waktu dan kerja kami yg akan membuktikannya.,” tulis akun bercentang biru itu.

Diketahui, pembalap Jaguar TCS Racing Mitch Evans keluar sebagai juara Jakarta E-Prix 2022 setelah finis di urutan pertama dalam balapan Formula E di Jakarta E-Prix International Circuit (JIEC).

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa Tony Rosyid, melalui tulisannya berjudul “Formula E Gagal Dijegal” menyampaikan terkait jalan terjal Anies Baswedan menyelenggarakan event akbar itu.

Berikut potongan tulisannya seperti dikutip dari Fajar.co.id.

Jalan berliku dan terjal telah dilalui Anies Baswedan. Ribuan kerikil tajam ada diantara banyak lembah yang mengelilingi perjalanan.

Lawan mengintai dan siap menerkam di setiap sudut jalur yang dilewatinya. Takdir nampaknya terus berpihak dan Anies selalu selamat.

Tak ada kebijakan yang sepi bulliyan. Tak ada wajah yang bisa hindari hinaan.

Tak ada program yang tidak dihambat, dihalangi, dicegat dan berupaya keras untuk digagalkan. Begitulah jika harus berhadapan dengan para pecundang.

Balap Formula E menjadi satu diantara yang dipertaruhkan. Dua kali diburu interpelasi, lolos.

Tak dapat ijin di Monas, pindah ke Ancol. Di Ancol, disidak pula.

Tempat dibilang gak layak, kurang representatif, jauh dari keramaian, persiapan tidak matang, dan macam-macam stigma kampanye hitam.

Lepas dari pengusiran, interpelasi, dan berbagai macam stigma, lalu diburu pula oleh KPK. Belum jelas alat bukti, tak ada pula tersangka, tapi terus dinarasikan di media.

Sumber: