Bagian 2: “Jalan Yang Selalu Buntu”

Bagian 2: “Jalan Yang Selalu Buntu”

--

“Aku bertanya – tanya pada setiap waktu yang telah kulalui, tentang kapan ini akan usai? Atau bagaimana akhirnya nanti? Dan anehnya, aku tak pernah mendapat jawaban, setelahnya tiba – tiba kudapati semuanya telah selesai, seakan semuanya berlalu begitu saja. Seolah aku disuruh lupa, padahal ingat saja tidak pernah.”

-Manusia, 11-05-22

Matahari cukup terik, panasanya menyengat membakar setiap orang yang berdiri di bawahnya, aku merasa kewalahan, biasanya tidak pernah aku mendapat siraman sinar matahari selama ini, bahkan intesitas diriku beranjak dari kamar selain untuk sekolah terhitung dengan jari. Aku sering mendapati mama marah dan mengomeliku bahwa nanti aku akan terkena penyakit kulit jika tak pernah keluar rumah, dan alasanku selalu sama, simulasi menjadi vampir, yang jelas sekali akan menyulut emosi mama, dan berakhir dengan aku yang dipaksa membeli garam ke toko sebelah yang tidak jauh dari rumah, padahal garam dirumah mama masih banyak.

Aku menendang kerikil kecil yang berserak dijalanan, melampiaskan rasa kesalku. Biasanya jika aku marah, aku akan diam, dan menunggu diriku merasa baik – baik saja. Namun, tidak untuk kali ini. Untuk pertama kalinya aku keluar dari rumah di teriknya siang karena kemarahanku, padahal satu – satunya tempat ternyamanku hanyalah kamarku, definisi rumahku adalah istanaku itu benar adanya. Aku termenung beberapa saat, mengingat kembali saat tak sengaja aku melihat raut terkejut dan kecewa yang bersamaan di wajah ibuku kala tidak sengaja membentaknya di tengah perdebatan kami. Hanya sebuah permasalahan kecil, yang lagi – lagi mengungkit bahwa, Aku. Kini. Telah. Dewasa.

“Ma, Sean nggak pernah mau tinggal sama papa, Sean mau sama mama?! Papa udah punya abang sama kakak, nggak ada salahnya kalo Sean sama mama!” Aku benar – benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Mama yang akan mengirimku untuk tinggal dengan Papa, jika sebatas Bandung – Jakarta mungkin aku mengalah, menekan egoku kesekian kalinya, demi mama.

“Mau sampai kapan juga mau kayak gini Sean?! Mama nggak mau ngeliat bakat dan potensi yang kamu punya sia – sia, mama nggak mau kamu jadi orang nggak berguna! Kamu udah dewasa, kamu udah gede Sean, seharusnya kamu tau apa yang lebih baik buat kamu?! Tinggal sama papa kamu adalah jalan terbaik!” Mama membentakku menatapku nyalang dengan wajah memerah dan nafas yang menggebu.

Untuk pertama kalinya aku terluka dengan perkataan Mama, aku selalu menoleransi perkataan Mama yang seringkali menyakiti hatiku secara tidak langsung dengan alasan mama menyayangiku hanya saja caranya sedikit tak dapat kuterima, namun selama aku baik – baik saja, demi mama, tidak apa – apa, ya hanya demi mama.

“MAMA TAU APA TENTANG AKU?!” Untuk pertama kalinya aku berteriak di depan mama, wajah mama pias mendengarku, terdiam dengan raut wajah terkejut. Dapat kulihat getar kecewa di kedua netra hitamnya, “Mama tau apa tentang aku?” Tanyaku lirih sekali lagi dengan mata memerah menahan tangis, namun yang kudapati hanya sebuah keterdiman panjang.

“Mama nggak tau apa apa kan? Apa mama tau kenapa Sean nggak pernah milih untuk sekolah jauh jauh? Apa mama tau kenapa Sean lebih suka diam di rumah daripada main sama temen – temen Sean?” Tanyaku, Mama masih diam dan aku yang berakhir dengan tangis.

“Sean nggak mau mama kesepian, Sean nggak mau pas mama butuh Sean, Sean nggak ada buat mama. Sean takut kehilangan mama, Sean nggak mau jauh dari mama. Seharusnya kalo mama mau liat Sean jadi orang berguna, kenapa mama ngebiarin keluarga kita hancur ma?” aku menangis keras, meluapkan semua yang kini kutahan sedari dulu.

“Apa mama tau kalo kakak selalu nangis nelpon aku setiap malamnya dan berharap pulang ke Indonesia, karena kakak selalu dibedain sama istri baru papa? Apa mama tau kalo abang udah nggak tinggal sama papa lagi? Mama nggak tau kan?” Aku terduduk, bersimpuh di depan mama, tangisku pecah, untuk pertama kalinya aku gagal menjadi anak laki – laki mama yang kuat.

“Sean,” Panggil Mama lirih, tatapan kecewa Mama terlihat lebih jelas, entah itu rasa kecewa yang disebabkan oleh siapa, aku semakin tidak peduli. Rasanya benar – benar, lelah, aku berdiri, meninggalkan mama untuk pertama kalinya sendirian di luar jam sekolahku, sayup kudengar suara mama memanggilku, namun untuk kali ini saja, biarkan aku egois, biarkan aku menatap ke depan tanpa pernah berpaling, satu hari saja, biarkan aku sendirian.

Kepalaku terasa berisik, bersaut – sautan segala pemikiran rumit, pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana terus terlontar, aku menangis menunduk, apakah ini yang namanya dewasa? Apa yang mendefiniskan seseorang mampu menjadi dewasa? Hanya karena aku tujuh belas tahun, bukankah perkataan “Kamu sudah besar, kamu sudah dewasa” menjadi tolak ukur bahwa aku layak dan dapat dikatakan sah sebagai dewasa? Mengapa orang – orang berpikir untuk menjadi dewasa dan setelahnya mengeluh jika dewasa itu melelahkan? Lalu saat ditanya alasan mengapa mereka tidak menolak, mereka menjawab bahwa itu hal yang tak dapat dihindari.

“Sean-kan?” Sebuah suara mengintrupsi lamunanku, aku mendongkak karena posisiku yang tengah berjongkok menyembunyikan kedua wajahku yang menangis, didepanku Agana berdiri dengan raut bertanya, wajah bigungnya cantik, jepitan bunga di rambutnya menambah kesan manis untuknnya. Aku terkejut mendapatinya, tidak tau harus bereaksi seperti apa? Haruskah aku mengatakan namanya, namun ini pertemuan pertama kami secara sah.

Aku hanya selalu menatapnya dari jauh, mengamatinya diam – diam, kecuali insiden terkahirku dengannya, temu mata yang tidak sengaja, karena setelahnya Agana tak pernah lagi ada dalam jarak pandangku, hari itu hari terakhir sebelum aku bertemunya kembali saat ini.

“Agana,” Ucapnya lagi memberikan tangannya, aku menatap tangannya, dan mengamitnya pelan, masih dengan keadaan berjongkok. “Sean,” cicitku pelan, dalam hati aku merutuki suaraku juga diriku, mengapa suara terdengar seperti tikus terjepit, dan mengapa pertemuan kami harus disaat keadaanku benar – benar memalukan, rasanya aku ingin tenggelam segera kabur dari hadapannya.

“Ayo berdiri, aku bantuin,” Agana menggengam tanganku kuat, dan menarikku berdiri, padahal tanpa dibantunya aku juga bisa berdiri, namun ku biarkan ia melakukan sesukanya, kapan lagi aku bisa menggegamnya dengan erat, tangan mungilnya terasa pas, bukankah artinya kami cocok? Lupakan, kadangkala pikiranku tak dapat berkerja dengan baik saat seperti ini.

“Makasih,” Ucapku, kali ini aku dapat mengeluarkan suaraku seperti biasa, aku tersenyum kecil, Agana hanya mengangguk membalasnya. “Ngapain panas – panas gini jongkok di tengah jalan?” Tanya Agana, wajahku sedikit memerah, “Ya suka suka guelah!” Jawabku cepat, Agana menaikkan alisnya sebelah, mentapku bingung. Aku merutuki mulutku yang bicara seenaknya.

“Sean goblok, lo ngapain sih?!” Batinku. Agana masih menatapku lamat, aku mengusap tengkukku merasa diperhatikan, serderhananya salah tingkah. Menyadari gelagatku, Agana tertawa pelan.

“Ayo beli eskrim,” Ucapnya mengamit lenganku, tanpa peduli reaksiku, membawaku ke Indomaret yang tak jauh dari posisi kami. Jantungku berdebar hebat, ku pikir pertemuan ini akan berkahir canggung, setidaknya ya begitulah perkiraanku. Namun, aku lupa, Agana adalah manusia unik, siapa tak nyaman dengan perempuan pemilik senyum semanis dia.

***

Kami berakhir duduk bersebelahan di trotoar, menatapa lalu lalang jalanan selagi menunggu matahari agar terebenam sepenuhnya dan senja kembali ke peraduannya. Langit jingga keunguan itu menjadi peneman hening diantara aku dan Agana. Rasanya sedikit sesak, sebab kendaraan mulai ramai, sudah sewajarnya sebab ini jam pulang kantor, tentu banyak manusia yang ingin pulang, menuju rumah, menemui orang – orang yang mereka kasihi atau kembali menuju hal yang teramat mereka cintai. Bising kendaraan turut saling beradu, bercumbu dengan suara burung dan ramainya tawa orang – orang.

“Eskrimnya cair,” Tegur Agana menunjuk eskrimku yang sudah meleleh mengenai tanganku, aku segera melahapanya cepat – cepat, buang – buang makanan bukanlah tipeku, melihat mama sulitnya bekerja untukku, membuatku bersyukur bahwa sampai sekarang aku tidak pernah merasa kurang tentang apapun yang kubutuhkan. Setelahnya kami kembali hening dan setelah beberapa lama kemudian Agana menunjuk orang – orang yang berlalu lalang, membuat atensiku penuh untuknnya.

“Kata ayah, dewasa itu tentang banyak hal. Rumit, jika ditanya bagaimana seseorang bisa menjadi dewasa, tidak akan ada yang mampu menjelaskannya, sebab kita semua dimulai dari awal yang berbeda dan akhir dari setiap kita tidak akan pernah sama.”

Aku menatap Agana dengan raut bertanya, “Aneh ya? Akhir – akhir ini selalu capek dengerin omongan orang – orang, kalo aku sudah dewasa tapi nggak bisa ngapa – ngapain buat ayah,” Jelas Agana dengan cengiran khasnya, membuatku mengangguk paham.

Satu pertanyaan timbul di benakku, “Menurut lo, lo udah dewasa?” tanyaku.

Agata mengerutkan dahinya, terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangguk, “Sudah,” kata Agana.

“Apa buktinya?” Tanyaku kembali tidak percaya.

“Aku nggak akan kayak anak kecil yang jongkok dipinggir jalan sambil nangis, cuma karena bertengkar sama mama.” Jawab Agana, tepat sasaran, ia menyindirku, mendengernya wajahku memerah.

 “Apaan sih!” Ujarku memalingkan wajah darinya.

Agana tertawa pelan, “Bercanda, gitu doang ngambek,”

Aku tidak menanggapi Agana, memilih menutup mataku dan menyembunyikan kedua mataku, “Yan, kamu pernah sadar nggak sih sama ekstensi aku selama ini, jangan buka mata dulu, biar aku bisa bicara dengan leluasa. Aku selalu kagum sama kamu, siapa yang nggak kenal anak jenius Sean Ardintara di sekolah kita? Yang sayangnya dijauhi cuma karena berita papanya yang ninggalin dia ke amerika demi selingkuhannya. Aku tu salut banget liat kamu yang tetap bersinar terang walau orang – orang disekitar kamu berusaha niup cahaya kamu biar mati,” Agana menghentikan kalimatnya sesaat, “Sean, kalo seandainya kamu capek, kamu haru selalu ingat kamu punya teman kayak aku, aku masih bisa jadi pendengar yang baik kok haha,” Agana mengakhiri kalimatnya dengan tawa gamang.

Aku masih bertahan dengan posisiku, mengulangi kembali pertanyaanku, “Apa tandanya kalo lo dewasa?”

“Karena gue bisa menerima segala hal dengan cara paling sederhana. Kata ayah dewasa itu bukan hanya tentang angka yang bertambah pada manusia, namun tentang bagaimana manusia menyikapi setiap hal yang terjadi, agar hal itu tetap menjadi istimewa walau dengan cara paling sederhana sekalipun.”

“Kata mama, aku udah dewasa,” entah mengapa kalimat itu terucap begitu saja, bahkan tanpa sadar aku memperbaiki kosa kataku untuknya, aku menatap tepat di matanya, ia tersenyum, senyum yang menenangkan, “Udah kok, bahkan jauh lebih dewasa dari yang dibayangkan, kamu cuma lelah, sesekali coba cerita ke mama kamu, tentang apa saja, tentang bagaimana kamu terasa hari begitu menyebalkan hanya karena tugas matematikamu yang dipinjam oleh sekelas, tentang betapa berdebarnya kamu mengatahui bahwa hari itu kamu menatap orang yang kamu sukai untuk pertama kalinya,” Suara Agana benar – benar candu, sesekali ia memperbaiki rambutku yang tampak tak rapi.

“Kamu menyadarinya?” Tanyaku

“Setelah dua tahun dan kita hampir lulus, siapa yang tak menyadarinya,” Jawab Agana.

“Aku tidak pernah tahu,”

“Sekarang sudah,”

“Jangan pergi,” Pintaku pelan.

“Semoga saja.” Kali ini Agana mengeluarkan sebuah lilin, dan bolu yang ia beli tadi di Indomaret bersamaku. Ia menghidupkan lilin yang sudah tertancap di kue bolu itu, dan mengarahkannya padaku.

“Sean, selamat ulang tahun.” Ucapanya, aku mengangguk, tersenyum tulus.

“Angka tujuh belasnya usai, selamat bertamah dewasa, semoga lebih bahagia.” Doa Agana. Aku mengangguk, menutup kedua mataku, tidak ada yang kusampaikan, hari ini aku hanya ingin tenang, sebelum esok tiba dan semua tak lagi sama. (bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber:

Berita Terkait