DISWAY BARU

Sebuah Pembacaan Epistemologis dan Peradaban Transintegratif

Sebuah Pembacaan Epistemologis dan Peradaban Transintegratif

Prof. Dr. H. Suaidi Asyari, MA., PhD Guru Besar Pemikiran Politik Islam UIN STS Jambi)-Ist-

(Prof. Dr. H. Suaidi Asyari, MA., PhD Guru Besar Pemikiran Politik Islam UIN STS Jambi

JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Pendahuluan: Isra dan Mi'raj sebagai Peristiwa Epistemik Trans-Peradaban

Dalam hari-hari H-10 dan H+10 atau lebih ini umat Islam Indonesia melaksanakan peringatan peristiwa isra dan Mi’rajnya Nabi Muhammad Saw. Sebuah upaya perenungan dan pembaharuan pemahaman peristiwa keagamaan masa lalu dengan lensa kehidupan masa kini. Peristiwa Isra dan Mi'raj sering didekati dalam wacana ibadah dan aqidah Islam sebagai perjalanan suci yang menegaskan otoritas kenabian dan kemahakuasaan ilahi. Namun, dari perspektif filosofis dan peradaban manusia yang lebih luas, Isra dan Mi'raj mewakili peristiwa epistemik transintegratif—suatu momen di mana wahyu, akal, pengalaman, dan imajinasi moral bertemu melampaui batas-batas sejarah linier dan reduksionisme empiris.

BACA JUGA:Pertumbuhan Penduduk di Kota Jambi, Dukcapil Catat Kenzi–Shanum Jadi Nama Bayi Terpopuler

Bagi masyarakat kontemporer—khususnya generasi yang hidup dengan Kecerdasan Buatan (Artificial Inteligence, AI) yang menavigasi rasionalitas algoritmik, spekulasi pasca-manusia, dan percepatan teknologi—pemahaman tentang Isra dan Mi'raj menawarkan koreksi yang mendalam: pengetahuan tidak habis oleh komputasi, dan realitas tidak terbatas pada apa yang dapat diukur secara kasat mata. Dalam Paradigma Transintegrasi Pengetahuan (dalam proses terbit), Isra dan Mi'raj mencontohkan reintegrasi kebenaran metafisik, tanggung jawab etis, dan kesadaran empiris ke dalam pandangan dunia terpadu (unified worldview) yang berorientasi pada Keesaan Tuhan (tawḥīd).

BACA JUGA:8 Pejabat Eselon II Dilantik, Maulana Warning Wajib Hafal Program Kota Jambi Bahagia

1. Konteks Sejarah sebagai Persiapan Epistemik: Pengetahuan Lahir dari Krisis

Isra dan Mi'raj terjadi pada saat terjadi keretakan eksistensial yang mendalam dalam kehidupan pribadi Nabi Muhammad—setelah kehilangan pribadi dicintai, Siti Khodijah, penolakan sosial kenabian, dan kerentanan politik. Konteks sejarah ini bukanlah kebetulan; ia sangat menentukan secara epistemologis. Dalam Paradigma Transintegrasi, pengetahuan tidak hanya dihasilkan dalam kondisi nyaman, tetapi sering muncul dari ketegangan eksistensial dan perjuangan moral.

Secara peradaban, pandangan ini menantang asumsi modern bahwa inovasi hanya muncul dari kelimpahan materi dan stabilitas institusional. Isra dan Mi'raj mengajarkan bahwa peningkatan epistemik didahului oleh ketahanan etis. Sebelum naik ke langit, Nabi menanggung kerasnya bumi. Rangkaian peristiwa ini menetapkan hierarki nilai yang sangat kontras dengan peradaban teknokratis yang mengutamakan kekuasaan sebelum kebijaksanaan/kearifan dan kecepatan sebelum makna.

Bagi masyarakat kontemporer, terutama yang didorong oleh percepatan dahsyar yang didukung AI, episode ini mengingatkan kita bahwa keberlanjutan peradaban tidak bergantung pada dominasi teknologi tetapi pada ketahanan moral manusianya.

2. Melampaui Ruang dan Waktu: Metafisika di Luar Determinisme Teknologi

Jika direnungkan dengan seksama, sifat metafisik Isra dan Mi'raj menggoyahkan epistemologi modern yang berakar secara eksklusif pada kausalitas material. Perjalanan Nabi melampaui batasan ruang dan waktu tanpa mediasi mekanis, menunjukkan bahwa realitas memiliki lapisan yang tidak dapat diakses hanya dengan instrumentasi empiris saja.

Dalam Paradigma Transintegrasi, hal ini menegaskan koeksistensi berbagai domain epistemik: wahyu (waḥy), akal (ʿaql), pengalaman (tajrībah), dan intuisi spiritual (kashf). Isra dan Mi'raj bukanlah anomali yang menentang sains, tetapi pengingat bahwa sains itu sendiri beroperasi dalam cakrawala ontologis yang lebih luas.

Bagi masyarakat kontemporer, khususnya generasi AI, wawasan ini sangat penting. Artificial Inteligence unggul dalam pengenalan pola dan inferensi probabilistik, namun tetap bersifat derivatif secara ontologis—bergantung pada niat manusia, pemilihan data, dan kerangka nilai. Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa Isra dan Mi'raj dapat mengungkap kekeliruan absolutisme teknologi: kecepatan bukanlah transendensi, dan kecerdasan bukanlah kebijaksanaan. Peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi ketika teknologi informarsi belum lahir.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: