Sebuah Pembacaan Epistemologis dan Peradaban Transintegratif
Prof. Dr. H. Suaidi Asyari, MA., PhD Guru Besar Pemikiran Politik Islam UIN STS Jambi)-Ist-
Dengan demikian, salat menjadi bentuk teknologi spiritual—bukan dalam arti instrumental, tetapi sebagai praktik disiplin yang melindungi martabat manusia dari reduksi menjadi data atau fungsi.
Kesimpulan: Isra dan Mi'raj sebagai Cetak Biru Peradaban Transintegrasi
Jika dibaca melalui Paradigma Pengetahuan Transintegrasi, Isra dan Mi'raj muncul sebagai lebih dari sekadar narasi suci; ia adalah cetak biru peradaban. Ia mengajarkan bahwa kemajuan sejati mengintegrasikan wahyu dan akal, metafisika dan empirisme, teknologi dan etika.
Bagi generasi di era Kecerdasan Buatan, Isra dan Mi'raj menawarkan pelajaran penting: masa depan peradaban tidak bergantung pada seberapa cerdas mesin kita, tetapi pada seberapa terintegrasi pengetahuan kita. Ketika pengetahuan terfragmentasi—ketika sains memisahkan etika, dan teknologi terlepas dari transendensi—peradaban akan mengalami kemunduran.
Isra dan Mi'raj mengajak umat manusia untuk naik bukan dengan melarikan diri dari surga secara teknologi, tetapi dengan mengembalikan pengetahuan, kekuatan, dan inovasi ke tempatnya yang semestinya di bawah kedaulatan Yang Mahakuasa. Dengan demikian, ia menegaskan bahwa setiap generasi—termasuk generasi AI—memiliki Mi'rajnya sendiri: pilihan antara fragmentasi dan persatuan, kesombongan dan kerendahan hati, kecepatan dan makna. Cepat, tepat, akurat tentu penting. Tetapi tanggung jawab pemaknaan jauh lebih penting. Semoga bermafaat.(*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



