Natal Oikumene Provinsi Jambi 2025, Serukan Kepedulian Sosial dan Pelestarian Lingkungan
Foto bersama--
JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID– Peringatan dan perayaan Natal identik dengan momon sukacita bagi umat Kristiani. Pada masa Natal, umat Kristiani biasanya mempersiapkan berbagai acara Natal dan aneka hiasan atau ornanem Natal, mempersiapkan yang terbaik untuk merayakan sukacita tersebut.
BACA JUGA:Catatan BMKG Ada 7 Kali Gempa Bumi Guncang Wilayah Agam-Sumbar
Namun, Natal bukan hanya tentang sukacita dan dan kemeriahan, lebih dari itu, ada makna yang sangat dalam, yakni kedamaian dan misi penyelamatan manusia dan dunia. Makna Natal ini kemudian dikuatkan dengan pesan-pesan Natal, baik yang disampaikan melalui khotbah maupun melalui kidung pujian, untuk selanjutnya dilaksanakan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kapolda Jambi, Irjen Pol. Krisno Halomoan, Siregar, S.IK, M.H--
Natal Oikumene Provinsi Jambi Tahun 2025 yang diselenggarakan di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Gedung MHCC, Paal Merah, Kota Jambi, Sabtu (27/12/2025) malam menyerukan kepedulian sosial dan pelestarian lingkungan. Natal yang mengusung Tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”(Matius 1: 21-24 tersebut dihadiri oleh umat Kristen Katolik dan Kristen Protestan Jambi.
BACA JUGA:Kota Jambi Sebagai Layak Anak Tercoreng, Guru Silat Diduga Cabuli Anak

Wali Kota Jambi, Dr. dr.Maulana, M.KM--
Usai sesi ibadah, yakni dalam sesi perayaan, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jambi hadir dalam perayaan tersebut, yaitu Kapolda Jambi, Irjen Pol. Krisno Halomoan, Siregar, S.IK, M.H. yang juga salah seorang jemaat Kristiani Jambi, mewakili Gubernur Jambi hadir Staf Ahli Gubernur Jambi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kemasyarakatan, dr. Fery Kusnadi, Sp.OG, perwakilan dari Korem/042/Garuda Putih juga hadir. Wali Kota Jambi, Dr. dr.Maulana, M.KM, Ketua DPRD Kota Jambi, Kemas Faried Alfarelly, dan Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Jambi hadir dari Pemerintahan Kota Jambi. Selain itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi, Dr.H. Mahbub Daryanto, M.Pd juga turut hadir.
BACA JUGA:PPPK Paruh Waktu di Sarolangun Bakal Terima SK
Dalam hal jumlah jemaat yang hadir dalam Natal Oikumene Provinsi Jambi, Natal kali ini berbeda karena dihadiri oleh perwakilan dari gereja-gereja yang jumlahnya memang dibatasi. Dalam Natal Oikumene Provinsi Jambi sebelumnya, jemaat yang hadur tidak dibatasi. Namun, pembatasan ini didasari dengan pertimbangan aspek safety (keselamatan), disesuaikan dengan kapasitas atau daya tampung Gedung. Jika pada Natal Oikumene sebelumnya jemaat yang hadir bisa mencapai sekitar 5.000 (lima) ribu orang), yang biasanya dilaksanakan di GOR Kota Baru, kali ini dibatasi untuk 1.200 orang (temasuk panitia), untuk mencegah terjadinya over crowded (kerumunan yang berlebihan) sekaligus upaya antisipatif supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena over crowded. Dan, pembatasan jumlah jemaat yang hadir ini juga sudah melalui kepsepakatan panitia, termasuk pimpinan tiga aras gereja di Provinsi Jambi. Saat ini, atap GOR Kota Baru sedang direhab, dan selama proses rehab, belum digunakan untuk kegiatan.
BACA JUGA:Nataru 2025/2026, Arus Masuk-Keluar Malang Naik 14,08 Persen
Dalam Natal ini, khotbah disampaikan oleh Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Jambi, Pendeta Walsen Napitu, S.Th., M.A. pendeta Walsen Napitu mengatakan, selaras dengan tema Natal, Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga, seiring dengan persekutuan pertama yang ada di dunia adalah keluarga, setelah itu gereja, kemudian pemerintahan. “Keluarga yang sehat, gereja juga sehat, dan pemerintahan juga sehat,” ujar Pendeta Walsen Napitu.
BACA JUGA:Lewat Jalur Darat, Pertamina Pasok BBM ke SPBU Bener Meriah
Pendeta Walsen Napitu mengemukakan, suasana Natal dan menjelang tahun baru kali ini diwarnai dengan duka dan empati yang mendalam kepada masyarakat Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang menghadapi dampak bencana banjir dan longsor, serta bencana di beberapa daerah di Indonesia. Namun, bencana-bencana tersebut tidak mereduksi makna Natal, bahwa Natal harus tetap pada inti teologis, inkarnasi Allah menjadi manusia, turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia dan dunia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



