Salah satu dimensi Mi'raj yang paling signifikan secara filosofis adalah serangkaian adegan simbolik yang diperlihatkan kepada Nabi—gambaran konsekuensi moral yang disajikan bukan sebagai doktrin abstrak, tetapi sebagai realitas yang dialami. Peristiwa demi peristiwa yang disingkapkan kepada Nabi menyajikan etika bukan sebagai aturan eksternal yang dikenakan pada perilaku manusia, tetapi sebagai proses ontologis di mana tindakan mengkristal menjadi bentuk yang abadi. Dalam pengertian ini, Mi'raj menawarkan bentuk epistemologi moral yang berlandaskan pada visibilitas: kebenaran pada akhirnya diungkapkan, dan niat tersembunyi menjadi nyata (tidak dapat disembunyikan lagi pada waktunya).
Cara kognisi moral ini sangat kontras dengan kecenderungan modern untuk memperlakukan etika sebagai sesuatu yang dapat dinegosiasikan, prosedural, atau bergantung pada kekuasaan institusional. Mi'raj mengungkapkan bahwa kausalitas moral beroperasi secara independen dari pengakuan manusia atau validasi hukum. Apa yang disembunyikan dalam kehidupan sosial—melalui status, otoritas, atau kecanggihan teknologi—tetap sepenuhnya transparan dalam arsitektur moral realitas itu sendiri.
Wawasan ini sangat relevan di era yang dibentuk oleh teknologi canggih, di mana penipuan, manipulasi data, dan tipu daya sistemik dapat direkayasa dengan cermat dan dipertahankan untuk sementara waktu. Dari perspektif transintegratif, semua bentuk pemalsuan—baik melalui manipulasi digital, distorsi algoritmik, kolusi antar institusional, atau kepura-puraan ketidaktahuan tradisional—meninggalkan jejak ontologis yang tidak dapat dihapus hanya dengan kemampuan teknis. Ijazah palsu, karya ilmiah hasil plagiat yang disajikan sebagai prestasi orisinal, persyaratan yang dipalsukan untuk peringkat jabatan akademis atau profesional, dan janji-janji politik yang menipu yang dibuat dalam kontes legislatif atau eksekutif mungkin berhasil secara pragmatis dalam jangka pendek. Namun secara epistemik, mereka tetap merupakan konstruksi yang tidak stabil, yang hanya dapat dipertahankan oleh lapisan penyangkalan dan penundaan sementara saja.
Oleh karena itu, rangkaian peristiwa yang ditampilkan ke hadapan Nabi selama Mi'raj berfungsi sebagai pengingat metafisik tentang pengungkapan kebenaran pada akhirnya. Adegan-adegan tersebut menegaskan bahwa penipuan dapat ditunda, tetapi tidak dapat dibatalkan secara ontologis. Pengetahuan, dalam arti sepenuhnya, memiliki kecenderungan intrinsik untuk terwujud. Dalam kerangka transintegratif, ini bukan sekadar klaim teologis tetapi juga klaim epistemologis: kebenaran secara struktural berorientasi pada pengungkapan, sementara kepalsuan membutuhkan pemeliharaan eksternal terus-menerus untuk bertahan hidup.
Pemahaman ini sangat selaras dengan perkembangan kontemporer dalam teknologi simulasi, lingkungan virtual, dan sistem prediktif berbasis AI. Teknologi modern dapat mensimulasikan keberhasilan, kredibilitas, dan legitimasi dengan presisi yang luar biasa. Namun perlu diingat, simulasi ini sering beroperasi tanpa akuntabilitas moral, mengoptimalkan hasil sambil tetap acuh tak acuh terhadap kebenaran atau integritas. Mi'raj mengungkap keterbatasan sistem tersebut dengan mengungkapkan bahwa realitas itu sendiri tidak netral secara moral. Setiap tindakan—baik manusia maupun yang dimediasi teknologi—berpartisipasi dalam tatanan moral yang melampaui logika komputasi.
Dari sudut pandang transintegratif, ini secara langsung menantang asumsi yang meluas bahwa algoritma, sistem data, atau prosedur kerja kelembagaan dapat tetap netral secara etis. Teknologi tidak hanya memproses informasi; teknologi mewujudkan nilai-nilai, niat, dan hubungan kekuasaan. Ketika digunakan untuk mengaburkan kebenaran—baik dalam pemberian kredensial akademis, tata kelola, atau kepercayaan publik—mereka justru memperkuat penipuan daripada menghilangkannya. Isra dan Mi'raj mengingatkan kita bahwa tidak ada sistem—kosmik, sosial, atau digital—yang ada di luar pertanggungjawaban moral.
Dalam konteks peradaban, pemahaman ini mengandung peringatan yang sangat mendalam. Masyarakat yang menormalisasi penipuan dengan kekuasaan, jaminan jabatan atau ancaman fisik, uang, atau melalui kecanggihan teknologi berisiko membangun seluruh rezim pengetahuan di atas fondasi yang tidak stabil. Apa yang tampak efisien, sukses, atau berwibawa mungkin sebenarnya hampa secara epistemik. Mi'raj menyerukan kepada individu dan institusi untuk menyadari bahwa visibilitas moral bukanlah pilihan, dan bahwa keberhasilan kebohongan yang tampak selalu bersifat sementara. Dalam perjalanan panjang realitas, kebenaran tidak hanya menang secara etis—tetapi juga menegaskan kembali dirinya secara ontologis.
4. Kemajuan Ilmiah dan Kesadaran Tauhid
Jika dibaca melalui lensa transintegratif, kemajuan dalam sains dan teknologi bukannya melemahkan iman, sebaliknya justru memperkuat kesadaran akan Kemahaesaan dan Kemahakuasaan Ilahi. Ketika kosmologi mengungkapkan penyesuaian yang tepat, ilmu saraf mengungkap kompleksitas kognitif, dan AI mengungkap perilaku yang muncul, pertanyaannya bergeser dari bagaimana sesuatu bekerja menjadi mengapa pemahaman seperti itu ada sama sekali. Dalam pemahaman secara perlahan dan mendalam semuanya akan berujung kepada Yang Maha Esa juga.
Isra dan Mi'raj menegaskan bahwa semua pengetahuan pada akhirnya mengarah melampaui dirinya sendiri. Dalam Paradigma Transintegrasi, penemuan empiris bukanlah sekuler atau sakral secara otomatis; ia menjadi bermakna secara etis ketika berorientasi pada tauhid. Oleh karena itu, kecerdasan buatan tidak boleh ditakuti sebagai saingan keunikan manusia, atau dirayakan sebagai pengganti agensi moral. Ia harus dipahami sebagai ujian kerendahan hati epistemik dan tanggung jawab etis.
Peradaban yang gagal mengintegrasikan kekuatan teknologi dengan akuntabilitas metafisik berisiko menghasilkan alat yang melampaui kebijaksanaan—pola yang berulang dalam sejarah manusia.
5. Salat sebagai Mi'raj Harian: Mengintegrasikan Kembali Waktu, Tubuh, dan Kesadaran
Institusi salat selama Mi'raj mungkin merupakan warisan peradaban yang paling radikal. Salat bukan hanya diwajibkan; dijemput oleh Nabi dan diwahyukan sebagai kebutuhan struktural bagi keberadaan manusia. Dalam istilah transintegratif, salat berfungsi sebagai reintegrasi harian ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Dalam dunia yang dimediasi AI yang ditandai dengan aktivitas terus-menerus dan beban kognitif berlebih, salat mengganggu tirani otomatisasi. Salat mengarahkan kembali waktu dari produktivitas semata menuju kehadiran, akuntabilitas, dan transendensi. Sementara sistem buatan mengoptimalkan efisiensi, salat menumbuhkan makna. Sementara mesin beroperasi terus-menerus, salat memulihkan ritme dan keseimbangan minimal lima kali dalam satu hari satu malam.
Dengan demikian, salat menjadi bentuk teknologi spiritual—bukan dalam arti instrumental, tetapi sebagai praktik disiplin yang melindungi martabat manusia dari reduksi menjadi data atau fungsi.
Kesimpulan: Isra dan Mi'raj sebagai Cetak Biru Peradaban Transintegrasi