Tyto alba Jadi Solusi Ramah Lingkungan Atasi Hama Tikus di Perkebunan Sawit Muaro Jambi

Jumat 10-10-2025,12:02 WIB
Reporter : Andri Brilliant Avolda
Editor : Misriyanti

MUAROJAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID — Fakultas Pertanian Universitas Jambi melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jambi, melaksanakan kegiatan bertajuk “Peningkatan Produktivitas dan Keberlanjutan Perkebunan Sawit melalui Pengendalian Hama Tikus Berbasis Tyto alba dan Penguatan Ekonomi Petani Kabupaten Muaro Jambi.”

BACA JUGA:Strategi Fiskal Adaptif untuk Penguatan Kekuatan Perpajakan Daerah

Program ini diterapkan di Desa Bukit Baling, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, bekerja sama dengan KUD Akso Dano sebagai mitra pelaksana melalui Kelompok Tani Tayas yang diketuai oleh Bapak Sutikno.


Tyto alba Jadi Solusi Ramah Lingkungan Atasi Hama Tikus di Perkebunan Sawit Muaro Jambi-Ist-

Kegiatan ini pengabdian diketuai oleh Karina Rahmah, S.P., M.Si., bersama tim dosen Ulidesi Siadari, S.P., M.Sc., Sri Utami Lestari, S.P., M.Si., Ir. Gina Fauzia, S.P., M.Si., dan Dr. Mirawati Yanita, S.P., M.M. serta melibatkan mahasiswa dari Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Fokus kegiatan meliputi sosialisasi, pembuatan gupon (rumah burung hantu), dan pelepasan burung hantu Tyto alba sebagai predator alami hama tikus di lahan perkebunan sawit rakyat.

BACA JUGA:Dukung Program Ekonomi Daerah, Bank Jambi Dorong UMKM Naik Kelas

Pendekatan ini menjadi langkah inovatif untuk menggantikan ketergantungan petani terhadap pestisida kimia yang selama ini berisiko mencemari lingkungan dan menurunkan kualitas ekosistem perkebunan. Program ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menekankan partisipasi aktif petani mulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi hasil.

Ketua kelompok tani, Bapak Sutikno, menyampaikan bahwa sejak pemasangan satu unit rumah burung hantu atau gupon di lahan seluas 50 hektare, petani mulai merasakan perubahan nyata.

“Sebelumnya, hampir setiap minggu kami harus semprot pestisida. Sekarang, serangan tikus berkurang dan kami bisa hemat biaya,” ujarnya.

Hasil pengamatan selama tiga bulan menunjukkan adanya penurunan populasi tikus sekitar 28%, penurunan tingkat serangan hama dari 18,5% menjadi 11,2%, serta pengurangan penggunaan pestisida kimia hingga 20%. Dampaknya, produktivitas tandan buah segar (TBS) meningkat dari 15,8 ton/ha/tahun menjadi 16,4 ton/ha/tahun, dengan efisiensi biaya produksi yang lebih baik.

Menurut Karina Rahmah, S.P., M.Si., penerapan Tyto alba bukan hanya soal pengendalian hama, tetapi juga bagian dari pemberdayaan masyarakat.

“Kami ingin petani tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pelaku konservasi. Dengan memahami fungsi ekologis burung hantu, petani belajar menjaga keseimbangan alam sekaligus meningkatkan hasil kebun mereka,” jelasnya.

Program konservasi ini juga membuka peluang ekonomi baru melalui penangkaran Tyto alba, yang permintaannya meningkat di wilayah perkebunan sawit. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga pada ekonomi dan kelembagaan petani.

Tim pengabdian berharap keberhasilan awal ini dapat direplikasi di wilayah lain di Provinsi Jambi dan daerah perkebunan sawit rakyat dengan karakteristik serupa. Upaya kolaboratif antara akademisi, pemerintah daerah, dan kelompok tani menjadi kunci dalam mewujudkan sistem perkebunan yang produktif sekaligus berkelanjutan. (*/aan/adv)

 

Kategori :