Di Luar Nalar! Suami Sekap Istri di Kandang Sapi, Sebelumnya Disiksa Dulu Hingga Babak Belur

Minggu 17-03-2024,12:28 WIB
Reporter : Dona Piscesika
Editor : Dona Piscesika

JAMBIEKSPRES.CO.ID – Tak terbayang bagaimana penderitaan yang dirasakan Supiati atau Bu Tika usai mendapat perlakuan di luar nalar dari suaminya sendiri.

Perempuan berusia 48 tahun ini mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di rumahnya di Dusun Krajan, Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, Jember.

Pelakunya adalah sang suami bernama Hermawan atau sering dipanggil Toheri usia 51 tahun.

Kejadian ini ketahuan pada Kamis (7/2/2024) kemarin, ketika Bu Tika ditemukan warga di sebuah Gudang yang tak jauh dari rumahnya.

Mengapa sampai ke gudang? Karena ternyata Bu Tika berhasil melarikan diri mencari pertolongan setelah disekap suaminya di kandang sapi dalam kondisi babak belur tangan terikat rantai.

Kronologi Kejadian

Kapolsek Wuluhan, AKP Solikhan Arief, kepada media pada Sabtu (16/3/2024) mengatakan, kejadian ini bermula dari kekesalan pelaku terhadap istrinya.

Pelaku marah karena istrinya itu pergi selama kurang lebih dua bulan dari rumah untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Medan Sumatera Utara.

Sang istri berangkat tanggal 23 Desember 2023 lalu pulang kembali ke Jember 4 Maret 2024.

Saat korban pulang inilah, pelaku yang merasa tersinggung istri pergi tanpa pamit, langsung marah. Lalu antara mereka berdua cekcok mulut hingga berujung kekerasan yang dilakukan oleh suami.

Menurut pengakuan korban kepada polisi, malam kejadian itu, ia disiksa oleh pelaku dengan cara dipukul pakai kayu.

Sementara korban saat itu tak mampu melawan karena dalam posisi tangan kosong dan masih kelelahan melalui perjalanan dari Medan.

“Hampir sekujur tubuh korban mengalami luka lebam, yang paling banyak itu pada bagian kepala dan badan,” lanjut AKP Solikhan.

Tak puas hanya sekedar menyiksa dengan pukulan kayu, kemudian tiga hari kemudian tepatnya Kamis (7/3/2024), pelaku lanjut mengurung istrinya di kandang sapi dan mengikat tangan sang istri dengan tali dan rantai.

Dalam poisisi sekujur tubuh masih babak belur dan kesakitan, tangan diikat, kemudian korban diikat di sebuah tiang yang ada di dalam kandang dengan tujuan agar korban tak bisa lari dari dalam kandang.

"Tujuan pelaku agar korban tidak kabur,” kata AKP Solikhan.

Beruntung setelah dikurung, korban berhasil membuka ikatan dari tiang, namun tangan tetap masih terbelenggu rantai, Bu Tika berhasil kabur dari kendang sapi lalu lari ke sebuah gudang.

Saat berada di Gudang inilah kemudian ada warga yang mendengar suara perempuan merintih minta tolong.

Warga pun datang dan memeriksa gudang. Alangkah kagetnya, ternyata ada seorang perempuan dengan kondisi tangan terikat, wajah dan tubuh babak belur.

Kemudian warga langsung mengantar korban ke Polsek Wuluhan agar Bu Tika bisa dilindungi dari upaya jahat pelaku selanjutnya.

Anak Trauma Pelaku Ditangkap

Mirisnya lagi, ternyata aksi penyiksaan yang dilakukan pelaku diketahui pula oleh sang anak bungsu mereka yang masih duduk di bangku kelas 6 SD.

AKP Solikhan mengatakan pelaku dan korban memiliki tiga orang anak, anak pertama bekerja di Bali, anak kedua ikut kakeknya di Bondowoso dan anak bungsu bersama mereka.

Anak bungsu ini juga telah dilakukan trauma healing oleh pihak Polsek. Tim Polsek membawanya jalan-jalan, termasuk mengunjungi pondok pesantren (ponpes).

Sengaja di bawa ke ponpes karena memang kebetulan sang anak sangat ingin mondok jika tamat SD nanti. “Soal rencananya mondok ini, nanti akan kami bantu juga,” lanjutnya lagi.
 
Sementara itu, sang pelaku, juga telah berhasil ditangkap oleh tim Satreskrim Polsek Wuluhan. Kepada polisi pelaku mengaku kesal karena sang istri sering pergi tanpa pamit, banyak hutang dan juga ada motif cemburu curiga istrinya punya pria idaman lain.

Kini pelaku sedang diproses untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai undang-undang yang berlaku. (*)


Kategori :