Pemda Tak Mampu Intervensi Harga Cabai, di Kota Jambi Harga Tak Kunjung Turun

Pemda Tak Mampu Intervensi Harga Cabai, di Kota Jambi Harga Tak Kunjung Turun

Ilustrasi: Cabai rawit merah.-Pixabay-

JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Pasokan cabai di Kota Jambi tidak berkurang. Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Jambi bahwa setiap hari, pasokan cabai di Kota Jambi mencapai 25 ton.

Cabai tersebut didistribusikan ke beberapa pasar, dan juga wilayah sekitar Kota Jambi, seperti Batanghari dan Muaro Jambi. Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Jambi, Yon Heri mengatakan, pasokan cabai di Kota Jambi tidak berkurang.

"Ada terus. Cabai itu didistribusikan lewat Pasar Induk. Semuanya mencukupi untuk kebutuhan Kota Jambi," katanya. Lebih lanjut Yon Heri menyebutkan, melonjaknya harga cabai tersebut dikarenakan beberapa faktor yang dialami produsen.

"Seperti cuaca, gagal panen, dan juga biaya produksi yang sudah mahal. Seperti pupuk mahal, kemudian ada gangguan hama. Sehingga biaya untuk menghasilkan cabai itu memang sudah mahal," jelasnya.

Menurut Yon Heri, pemerintah daerah tidak bisa melakukan intervensi pasar. Sebab, kondisi ini terjadi di tingkat produsen. "Sudah Saya tanyakan juga ke Bulog. Jawabannya tidak bisa diintervensi, kecuali komoditas seperti beras, minyak goreng, gula atau lainnya," sebut Yon.

"Kalau cabai tidak bisa, yang melakukan intervensi adalah pusat. Seperti pemberian pupuk subsidi, bibit, dan lainnya," tambahnya.

Sementara itu, harga cabai di Kota Jambi sendiri saat ini masih berkisar Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dikatakan salah satu pedagang Cabai di Angso Duo, Yusma, dua hari lalu sempat turun antara Rp 76 ribu hingga Rp 100 ribu. "Tapi hari ini (Kemarin,red) harganya naik lagi," katanya

Yusma menyebutkan, naiknya harga cabai ini sudah hampir satu bulan, dan harganya memang masih tinggi.

"Kalau jualan tidak ada pengaruhnya, cabai tetap laku. Hanya pembeli sering ngeluh," katanya.

Sementara itu Anjang, salah satu pedagang nasi padang serba Rp 10 ribu di kawasan Broni mengaku kesulitan dengan tingginya harga cabai saat ini.

"Kami yang jualan nasi serba Rp 10 ribu ini sulit. Mau naikkan harga takut tidak laku, tidak kita naikkan jadi rugi," katanya.

Untuk mengantisipasi kondisi itu, kini pihaknya tidak lagi memakai cabai merah. "Saya banyak pakai cabai hijau. Harganya lebih murah," katanya. Anjang mengaku, pihaknya saat ini belum berencana akan menaikkan harga nasi bungkus. (hfz)

Sumber: