Bagian 6: “Jangan Terlambat, Tolong Jingga”

Bagian 6: “Jangan Terlambat, Tolong Jingga”

Ary--

Tak salah bila aku memimpikanmu

Menjadi salah ketika ku mengharapkanmu

Kamu yang jauh di sana

Dan telah bersama dia

Terlambat sudah

Menyesal selalu terakhir

Di saat semua telah terjadi

Semua kini jadi kenangan

Kau tak ada di sisiku lagi

 

-Hanin Dhiya, Terlambat Sudah

֍♠♠♠♠֍

“Ini lebih enak sakit gigi dibanding sakit hati, sakit gigimah paling cenat cenut doang, kasih obat hilang. Sakit hati, udahlah lukanya nggak kelitan, sembuhnya cuma bisa sama waktu, iya kalo sebentar, kalo lama gimana mamennn?!”

-Sakula Abinala, Mantan gagal Moveon 2022

>>>***<<<

Jingga menggigit bibirnya gugup, berkali – kali ia pastikan penampilannya mala mini, bahkan sudah tak terhitung berapa kali Jingga terus terusan melihat wajahnya, memastikan makeup-nya tampak senatural mungkin malam ini. Jingga melirik arlojinya, padahal janji ia bertemu dengan Aji pukul setengah delapan. Namun, Jingga sudah siap di pukul tujuh, bahkan Jingga sudah berada di tempat mereka berjanji untuk bertemu satu sama lain.

“Ren, make up gue menor banget nggak sih?” Rena memutar bola matanya malas mendengar perkataan Jingga, ditaruhnya tusuk satenya dengan kasar. Rena berdecak, sejak kapan sahabatnya ini begitu takut dengan penampilannya, padahal setau Rena, Jingga adalah seseorang yang begitu percaya dengan kecantikan yang ia alami.

“Tumben banget lo peduli, biasa juga lo pakai make up lebih dari ini,” Ujar Rena, Jingga mengerucutkan bibirnya, “Soalnya yang mau gue temui malam ini orangnya beda,” Balas Jingga menghela nafas pelan. Namun, mengingat Aji lah yang akan ditemuinya, Jingga tersenyum senang.

“Perasaan pas sama si Abi lo nggak gini banget deh,” Kata Rena heran, “Gue jadi kepo siapa orang yang bisa ngebuat lo sampe segininya.” Lanjut Rena. Rena mengenal Jingga lebih dari dua belas tahun, seumur – umur hidupnya Jingga tidak akan pernah sepanik ini untuk bertemu seseorang, selain karena Jingga yang memang cantik, Jingga yakin dengan sifatnya yang lembut dan sedikit manja siapa yang tidak akan luluh dengannya, walau Rena sangat tau bahwa sifat Jingga yang sebenarnya di luar nalar, sahabatnya itu terlalu banyak menipu orang lain.

Jingga tersenyum kecil, mengaduk es teh didepannya pelan, “Lo tahu, gue bahkan nggak tau kenapa gue bertingkah sampe segininya buat dia?” Bisik Jingga pelan yang masih dapat didenger oleh Rena. “Tapi dia kere nggak sih Jingga, soalnya gue nggak pernah liat lo pulang naik mobil atau bawa makanan yang enak – enak lagi, bahkan sampai hari ini gue nggak pernah ngeliat dia ngasih lo hadiah,” Ujar Rena, Jingga memaklumi Rena dengan sifat matreliastisnya, tidak heran setiap Jingga akan menjalin hubungan asmara, Rena hanya akan bertanya apa lelaki yang ia kencani itu kaya atau tidak. Bagi Rena cinta itu sampah, yang ia butuhkan hanya uang untuk hidup bahagia.

“Pola pikir lo tu Ren, sesekali harus dibenahi! Uang nggak bisa ngebuat lo selamanya bahagia,” Nasehat Jingga yang dibalas dengusan malas oleh Rena.

“Gue ngerasa sayang tau nggak sih lo putus sama Abi, dia kan sayang banget sama lo.” Setelah dua bulan, akhirnya Jingga dan Rena kembali membahas Abi, mantan kekasih Jingga.

“Sayang dia sama aja dusta kalo gue jadi nomor dua,” Jingga kesal mengingatnya, selama dua tahun hubungannya dengan Abi, Jingga begitu bodoh hingga tidak menyadari bahwa mantan kekasihnya itu memiliki kekasih lain selain dirinya.

“Ya, tapi kan…” Jingga segera menaruh telunjuknya di bibir Rena, “Lo tahu Rena, gue paling nggak suka sama sifat lo yang satu ini, nggak semuanya bisa diukur pake uang.” Lagi – lagi Jingga menasehati Rena dengan kalimat yang sama, tak peduli betapa sering Jingga mengingatkan Rena, sesering itu Rena acuh terhadap nasihatnya.

“Cih! Gue yakin yang ini kalah banyak dari Abi,” Rena masih ngotot dengan pendapatnya, mengagungkan mantan kekasih Jingga itu, yang dibalas gelengan kepala oleh Jingga, “Lama – lama gue ngerasa lo lebih cocok jadi pacara Abi dibanding gue,” Komentar Jingga yang membuat keterdiaman Rena. Jingga tidak bodoh untuk menyadari seluruh gelagat Rena, sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu darinya.

“Abi itu ganteng, gue akui. Dia kaya, cinta sama gue, husband material banget Abi tuh,” Ujar Jingga tiba – tiba, “Tapi, Abi nggak pernah puas sama satu hal Rena. Abi nggak pernah bisa buat gue jadi satu – satunya untuk dia,” Jingga menatap nanar Rena tepat di netranya, seharusnya Rena tahu betapa Jingga juga hancur untuk memutuskan dua tahun hubungan yang susah payah mereka bangun, seharusnya Rena lebih mengerti perasaan Jingga dibanding siapapun. Jingga bangkit dari duduknya, “Udah hampir jam setengah delapan, kalo lo mau pulang, pulang aja. Gue duluan,” Pamit Jingga meninggalkan Rena.

Jingga menunggu tak jauh dari pedagang sate tempatnya dan Rena tadi, tidak ada yang spesial di malam ini kecuali pertemuannya dengan Aji. Jingga terkikik geli, tak sabar untuk bertemu Aji dalam beberapa menit kedepan, bayangan Aji yang tersenyum manis saja mampu membuat Jingga merasakan ledakan kupu – kupu di sekitarnya, bahkan jantung Jingga berdetak lebih cepat. Jingga benar – benar bahagia, bahkan sensasi yang ia rasakan hanya memikirkan ia dan Aji akan bertemu sebentar lagi mampu membuatnya salah tingkah. Ah, seandainya Aji tahu, sudah tak terhitung berapa skala kebahagian Aji kini. Jingga menatap langit malam, membuat memorinya memutar kembali perkataan Aji saat mereka terjebak hujan.

“Sayang banget ya hari ini hujan, padahal kalo enggak aku bisa ngeliatian kamu bintang – bintang. Enza paling suka ngajakin aku liat bintang malam – malam.” Aji menyayangkan malam itu, bukan hanya Aji yang merasa tidak senang, melainkan Jingga juga. Jingga tidak pernah bosan mendenger cerita Aji, laki – laki itu selalu mampu membuat perasaan Jingga campur aduk setiap berkisah. Bahkan rasa penasaran Jingga terhadap keluarga Aji sudah tidak terbendung lagi, tentang Masnya Aji yang katanya Jomblo manahun, Mama yang selalu gagal memasak, dan Enza si bungsu, pinky boy yang sangat manja dan menyusuhkan. Selain itu, Jingga selalu menyukai sensasi Aji yang mengganti kata ganti diantara mereka, aku—kamu, terkesan manis dan akrab.

“Aji, cepat datang!” Bisik Jingga, bertepan dengan itu sebuah tangan menepuk pundaknya pelan. Jingga tersenyum sumringah, yang ia nanti – nantikan akhirnya tiba. “Aj—i” Jingga menggantungkan kalimatnya, senyum cerah yang ia tampilkan tadi berganti wajah datar tanpa ekspresi bahkan rautnya tampak tidak bersahabat, “Abi, bukan Aji.” Lelaki yang menepuk pundak Jingga itu adalah Abi, lelaki jangkung yang menjadi mantan kekasih itu Jingga kini tersenyum manis, mengusap kepala Jingga lembut.

“Apaan sih!” Ujar Jingga menepis tangan Abi dari kepalanya, Jingga tidak pernah nyaman dengan tindakan Abi bahkan sejak mereka masih menyandang status sebagai sepasang kekasih, sejak dulu Jingga tidak suka disentuh, namun berapa kalipun Jingga mengatakan ketidaksukaannya itu pada Abi, Jingga hanya akan mendapati sebuah keterdiaman panjang. Jika dulu Jingga membiarkannya, maka kali ini tidak. Toh, Abi bukan siapa – siapanya kini, tidak ada yang perlu dijaga dari mereka. Lagipula, Jingga takut jika nanti Aji tiba – tiba datang dan melihat Abi mengusap kepalanya seperti itu, Aji saja tidak pernah menyentuhnya, lalu apa hak Abi menyentuh Jingga.

Abi menghela nafas, “Kamu kenapa sih yang? Udah dua bulan hubungan kita nggak sehat gini. Ayo bicara baik – baik, kita selesain semuanya,” Ujar Abi menggenggam tangan Jingga lembut yang segera di lepaskan kasar oleh Jingga. Jingga menatap nyalang Abi, “Yang! Yang! Pala lo peyang!” kesal Jingga yang dihadiahi keterkejutan oleh Abi. Sejak mengenal Jingga pertama kali, Abi tidak pernah mendapati Jingga berprilaku seperti ini, kekasihnya itu terbiasa lembut dan manja. Dan melihat Jingga kini, Abi benar – benar tidak menyangka Jingga berubah drastis dalam dua bulan.

“Jingga kamu kenapa sih sebenarnya? Kamu berubah!” Abi bukan seseorang yang memiliki stok sabar banyak, perubahan Jingga membuat emosinya tersulut. Jingga yang ia kenal adalah perempuan yang lemah lembut, perempuan manja yang selalu membuthkannya. Abi tidak menyukai Jingga yang dihadapannya kini.

“Lo yang nggak pernah kenal sama gue! Gue nggak pernah berubah, sejak dulu gue selalu gini!” Kesal Jingga dengan nada bicara kasar, rasanya Jingga sungguh muak melihat wajah Abi kini, sudah tidak terhitung berapa kali Abi terbunuh dalam imajinasi Jingga, sungguh Jingga membenci pria brengsek dihadapnnya ini.

Abi menggertakan giginya kesal, cukup sudah. Jingga sudah melewati batasnya. Abi menarik Jingga kuat, berusah menyeret Jingga untuk pergi dari sini. Jingga memberontak, tangannya terasa sakit, “Sakit, lepas bajingan!” Maki Jingga semakin menyulut emosi Abi, membuat Abi semakin menguatkan cengkaramannya.

“Jangan jadi kayak cewek yang nggak tau aturan, Jingga. Berhenti main – mainnya!” Ujar Abi dingin, Jingga membelalakkan matanya, hatinya panas mendengar perkataan Abi. Abi tidak berhak untuk menilainya, bahkan orangtuanya tidak pernah mengatakan Jingga seperti itu. Mata Jingga memanas namun ini bukan saat yang tepat untuk menjadi lemah.

Jingga menghempaskan tangan Abi, “Lo siapa lo ngatur gue! Lo bajingan! Brengesek! bahkan lo nggak lebih baik dari gue! Jadi nggak usah sok menilai gue, bahkan disaat diri lo nggak lebih dari sampah!” Kesal Jingga berteriak pada Abi.

“Jingga! Jaga mulut kamu!” Tangan Abi mengepal menahan emosinya, jika saja bukan Jingga yang kini dihadapannya, Aji tidak akan segan – segan untuk melayangkan tangannya, menampar orang yang berani mengatai-ngatainya.

“Aku nggak kenal Jingga yang ini, ayo balik kayak Jingga yang dulu. Ayo kita benahi hubungan kita sama – sama,” Abi mengacak surainya pelan, berusaha selembut mungkin berbicara dengan Jingga, menahan egonya mati – matian. “Aku hancur tanpa kamu, Jingga.” Bisik Abi pelan pada Jingga.

Mata Jingga berkaca – kaca, mati – matian ia menahan agar tak sedikitpun cairan bening itu jatuh. Jingga tidak ingin terlihat lemah, siapa bilang Jingga tidak hancur? Jingga sama hancurnya dengan Abi. Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk Jingga, kenangannya bersama Abi sampai kini masih tersusun apik dalam memorinya, Jingga pernah mencintai Abi dengan sangat, menitipkan satu –satunya hati yang ia miliki pada Abi, menjadikan Abi sebagai Labuan terkahir perahu asmaranya. Lalu apa yang dilakukan oleh Abi? Laki – laki itu menyia – nyiakan segala hal yang dilakukan oleh Jingga, meghancurkan hati Jingga hingga habis berkeping – keping. Jingga selalu menahan seluruh perasaannya hanya demi Abi, tentang betapa ia lelah untuk terus berpura – pura menjadi wanita yang lemah lembut dan manja, tentang ketidaknyamanannya setiap Abi menyentuhnya, Jingga menahan segalanya karena ia percaya bahwa Abi mencintainya selayaknya ia mencintai Abi. Jingga berusaha menoleransi segalanya, bahkan dengan ia yang mulai kehilangan dirinya. Dan Abi menduakannya hanya karena ingin diakui? Laki – laki seperti Abi tidak lebih dari bajingan, bahkan rasanya laki – laki yang dicap sampah jauh lebih baik dibanding Abi yang bahkan kata sampah saja tidak mampu menggambarkan betapa buruknya laki – laki yang menyandang status sebagai mantan kekasih Jingga tersebut.

“Kita nggak pernah kenal, dan jangan ngomong sembarangan sama aku. Aku nggak pernah mau balikan sama kamu lagi! Peduliin aja selingkuhan kamu itu!” Pekik Jingga, kali ini sebulir air mata lolos mengalir di pipinya.

“Kenapa sih Jingga? Cuma karena cowo sialan itu kamu, kita selesai gitu aja! Dua tahun Jingga! Dua tahun dan kamu buat ini selesai gitu aja!” Abi berteriak keras, tidak lagi dapat menahan emosinya, menarik paksa Jingga dalam pelukannya. Jingga memberontak, namun tenaganya tidak sekuat Abi yang terus memeluknya, “lepas,” Suruh Jingga terisak, Jingga bahkan memukul punggung dan dada Abi kuat. Namun, pria itu tetap memeluknya erat. Jingga sudah menangis terisak. Jingga tidak menangisi Abi, air matanya terlalu berharga untuk pria bajingan seperti Abi.

Di hadapannya, Jingga dapat melihat pantulan bayanganya, namun ditraksi yang ada di dalam kaca itulah yang membuat Jingga tak dapat menahan air matanya. Disana, pria yang ia tunggu – tunggu sedari tadi berdiri dengan pandangan kecewa, sebuah buket bunga dapat Jingga lihat jelas tertata indah digenggamannya, harusnya malam ini Jingga akan menerima buket itu, kemudian mendengerkan seluruh cerita yang tiada habis – habisnya dari pria yang sudah ia nanti – nanti.

“lepas brengsek!” Jingga memohon pilu, bayangan Aji yang memudar dengan langkah yang terus menjauh memberikan rasa sakit yang lebih luar biasa di hati Jingga.

“Aku sayang kamu, Jingga. Aku cinta kamu.” Pernyataan Abi membuat Jingga tertawa miris, kini tangisnya tak lagi ia tahan, bayangan Aji sepenuhnya menghilang, malam bahagian sepenuhnya tiada. Jingga tidak ingin Aji meninggalkannya dengan pandangan kecewa, Jingga ingin menghabiskan sisa harinya dengan pria idamannya, dengan pria yang ia cintai. Entah sejak kapan, Jingga tidak pernah tau. Jingga tidak tahu sejak kapan rasa itu singgah di hatinya, menatap begitu erat dengan nama Aji di sisinya. Jingga mencintai Aji, terlepas pria itu kembali mencintainya atau tidak, Jingga benar – benar mencintai Aji. (bersambung)

“Aji, jangan pergi,”

 

 

Sumber: