Bagian 22: “How Would You Feel?”

Bagian 22: “How Would You Feel?”

Ary--

“Dia yang menjadi satu – satunya, rotasinya dan segalnya. Bukankah kisah kita jauh terlalu romantis dari mereka yang sudah melegenda?”

>>>***<<<

Rosa tidak tau apa artinya perasaan yang kini ia rasakan pada laki – laki yang terus ia jadikan sandaran dalam setiap dukanya, seberapa keraspun Rosa mencoba untuk menyembukan luka – luka di hatinya, Bumi akan terus menjadi orang pertama yang mengetahuinya.


yamaha--

Bumi akan terus menjadi peraduan terkahirnya untuk menangis dan mengeluh tentang apapun yang sudah ia lalui. Kadangkala Rosa begitu membenci Bumi, mengapa masih bertahan disaat Rosa sudah terang –terangan untuk menyuruhnya pergi. Mengapa masih ada disaat Rosa benar – benar dirinya ingin tiada. Rosa jengah dengan kegamangannya, namun dilain sisi Rosa tak dapat melepas satu – satunya tempat dimana ia merasa ditatap dengan apa adanya, tanpa tuntutan apa – apa, Rosa yang menjadi dirinya sendiri. Bukan Model papan atas dengan ribuan kecantikannya, bukan juga Rosa yang memiliki otak genius. Hanya Rosa, perempuan manja yang cengeng, hanya Rosa yang mencintai Bumi ditengah kemunafikannya.

“Kita nggak selalu bisa nyuruh orang tutup mulut. Tapi kita bisa nutup telinga kita, kita bisa nyaring mana yang harus didengar, mana yang harus enggak. Jangan berubah cuma untuk dapat tempat di mata mereka, mereka yang benar – benar ada dan peduli, nggak akan merasa terganggu sama siapa kamu, kamu ya kamu, bahkan sekalipun dunia bilang kamu itulah kamu inilah. Cuma kamu yang tahu siapa kamu. Tetap jadi Rosa, yang biasanya, yang apa adanya. Ingat, tujuan manusia itu beda – beda. Gak papa nggak mau jadi apa – apa, selama kamu bisa jadi manusia yang layak dan sepantasnya menurut kamu, itu udah keputusan paling bijaksana yang pernah ada,”

Kalimat panjang itu menjadi keterdiaman Rosa, tidak tahu sejak kapan, Rosa selalu melihat Bumi dengan pandangan yang berbeda. Bukan seorang teman, bukan pula seorang kakak, Rosa melihat Bumi hanya sebagai Bumi, laki – laki yang membuat Rosa jatuh sedalam – dalamnya pada pesonanya. Apapun tentang Bumi, rasanya Rosa tidak akan pernah bosan. Bumi itu dewasa, bahkan Rosa acap kali merasa kecil dan tak sebanding jika berada di dekat Bumi. Jika saja Rosa bisa, Rosa tidak hanya ingin menjadi teman, Rosa ingin menjadi satu  -satunya wanita yang Bumi kasahi selain Agana dan Mama Bumi.

“Bumi,” Panggil Rosa, Bumi melihatnya menaikkan sebelah alisanya dengan raut bertanya, “Fase mencintai paling tinggi itu kayak apa?” Tanya Rosa. Bumi tersentak, ini melenceng jauh dari ranah pembahasan mereka, tentang keluhan Rosa sebelumnya, dunia yang terlalu menekannya.

Bumi terdiam sesaat, mengusap pelan rambut Rosa, “Kita yang sakit berkali – kali tapi tetap mengulangis hal yang sama, Cuma buat denger dia ketawa dan senyum. Ingat pepatah yang bilang, hakikat mencintai itu melihat dia bahagai dengan pilihannya, kalo kita termasuk pilihannya, itu hal yang disyukuri. Kalo enggak, berarti kita Cuma bisa berdoa semoga di lebih bahagia, lebih dari kita.” Jelas Bumi.

Rosa tersenyum kecut, Bumi adalah pilihannya, namun Rosa tak pernah dapat menyampaikannya. Ia terjebak diantara maraknya kata perteman, tak ingin menghabncurkan hubungan yang sudah begitu lekat di antara keduanya. Bahkan hanya demi meyakinkan Bumi, Rosa menjalin cinta tanpa terlibat rasa di dalamnya.

Rosa menatap Bumi, “Suatu saat nanti, siapapun yang jadi pilihan kamu, semoga kamu bahagia dengan apapun keputusannya.” Gumam Rosa.

Bumi tertawa pelan, “Aku berharapnya iya, tapi sayangnya nggak.”

Rosa menatap Bumi heran, “Kok bisa,”

Bumi mengangkat kedua bahunya, “Antara aku yang pengcut, atau dia yang nggak sadar sama sekali.”

Tersenyum canggung, Rosa hanya diam. Kemudian memeluk Bumi, “Bumi, jangan liat ke belakang, setelah ini ayo tetap jadi kita yang biasanya.”

Bumi mengangguk pelan, mengusap punggung Rosa, memberikan usapan menenangkan, “Aku….Aku beneren minta maaf, terjebak diantara kata teman itu menyakitkan Bumi. Aku nggak pengen karena perasaan bodoh ini ngebuat kamu jauh, ngebuat kamu pergi dari aku. Aku bodoh dengan terus bohong dan bilang kalo selama ini kamu bukan siapa – siapa untuk aku, kamu bukan apa – apa untuk aku. Kamu…kamu segalanya, Bumi.” Rosa menangis kencang, untuk kali ini biarkan ia egois.

Bumi mematung, tersenyum senang, membalas pelukan Rosa pelan. “Jangan berubah,” bisik  Bumi pelan. Setelahnya memeluk Rosa lebih erat, “Ada tiga hal yang aku cintai, satu Agana, dua musik dan tiga…” Bumi tak melanjutkan lagi kalimatnya.

Rosa melepas pelukannya, “Tiga?” Tanya Rosa memandang Bumi, matanya basah dengan wajah sembab memerah.

“Tiga Rosa,” Setelahnya Bumi tertawa, sedangkan Rosa mematung dengan wajah memerah. Untuk apa Rosa menangis dan takut, jika hati Bumi hanya terkunci padanya. Rosa akan tetap menjadi satu – satunya, rotasinya, dan segalanya. (bersambung)

 

Sumber: