POTENSI INDONESIA, RAKSASA BARU EKONOMI DUNIA

POTENSI INDONESIA, RAKSASA BARU EKONOMI DUNIA

Lupakan BRIC, Ini Zaman MIST

”Indonesia macan Asia”. Ungkapan tersebut mungkin membuat banyak orang tersenyum kecut dan mencibir. Sebagian mungkin menganggapnya angan-angan. Namun, ada baiknya sekarang kita singkirkan awan pekat pesimisme yang menggelayut di atas benak sebagian besar orang Indonesia itu.

 

 

MARI kita lihat prospek perekonomian Indonesia. Di situ akan kita temukan fakta-fakta yang membuncahkan optimisme dan harapan. Ya, Indonesia bukan lagi akan menjadi macan ekonomi di regional Asia, tetapi macan dunia.

Rabu lalu (18/9) McKinsey Global Institute (MGI), salah satu lembaga konsultan bisnis paling prestisius di dunia, menerbitkan buku laporan tentang prospek perekonomian Indonesia. Judulnya cukup menggoda, The archipelago economy : Unleashing Indonesia’s potential. (Ekonomi kepulauan : Menyingkap/ membuka potensi Indonesia).

Dalam laporan setebal 101 halaman tersebut, MGI mengulas rekam jejak kinerja perekonomian Indonesia, prospek masa depan, termasuk memberikan saran bagi pemerintah dan pelaku bisnis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tidak lupa, MGI membuat proyeksi potential size atau besarnya potensi bisnis di Indonesia pada 2030. Potensi itulah yang akan menjadi gula-gula ba gi investor untuk merapat ke Indonesia.

Direktur MGI yang juga Chairman Mc Kinsey Indonesia Raoul Oberman mengatakan, rekam jejak Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sangat luar biasa. Namun sayangnya kurang mendapat apresiasi. ’’Indonesia is the best hidden secret (Indonesia adalah rahasia terbaik yang tersembunyi, Red),’’ ujarnya saat presentasi di Jakarta Rabu lalu (19/9).

Oberman menyebutkan, saat ini, Indonesia sudah menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-16 di dunia dan akan terus tumbuh. Dalam satu dekade terakhir, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi paling stabil jika  dibandingkan dengan negara negara maju yang tergabung dalam OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) dan BRIC (Brasil, Rusia, In dia, China). Ditambah lagi, rasio utang Indonesia terhadap  gross domestic product (GDP) di kisaran 25 persen termasuk yang terendah di dunia.

Menurut Oberman, Indonesia juga diuntungkan dengan sejumlah tren yang kuat. Indonesia terletak di jantung kawasan ekonomi paling dinamis di dunia, yakni Asia. Dalam 15 tahun mendatang, jumlah masyarakat kelas konsumen atau kelas menengah (middle class) di dunia akan bertambah 1,8 miliar orang dan sebagian besar berada di Asia. Itu akan meningkatkan permintaan sumber daya alam dan komoditas dari Indonesia. Kelas menengah adalah masyarakat dengan pendapatan per tahun di atas USD 3.600. Khusus untuk Indonesia, jumlah kelas menengah saat ini sekitar 45 juta orang, pada 2030 akan bertambah 90 juta orang sehingga menjadi 135 juta orang. ’’Kecuali China (Tiongkok, Red) dan India, pertumbuhan kelas me nengah Indonesia lebih tinggi dari negara mana pun di dunia,’’ kata Oberman.

Karena itu, pada 2030, Indonesia di perkirakan menjadi negara dengan perekonomian terbesar ke-7 di dunia, hanya kalah dari Tiongkok, AS, India, Jepang, Brasil, dan Rusia. Artinya, raksasa Eropa seperti Jerman, Inggris, dan Prancis pada tahun itu akan disalip Indonesia. Dalam kesempatan terpisah, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan, salah satu keunggulan Indonesia yang membuat prospek cerah ekonomi jangka panjang adalah demographic dividend atau keunggulan demografis. Saat ini, porsi terbesar penduduk Indonesia berusia 0–24 tahun sehingga dalam jangka waktu 20–25 tahun ke depan, porsi terbesar itu akan berada di usia produktif.

’’Saat ini, di dunia hanya ada dua negara dalam kondisi demographic dividend, yakni  Indonesia dan India. Je pang dan Korea Selatan sudah masuk ke aging society (porsi penduduk tua lebih besar daripada usia

produktif ), sedangkan China sudah menuju proses aging society,’’ ujarnya.

Sumber: