>

Behind: Impossible

Behind: Impossible

Danu tidak menggubris ucapan Kirana sama sekali dan tetap mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Merasa tidak dipedulikan sama sekali, membuat Kirana merasa tersinggung dan mencebik bibirnya kesal, walau begitu setelahnya dirinya hanya diam seolah rasa takut yang ada tadi menghilang begitu saja, oh ya, tentu saja melupakan satu fakta bahwa ia adalah Kirana, dan tak ada yang pernah tau sebenarnya siapa Kirana.

***

Keken menggigil Kedinginan, membuat tidurnya terasa tidak nyaman. Keken mecoba membuka matanya perlahan, rasa pusing mendera kepalanya dengan tiba – tiba, dengan satu tangannya Keken memijit kepalanya pelan sedang tangannya lain menahan bobot tubuhnya. Keken menatap sekelilingnya, rasanya ini bukan kamarnya, dan barulah ia teringat bahwa ia tertidur di kamar mandi akibat kelelehan menangis.

“Astaga, apa ngggak ada yang ke kamar mandi ya, sampe nggak bangunin gue,” gumam Keken pelan, Keken memaksakan dirinya untuk berdiri dan berjalan walau sedikit limbung, dengan susah payah akhirnya Keken sampai di kamarnya. Dihempasnya tubuhnya ke Kasurnya, saat ingin tidur lagi, Keken tidak lagi merasa mengantuk dan memutuskan untuk mengecek ponselnya.

Keken menggapai ponselnya yang tergeletak tidak jauh dari posisi berbaringnya, setelah mendapatkan ponselnya Keken segera melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua pagi.

“Dua pagi,” Ujar Keken pelan,

“Dua pagi,” gumannya lagi.

“Dua pagi,”

“Dua pagi,” Keken terus mengulanginya seolah menyadari sesuatu yang hilang hingga akhirnya Keken meningatnya.

“APA?! JAM DUA PAGI DAN KIRANA BELUM PULANG!!!” Teriak Keken histeris, dengan cepat Keken segera mendial nomor Kirana, dan tak berapa lama terdengar suara Kirana yang mengatakan bahwa ia bersama Danu. Dengan Kesal, Keken segera menceramahi Kirana.

“Lo ngapain sama Danu hah?! Udah jam 2 lo juga belum pulang Kir, cepeten pulang!” Omel Keken.

“Gue tunggu, cepet pulang sekarang juga!” Ujar Keken lagi setelahnya segera mematikan telponnya. Keken memijit pelipisnya pelan, berusaha meredam emosinya yang memuncak.

Keken melihat kamarnya, tidak rapi namun juga tidak terlalu berantakan, selagi menunggu Kirana pulang, Keken segera merapikan barang – barang belanjaannya yang sempat ia abaikan dan menyusun beberapa ornamen kamarnya yang tidak rapi, setelahnya Keken segera mengganti bajunya yang sedikit basah, dan setelah selesai Keken mencepol rambutnya asal, bersamaan dengan itu suara ketukan pintu dibarengi dengan suara Kirana terdengar oleh Keken, segera Keken membuka pintu dengan wajah dingin siap membunuh untuk Kirana.

Kirana yang merasakan aura mencekam dari Keken hanya tersenyum kikuk tidak tahu harus melakukan apa, “Kak Keken,” Sapa Kirana, Keken yang menatap Kirana hanya menatap Kirana datar lalu mengalihkan pandangannya kepada Danu yang berada di belakang Kirana, entahlah Keken tidak tau harus merasakan apa kali ini menatap Danu. Keken menghela nafas pelan, “Masuk.” Suruh Keken pada Kirana, mendengar perintah Keken kirana segera memasuki kamar dan Keken segera menutup pintu kamarnya tanpa mempedulikan Danu lagi, Keken mengusir Danu secara terang – terangan.

Setelah menutup pintu dan memastikan pintu terkunci, Keken menatap Kirana dengan tatapan mengimintimidasi. “Jadi pilih, gue yang nanya ke lo, atau lo yang jelasin ke gue,” ucap Keken sambil menunjuk dirinya dan Kirana secara bergantian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: