MITSUBISHI JANUARI 2026

MBG dan Ujian Serius Negara Mengelola Masa Depan

MBG dan Ujian Serius Negara Mengelola Masa Depan

Prof. Dr. Haryadi, SE, M.MS--

Oleh: Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.

 

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) sesungguhnya bukan sekadar program makan siang. Ia adalah pertaruhan besar negara dalam membangun kualitas manusia Indonesia. Di balik sepiring nasi, lauk, sayur, buah, dan susu, terdapat agenda yang jauh lebih mendasar: memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, belajar dengan baik, dan kelak menjadi tenaga kerja produktif yang mampu membawa bangsa ini naik kelas.

Karena itu, MBG tidak boleh dipahami secara sempit sebagai bantuan sosial. Program ini harus diletakkan dalam kerangka investasi pembangunan manusia. Gary Becker, melalui teori human capital, menegaskan bahwa pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan bukanlah konsumsi biasa, melainkan investasi produktif yang menentukan kapasitas ekonomi suatu bangsa.

BACA JUGA:Dosen Agribisnis UNJA Raih Tiga Penghargaan Internasional

Amartya Sen bahkan melihat pembangunan sebagai perluasan kemampuan manusia untuk hidup sehat, terdidik, dan bermartabat.

Dalam perspektif itu, gizi adalah fondasi ekonomi, bukan sekadar urusan dapur.

Indonesia memang memiliki alasan kuat untuk menjalankan program ini. Masalah gizi anak belum sepenuhnya selesai. Stunting menurun, tetapi belum hilang.

BACA JUGA:Tuan Rumah Menyala, Amerika Serikat Bungkam Bosnia 2-0 dan Lolos ke 16 Besar

Kesenjangan akses terhadap pangan bergizi masih nyata, terutama di keluarga miskin, wilayah pedesaan, daerah terpencil, dan kawasan dengan infrastruktur pangan yang lemah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi stunting Indonesia pada 2024 berada di kisaran 19,8 persen, sebuah kemajuan penting, tetapi masih memerlukan kerja keras agar semakin mendekati standar ideal pembangunan manusia.

BACA JUGA:Jadi Pembicara di Diklat Pratama DPP GMPK, Menteri Nusron: Nasionalisme Menjadikan Bangsa yang Kuat

Dalam konteks itulah MBG layak diapresiasi. Negara hadir bukan setelah anak gagal tumbuh, melainkan sejak proses pembentukan kualitas manusia berlangsung. Anak yang cukup gizi lebih siap belajar. Ibu hamil yang mendapat asupan lebih baik memiliki peluang melahirkan bayi yang lebih sehat. Keluarga miskin terbantu mengurangi beban konsumsi. Bahkan, bila dirancang dengan benar, MBG dapat menjadi penggerak ekonomi lokal melalui pembelian bahan pangan dari petani, peternak, nelayan, koperasi, dan UMKM.

BACA JUGA:Pengamat Perbankan Apresiasi Strategi Pertumbuhan Berkualitas Bank Jambi

Namun, justru karena penting dan besarnya program ini, MBG harus dikelola dengan disiplin yang luar biasa. Niat baik tidak cukup. Anggaran besar tidak otomatis melahirkan hasil besar. Program yang menyangkut puluhan juta penerima manfaat dan ratusan triliun rupiah uang negara harus dijaga dari pemborosan, salah sasaran, kebocoran, konflik kepentingan, dan lemahnya pengawasan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: