BPH Migas: Jargas Makin Diminati, Lebih Murah dan Praktis
Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Hasbi Anshory (kiri) mengunjungi pelanggan jargas di Kota Jambi, Jambi, Rabu (1/4/2026). ANTARA/HO-Humas BPH Migas--
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Hasbi Anshory mengatakan pelanggan rumah tangga maupun pelaku usaha makin merasakan keuntungan menggunakan jaringan gas bumi (jargas), karena terbukti rendah emisi, lebih murah, dan praktis.
"Jargas ini terbukti lebih efisien, tidak perlu antre, dan mampu menghemat pengeluaran rumah tangga. Ini juga membantu negara dalam mengurangi beban subsidi LPG," sebut Hasbi, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, dikutip dari antara.
BACA JUGA:Kementerian ATR/BPN Evaluasi dan Perkuat Penyelenggaraan Layanan Pertanahan di Mal Pelayanan Publik
Oleh karena itu, pemanfaatan jargas untuk kebutuhan rumah tangga dan usaha ini akan terus didorong pemerintah.
Hasbi juga mendorong masyarakat mampu memasang jargas secara mandiri, sehingga mempercepat perluasan jaringan tanpa sepenuhnya bergantung pada subsidi negara.
BACA JUGA:40 Hari Wafatnya KH. Hasan Basri, Bupati Anwar Sadat: Kami Kehilangan Guru dan Penasihat
"Jargas yang dibangun menggunakan APBN diutamakan untuk saudara-saudara kita yang kurang mampu. Kalau kita berharap pembangunan jargas ditanggung semua oleh negara yang anggarannya terbatas, maka pengembangannya tidak bisa cepat," kata Hasbi saat memantau metering regulating station (MRS) jargas di Kelurahan Thehok, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, Jambi.
Sementara itu, Kevindra Try Nugraha, pemilik rumah makan di Kota Jambi, mengaku jargas merupakan pilihan energi yang aman, murah, efisien, dan terjangkau.
"Saya ditawari menggunakan gas bumi karena sebelumnya restoran di Palembang, Sumsel, sudah pakai jargas, jadi saya langsung tertarik. Penghematannya bisa mencapai 50 sampai 60 persen," ujar pengguna jargas sejak delapan tahun itu.
Sebelumnya, biaya bahan bakar memasak di restorannya mencapai Rp16-17 juta per bulan, namun setelah menggunakan jargas, pengeluarannya turun menjadi Rp8-10 juta per bulan.
"Saya rasa semua pengusaha makanan dan minuman harus menggunakan jargas. Di awal, biaya memasangnya memang cukup besar, tapi selanjutnya kalau kita hitung, secara akumulatif jadi lebih murah. Mungkin 3-4 bulan sudah kembali modal. Secara jangka panjang pasti akan jauh lebih baik," urainya.
Kevindra juga mengatakan jargas praktis karena tidak repot mengganti tabung LPG atau khawatir kehabisan gas.
Pelanggan rumah tangga, M Silaban mengaku membayar pemakaian jargas sekitar Rp60.000-70.000 per bulan atau jauh lebih murah dibanding LPG 12 kg, yang mencapai Rp200 ribu.
Selama 12 tahun menggunakan jargas, ia mengatakan tidak pernah mengalami kendala. Warga sekitar rumah Silaban juga menyatakan ketertarikan untuk menggunakan jargas.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



