Kopi, Matcha, dan Pengalaman Premium yang Diminati

Sabtu 10-10-2026,17:23 WIB

Oleh: Dr.M.Lucky Akbar, S.Sos, M.Si

Di tengah kesibukan, ada kebiasaan kecil yang tetap dipertahankan banyak orang: berhenti sejenak untuk menikmati secangkir kopi atau matcha. Di antara pekerjaan yang menumpuk, perjalanan yang panjang, dan tuntutan kehidupan yang semakin cepat, kedai kopi tidak lagi sekadar tempat membeli minuman. Menariknya, kebiasaan itu terus tumbuh ketika masyarakat justru dituntut semakin cermat mengatur pengeluaran. Harga berbagai kebutuhan meningkat, ruang konsumsi rumah tangga harus diseleksi, dan ketidakpastian ekonomi membuat sebagian masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang. Namun, secangkir kopi atau segelas matcha tetap memiliki tempat dalam keseharian.

BACA JUGA:Jaga Kualitas Air di Tengah Keruhnya Batanghari, Tirta Mayang Kuras IPA Benteng

Fenomena tersebut bukan perkara kecil jika dilihat dari nilai ekonominya. Indonesia telah berkembang menjadi salah satu pasar kopi yang besar. Data USDA menunjukkan konsumsi kopi domestik Indonesia berada di sekitar 4,8 juta kantong berukuran 60-kilogram pada tahun 2024/2025, atau setara dengan sekitar 288 ribu ton kopi. Bahkan ketika daya beli masyarakat mengalami tekanan, konsumsi kopi relatif bertahan. Di sisi hilir, sektor kafe dan bar di Indonesia mencatat penjualan sekitar US$2 miliar pada 2024, dengan pertumbuhan rata-rata 9,6 persen sepanjang 2020–2024. Angka tersebut menunjukkan bahwa kopi bukan lagi sekadar minuman, tetapi telah membentuk ekosistem ekonomi yang melibatkan petani, pengolah, peritel, kedai, pekerja, hingga berbagai usaha pendukung di dalamnya.

BACA JUGA:Polresta Jambi Gerebek Basecamp Narkoba di Pulau Pandan, Enam Orang Diamankan

Pada saat yang sama, muncul fenomena lain yang menarik: matcha. Minuman berbahan teh hijau bubuk asal Jepang yang dahulu relatif identik dengan tradisi minum teh, kini menjelma menjadi bagian dari budaya kafe modern. Matcha latte, berbagai dessert berbasis matcha, hingga perpaduannya dengan espresso semakin mudah ditemukan, terutama di kota-kota besar. Perkembangan tersebut bukan hanya fenomena media sosial. Mordor Intelligence memperkirakan nilai pasar matcha global mencapai sekitar US$3,67 miliar pada tahun 2025 dan masih diproyeksikan tumbuh menjadi US$5,35 miliar pada tahun 2031. Di Indonesia sendiri, kebangkitan matcha terlihat dari semakin banyaknya matcha bar, kedai khusus, serta produk makanan dan minuman berbasis matcha.

BACA JUGA:Harga TBS Sawit Bangka Tengah Tertinggi Tembus Rp3.040/Kg, Ini Rincian Harga TBS 8 Oktober 2026

Yang menarik kemudian adalah pertanyaan sederhana: mengapa pengalaman premium semacam ini masih digemari ketika masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi? Jawabannya mungkin tidak selalu terletak pada kemampuan membeli, tetapi pada cara masyarakat memilih apa yang masih dianggap bernilai. Dalam kondisi pengeluaran harus semakin selektif, konsumen dapat mengurangi pembelian yang dianggap kurang penting, tetapi tetap menyisakan ruang untuk kesenangan kecil yang memberikan pengalaman. Secangkir kopi dengan biji pilihan atau segelas matcha berkualitas memang bukan kebutuhan pokok. Harganya bahkan bisa jauh lebih tinggi dibandingkan minuman yang dibuat sendiri di rumah. Namun bagi sebagian orang, pengeluaran itu dipandang sebagai bentuk penghargaan sederhana setelah menjalani hari yang melelahkan. Karena itu, konsumsi premium tidak selalu berarti konsumsi berlebihan, tetapi menjadi bentuk self-reward yang dilakukan secara lebih selektif.

Kebutuhan Sosial

Fenomena konsumsi kopi dan matcha premium kini telah bergeser dari sekadar persoalan gaya hidup menjadi cerminan bagaimana masyarakat merespons tekanan ekonomi secara kompleks. Ketika pendapatan dan pengeluaran harus diperhitungkan dengan lebih hati-hati, konsumen tidak serta-merta berhenti menikmati produk premium, melainkan melakukan seleksi yang lebih ketat dengan mengurangi frekuensi pembelian tanpa mengorbankan pengalaman yang dianggap paling bernilai. Perilaku ini sejalan dengan konsep treat economy atau lipstick effect, di mana barang mewah berukuran kecil (affordable luxuries) tetap diprioritaskan sebagai sarana micro-escape dan pemenuhan emosional di tengah ketatnya anggaran.

Secara ilmiah, tren ini terkonfirmasi melalui laporan Indonesia FMCG & Lifestyle Report dari Worldpanel Division Kantar (2023), yang mencatat bahwa konsumen Indonesia di tengah tekanan inflasi cenderung merem pengeluaran besar, namun tetap mengalokasikan anggaran untuk produk konsumsi yang memberikan kepuasan instan. Konsumen mengadopsi strategi buying smarter yaitu mengikis kuantitas belanja harian demi mempertahankan produk favorit saat ingin memanjakan diri.

Daya tahan segmen ini diperkuat oleh hasil riset Mintel (2023–2024) terkait Indonesian Coffee & Beverage Consumer Insight, yang mengungkap bahwa lebih dari 60% konsumen Gen Z dan Milenial di perkotaan Indonesia menganggap kopi dan matcha premium sebagai kebutuhan kesejahteraan mental (mental wellbeing). Mereka bahkan rela menekan anggaran makan siang harian biasa agar tetap bisa menikmati minuman berkualitas beberapa kali dalam seminggu.

Strategi penyesuaian konsumen ini juga tergambar jelas dalam Shopee & Populix Consumer Trends Survey (2023). Riset tersebut menunjukkan bahwa 71% responden menjadikan minuman premium favorit sebagai sarana meredakan stres akibat beban kerja dan finansial. Alih-alih berhenti mengonsumsi total, mereka merespons tekanan ekonomi dengan cara yang adaptif, seperti memanfaatkan promo, memilih porsi lebih kecil, hingga membatasi frekuensi kunjungan dari yang semula harian menjadi mingguan. Hal ini membuktikan bahwa nilai sebuah produk kini tidak lagi sebatas nominal harga, melainkan seberapa besar fungsi emosional yang ditawarkannya

Jeda Rutinitas

 

Kategori :