Kopi, Matcha, dan Pengalaman Premium yang Diminati

Sabtu 10-10-2026,17:23 WIB

Budaya kafe di Indonesia kini telah menggeser fungsi kopi dan matcha dari sekadar pemenuh kebutuhan fisik menjadi bagian dari dinamika sosial dan psikologis masyarakat perkotaan. Kopi tidak lagi sebatas minuman untuk mengusir kantuk, melainkan medium saat bekerja, bertemu teman, berdiskusi, hingga sarana mencari suasana baru. Fenomena serupa juga tampak pada popularitas matcha sebagai teh hijau bubuk asal Jepang yang kini diadaptasi dalam berbagai kreasi modern, seperti Matcha Espresso Latte. Seiring perubahan tersebut, konsep kemewahan ikut bergeser; kemewahan tidak lagi selalu diidentikkan dengan barang berharga fantastis atau liburan eksklusif, karena yang dibeli konsumen bukan sekadar komoditas cair di dalam cangkir, melainkan sebuah paket pengalaman yang mencakup ruang, suasana, cita rasa, pelayanan, hingga momen jeda dari rutinitas harian.

Relevansi nilai pengalaman premium ini terbukti tetap bertahan, bahkan ketika konsumen harus lebih ketat dalam mengelola keuangan. Perilaku ini sejalan dengan temuan ToFFi (Top Food & Financial) Index Report (2023) oleh Snapcart, yang mencatat bahwa 68% konsumen perkotaan di Indonesia tetap memprioritaskan anggaran belanja untuk pengeluaran small indulgence seperti minuman kafe premium sebagai sarana menjaga kesehatan mental dan meredakan stres di tengah dinamika pekerjaan. Selain itu, temuan Mintel (2023–2024) dalam Indonesian Coffee & Beverage Consumer Insight menunjukkan bahwa segmen minuman gaya hidup seperti specialty coffee dan matcha memiliki tingkat ketahanan (resilience) pasar yang sangat tinggi. Lebih dari 60% konsumen Gen Z dan Milenial mengklasifikasikan pengalaman menikmati minuman premium sebagai komponen emotional wellbeing. 

Di sinilah letak kekuatan utama dari pengalaman premium: ia tidak harus selalu mahal atau berlebihan, melainkan cukup dengan menghadirkan ruang kecil yang personal bagi seseorang untuk menikmati momen kesukaannya sebelum kembali menghadapi kesibukan dan tekanan harian. Pola semacam ini menunjukkan bahwa konsumsi premium dapat mengalami perubahan bentuk tanpa benar-benar menghilang. Konsumen mungkin menjadi lebih rasional, tetapi bukan berarti seluruh ruang untuk kesenangan pribadi ditutup, akan tetapi menjadi sebuah jeda kecil di tengah kesibukan. 

Pada akhirnya, popularitas kopi dan matcha memperlihatkan sebuah paradoks kehidupan modern. Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan ekonomi yang menuntut kehati-hatian, pengalaman semacam itu mungkin justru menjadi kemewahan yang paling manusiawi. Karena sesungguhnya bukan tentang seberapa mahal minuman yang kita beli, melainkan tentang kebutuhan untuk menikmati hidup yang tidak serta-merta hilang ketika tekanan ekonomi membuat masyarakat semakin berhitung dalam membelanjakan uang. (*)

*) Penulis Adalah ASN Kemenkeu

 

Kategori :