Oleh: Mochammad Farisi
Setiap tanggal 1 Juni, bangsa ini memperingati Hari Lahir Pancasila. Kantor-kantor memasang spanduk raksasa. Sekolah dan kampus menggelar upacara.
Media sosial dipenuhi ucapan nasionalisme. Para pejabat mengenakan pakaian adat berdiri khidmat di podium kehormatan.
BACA JUGA:GAPKI Buka-Bukaan, Ini Pemicu Indonesia Gagal Setir Harga Sawit Dunia
Namun, di banyak lapangan upacara, realitasnya sering berbeda. Yang serius hanya beberapa baris di depan. Di belakang, peserta sibuk berbincang, memainkan telepon genggam, bahkan merokok saat penghormatan berlangsung. Upacara tetap berjalan, tetapi nilai yang diperingati perlahan kehilangan makna.
Ironisnya, bangsa ini mungkin tidak kekurangan seremoni Pancasila, tetapi kekurangan pengamalannya.
Upacara Tidak Salah, Tetapi Tidak Cukup
Tentu saja, upacara dan simbol kenegaraan bukan sesuatu yang salah. Bangsa besar memang membutuhkan simbol, ritual, dan penghormatan terhadap sejarahnya. Tetapi masalah muncul ketika Pancasila berhenti sebagai nilai hidup dan hanya berubah menjadi dekorasi tahunan: dibaca saat apel, lalu dilupakan ketika kekuasaan dijalankan.
Padahal, merayakan Hari Lahir Pancasila seharusnya bukan sekadar berdiri tegak di lapangan upacara, melainkan menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Membaca Ulang Lima Sila: Antara Idealitas dan Realitas
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, seharusnya melahirkan bangsa yang bermoral, jujur, dan berintegritas. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling religius di dunia. Rumah ibadah tumbuh di mana-mana. Kegiatan keagamaan ramai dipadati jamaah. Simbol agama hadir hampir di seluruh ruang publik.
BACA JUGA:Harga TBS Sawit Swadaya Dharmasraya Naik Jadi Rp2.890 per Kilogram
Namun pada saat yang sama, korupsi justru tetap merajalela. Transparency International mencatat skor Corruption Perceptions Index (CPI) Indonesia tahun 2025 hanya berada pada angka 34 dari 100 dan turun ke peringkat 109 dunia. Artinya, religiusitas sosial belum otomatis melahirkan moralitas publik.