Pagi Keluar Rumah Hendak Bunuh Diri, Siang Jadi Mualaf

Rabu 03-04-2024,09:41 WIB
Reporter : Dona Piscesika
Editor : Dona Piscesika

JAMBIEKSPRES.CO.ID – Kisah ini datang dari Swedia, tentang seorang pria yang sedang mengalami gejolak perasaan yang amat berat dengan berbagai persoalan hidup.

Dikutip dari huffingtonpost.com, pagi itu, ia keluar dari rumah dengan rencana akan mengakhiri hidupnya tepat jam 12 siang.

Namun dalam perjalanan, pria yang tak disebut namanya itu, bertemu dengan seorang pria muslim.

Mungkin karena melihat dirinya dalam kegalauan yang teramat dalam, kemudian pria muslim menyapanya.

Mereka pun kemudian terlibat dalam percakapan yang singkat.

Karena pikiran yang kalut, kemudian pria Swedia pun bercerita soal rencananya mengakhiri hidup pukul 12 siang nanti, apapun caranya.

Mendengar ungkapan itu, pria muslim pun hanya tersenyum lalu menjawab. “Pukul 12 siang masih lama, masih ada waktu, bagaimana kalau ikut saya saja dulu menjelang itu,” ujarnya.

Pria Swedia pun sempat bertanya, mau kemana?. Lalu dijawab oleh pria muslim, ke masjid, kebetulan ia sedang ada jadwal kegiatan sana.

Pria Swedia sempat menolaknya, ia merasa tak ada untungnya juga ikut, karena ia masih harus mempersiapkan mentalnya untuk jam 12 nanti, apalagi ia belum menentukan akan bunuh diri dengan cara apa, masih banyak opsi dalam pikirannya.

Namun pria muslim kembali mengajaknya, “ikut saja dulu, toh ini masih pagi, nanti kalau sudah siang, silahkan kau pikirkan lagi akan kemana, daripada di sini nanti pikiranmu malah semakin kacau,” lanjutnya.

Setelah dipikir, ada benarnya juga kata pria muslim itu, kemudian pria Swedia pun setuju ikut ke masjid, untung-untung ada tempat istirahat sementara.  

Sesampai di masjid, pria Swedia pun memilih menunggu di sudut ruangan.  Sementara teman barunya itu langsung bergabung ke kelompok yang telah ada di dalam.

Dari jarak yang hanya beberapa meter, pria Swedia mendengar suara seseorang sedang memberikan tausiah.

Tak lama ia juga mendengar suara orang melantunkan ayat-ayat Alquran.

Lama-lama, suara itu semakin sayup, sayup dan sayup. Hingga kemudian ia dikagetkan oleh suara teman barunya tadi.

“Maaf, tadi aku tidak tega membangunkanmu, karena kelihatannya nyenyak sekali, ini sudah lewat jam 12 siang, kamu jadi melewatkan rencana bunuh dirimu, jadi apa yang harus saya lakukan untuk menggantinya?” ujar pria muslim itu.

Pria Swidia pun kaget, tanpa ia sadari ternyata ia sudah tidur dengan sangat nyeyak beberapa jam.

Sudah lama ia tak bisa tidur, tiga hari lamanya, tak sedikit pun matanya mau diajak kompromi, walau badannya sudah sangat lelah.

“Ini sebenarnya tempat apa?,” tanya pria Swedia. Lalu diulang jawab oleh pria muslim bahwa ini adalah masjid, rumah ibadah umat muslim.

Pria Swedia pun masih bingung, belum pernah ia merasa energi positif seperti yang ia rasakan saat awal menginjakkan kaki ke masjid tadi.

Ia juga merasa sangat damai dan melupakan semua persoalan hidupnya saat mendengar lantunan Alquran.


Ilustrasi Masjid Agung Stockholm (Stockholms stora moské), ialah masjid terbesar di Stockholm, Sweden.-Foto: Wikipedia-

Saat bangun dari tidur ia hanya merasa lebih baik. Lalu ia membuat keputusan baru atas hidupnya, mengurungkan niat untuk bunuh diri meski itu sudah direncanakan matang-matang sejak beberapa hari belakangan.

Perasaan yang luar biasa itu membuat ia langsung minta dijadikan bagian dari orang-orang yang sering ke masjid. Ia ingin memeluk agama islam!

Niatnya baik pun langsung disambut baik oleh sang sahabat. Sejak saat itu pria Swedia resmi menjadi seorang mualaf. (*)

Kategori :