“Ini kamar siapa dulunya nek,” Tanya Soheila.
Beberapa saat atensi Mariana hanya tertuju pada kamar yang ditanyakan Soheila, melihat tatapan Mariana Soheila tahu bahwa itu tatapan sendu yang juga bercampur rindu. Soheila menipiskan bibirnya tak enak hati yang mungkin saja mengorek kenangan menyakitkan Mariana. Mariana menghela nafas pelan dan berkata,
“Itu kamar cucu nenek!” jawab Mariana, Soheila sedikit terkejut saat Mariana tidak menggunakan kata ‘saya’ untuk merujuk kepada dirinya melainkan kata nenek dan Soheila yakin ia telah membuat Mariana sedih. Tidak lama, tatapan sendu Mariana berubah menjadi tatapan biasa yang ia layangkan kepada Soheila, sebuah tatapan sinis dan tatapan yang merendahkan.
“Kalo kamu nggak suka, kamu bisa ganti tuh konsep kamarnya. Ya tapi pake duit kamu, soalnya nenek nggak punya duit!” Soheila yang tadinya bersimpati kini memutar bola matanya malas.
“Iya iya, emang kalo Soheila minta duit ke nenek, nenek kasih? Nggak kan! Jadi nggak usah sok pede nenek tu, dasar nenek lampir.” Sungut Soheila.
“Heh dasar anak gatau diri, udah numpang malah durhaka. Sana cepet bersih – bersih.” Perintah Mariana.
Mendengar perintah Marian, dengan kaki menghentak – hentak Soheila mengambil alat bersih – bersih di dapur dan mulai membersihkan rumah, dan selama Soheila membersihkan rumah tidak henti – hentinya Soheila mendengar protesan dan Ocehan Mariana.
“Soheila, ini belum bersih!”