Bitcoin Anjlok karena Peringatan Tiongkok

Jumat 21-05-2021,00:00 WIB

JAKARTA-Tagar #cryptocrash ramai di media sosial kemarin pagi (20/5). Disertai ungkapan-ungkapan mereka yang merugi. Itu terjadi setelah nilai bitcoin anjlok hingga 29 persen pada Rabu (19/5).

 Mata uang virtual itu turun hingga hampir USD 30 ribu atau setara Rp 431 juta. Kurang dari separo dari nilai rekor yang dicapai bulan lalu.

Tetapi, bitcoin menunjukkan ketangguhannya. Hanya berselang beberapa jam, penurunannya terkoreksi hingga hampir 10 persen di angka USD 39.500 (Rp 567,7 juta). Kemarin nilainya naik lagi di atas USD 41 ribu (Rp 602,6 juta).

Bitcoin kehilangan 40 persen nilainya sejak 13 April. Saat itu nilainya USD 64.606 per koin atau setara Rp 928,5 juta. Jika dibandingkan dengan setahun lalu, nilai bitcoin saat ini naik 300 persen.

Bitcoin terjun bebas setelah Asosiasi Perbankan Tiongkok memperingatkan anggotanya terkait dengan risiko mata uang digital. Mereka menyatakan bahwa lembaga keuangan harus menahan diri dari pelayanan yang menggunakan mata uang digital karena alasan volatilitas.

Volatilitas merupakan ukuran tingkat fluktuasi harga sekuritas dari waktu ke waktu. Ia menunjukkan tingkat risiko yang terkait dengan perubahan harga sekuritas. Biasanya para investor dan trader menghitung volatilitas sekuritas untuk menaksir variasi nilai di masa lalu guna memprediksi pergerakan di masa mendatang.

Perdagangan uang kripto dilarang di Tiongkok sejak 2019 untuk mencegah pencucian uang. Para petinggi di Tiongkok berusaha menghentikan orang-orang untuk memindahkan uang tunai ke luar negeri. Namun, negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping tersebut telah menjadi rumah bagi sekitar 90 persen perdagangan global di sektor itu. ”Fluktuasi harga melanggar keamanan aset masyarakat dan mengganggu tatanan ekonomi dan keuangan normal,” bunyi pernyataan yang diunggah Peoples Bank of China atau Bank Sentral Tiongkok.

Bitcoin bukan satu-satunya yang anjlok. Setelah pernyataan itu keluar, hampir semua nilai mata uang digital turun. Menurut Coindesk, sebagian besar mata uang kripto kehilangan 7–22 persen nilainya. Saham Coinbase juga turun 5,4 persen.

Sebelumnya, nilai mata uang digital turun gara-gara keputusan Tesla. Mereka tidak akan menerima uang kripto untuk pembayaran pembelian mobil yang mereka produksi.

Bitcoin adalah mata uang digital yang tidak terikat dengan bank atau pemerintah dan memungkinkan pengguna membelanjakan uang secara anonim. Koinnya bisa ”ditambang” serta dapat dibeli dan dijual di bursa dengan menggunakan dolar AS dan mata uang lainnya. Beberapa bisnis mau menggunakan bitcoin sebagai pembayaran. Sejumlah lembaga keuangan juga mengizinkannya dalam portofolio klien mereka. Namun, secara keseluruhan, mereka yang mau menerima bitcoin dan mata uang kripto lainnya masih terbatas.

Rabu lalu nilai bitcoin terkoreksi juga gara-gara cuitan CEO Tesla Elon Musk. Dalam unggahannya, Musk menulis bahwa Tesla memiliki tangan berlian. Itu semacam indikasi, meski nilai bitcoin turun, Tesla tidak akan menjual sahamnya yang senilai USD 1,5 miliar (Rp 21,55 triliun) di bitcoin. Padahal, sebelumnya Musk seakan mengindikasikan menjual saham di mata uang kripto tersebut.

”Butuh beberapa waktu sebelum mata uang kripto ini pulih dari syok,” terang analis uang kripto Timo Emden kepada Agence France-Presse.

Kemarin Musk justru membuat nilai mata uang kripto dogecoin naik setelah menyebutnya dalam cuitannya. Dalam 23 menit, cuitan itu mendapat hampir 60 ribu likes, dicuitkan ulang 14.500 kali, dan mendapatkan 17 ribu komentar. Nilai dogecoin naik 11,42 persen.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan, tren aset kripto terkoreksi dalam beberapa pekan ke depan. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi. Pertama, cuitan CEO Tesla Elon Musk untuk tidak lagi menerima bitcoin sebagai bentuk pembayaran pembelian mobil Tesla. Itu cukup membuat harga aset kripto bergolak. Kedua, keputusan pemerintah Tiongkok melarang transaksi kripto di seluruh lembaga keuangan di negara tersebut. Ketiga, kekhawatiran stimulus moneter di AS mulai dipangkas sehingga bisa mengakibatkan tapering off (pengurangan stimulus).

Jika itu terjadi, yang diburu investor adalah aset-aset yang aman (safe haven). Misalnya, dolar Amerika (USD) dan emas batangan ketimbang aset yang volatilitasnya tinggi. ”Jadi, itu yang membuat koreksi harga kripto ke depan semakin tajam,” kata Bhima kepada Jawa Pos tadi malam (20/5).

Alumnus University of Bradford itu mengimbau para investor kripto untuk waspada dan lebih berhati-hati. (*)

Tags :
Kategori :

Terkait