Media di sana menilai perdana menteri mereka sudah dicitrakan pada titik terendah dengan perbuatan cabul.
Pembuat kartun itu adalah kartunis Fonda Lapod. Saat itu, Fonda bukan lagi kartunis di Rakyat Merdeka. Dia sudah pensiun sejak 2006.
Namun rupanya redaksi Rakyat Merdeka kembali mendatangkan dia untuk membuat kartun itu.
The Adventure ofTwo Dingos
Pada 2006, Fonda dan Rakyat Merdeka juga pernah perang kartun yang juga bikin heboh. Juga dengan media Australia.
Saat itu Rakyat Merdeka memuat kartun menggambarkan Howard, yang kala itu perdana menteri Australia, dan Alexander Downer yang menjabat Menteri Luar Negeri, sebagai dua dingo yang sedang “saling menunggangi”.
Dingo adalah jenis anjing liar yang hidup di negara itu. Kartun berjudul “The Adventure of Two Dingos” itu dilatari protes pemberian visa oleh Australia untuk 43 aktivis Papua Merdeka.
Suatu tindakan yang dirasakan melukai kedaulatan Indonesia. Dan sebagai negara tetangga, Australia dinilai tidak sopan dengan melindungi para aktivis Papua yang mengancam kesatuan negara kita.
Surat kabar Australia The Weekend Australian, beberapa hari kemudian menerbitkan kartun balasan. Giliran Presiden SBY digambarkan sebagai seekor anjing yang secara seksual mendominasi seorang pria berkulit hitam dan berambut keriting.
SBY yang mengenakan peci hitam dan tersenyum dengan ekor bergoyang. Kemudian ada pria yang merupakan simbol warga Papua yang hidungnya dihiasi tulang.
Kartun itu bertuliskan “Don’t take this the wrong way…”
Sementara caption kartun itu tertulis “No Offence Intended”.Kartun tersebut dibuat oleh kartunis terkenal di Australia, Bill Leak.
Perang kartun antar media ini membuat hubungan Indonesia dan Australia kian memanas. Meski kemudian, dalam pernyataan resminya, kedua negara menyatakan menyesalkan kartun-kartun tersebut dan menyebutnya dengan produk jurnalistik berselera rendah.
Mulut Mega Bau Solar
Sengatan Rakyat Merdeka juga menuju istana negara. Pada 2002, giliran Rakyat Merdeka membuat kehebohan berulang saat koran itu menurunkan tajuk berjudul “Mulut Mega Bau Solar”.
Judul itu diterbitkan sebagai protes atas kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM di saat rakyat sedang susah. Saat itu, Megawati Soekarnoputri menjabat sebagai Presiden RI.