Modal Terbatas, Sugianto Tetap Bertahan Kembangkan Usaha Jamur Tiram
Modal Terbatas, Sugianto Tetap Bertahan Kembangkan Usaha Jamur Tiram-Maulana/Jambi Ekspres-
MUARASABAK, JAMBIEKSPRES.CO.ID – Usaha budidaya jamur tiram yang dijalani Sugianto, warga RT 11 Kelurahan Talang Babat, Kecamatan Muara Sabak Barat, Kabupaten Tanjabtim, masih menghadapi kendala permodalan. Setelah delapan tahun merintis usaha sejak 2018, ia berharap adanya perhatian pemerintah daerah agar produksi yang selama ini dikelola secara mandiri dapat terus berkembang.
Di tengah kenaikan harga bahan baku, Sugianto harus memutar strategi agar usahanya tetap berjalan. Dengan kumbung berukuran 4×6 meter, ia masih mengandalkan ratusan baglog untuk menghasilkan jamur tiram yang kemudian dijual ke sejumlah warung dan pasar tradisional.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Bengkulu 1-15 November 2026 Tembus Rp3.466/Kg, Berikut Rincian Lengkapnya
Proses budidaya yang dijalaninya tidak sederhana. Mulai dari menyiapkan serbuk gergaji, mencampurnya dengan dedak dan kapur, mengemas media tanam ke dalam baglog, hingga melakukan sterilisasi selama delapan jam. Setelah bibit dimasukkan, baglog harus melalui masa inkubasi selama 30–40 hari sebelum jamur tumbuh.
Seluruh tahapan tersebut dikerjakan sendiri. Sugianto juga harus memastikan kondisi kumbung tetap sesuai kebutuhan pertumbuhan jamur, dengan suhu 22–28 derajat Celsius dan kelembapan 80–90 persen.
BACA JUGA: Pengumuman Kedua Lelang Eksekusi Hak Tanggungan BRI Debitur a.n. CV . Etenia Sejahtera Abadi
Penyiraman dilakukan dua hingga tiga kali sehari untuk menjaga kelembapan. Jika perawatan tidak maksimal, kualitas jamur dapat menurun dan berisiko tidak terserap pasar.
"Kalau telat siram sedikit saja, jamur bisa kuning dan tidak laku. Jadi harus benar-benar dijaga," ungkap Sugianto kepada Realitajambi.com.
Persoalan lain yang kini membebani usahanya adalah biaya produksi yang terus meningkat. Harga serbuk gergaji, plastik baglog, dan bibit mengalami kenaikan, sedangkan harga jual jamur tiram masih berada di kisaran Rp22.000 hingga Rp24.000 per kilogram.
BACA JUGA:Pengumuman Kedua Lelang Eksekusi Hak Tanggungan BRI Debitur a.n. Adi Susanto dan Hariyanto
Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh semakin terbatas. Terlebih, seluruh pekerjaan mulai dari produksi, perawatan hingga pemasaran harus ditangani sendiri.
"Biaya produksi naik terus, tapi harga jual segitu-segitu saja. Kadang kalau dihitung tenaga, waktu, dan modal, untungnya tipis sekali. Tapi saya harus bertahan, sayang kalau usaha delapan tahun ini berhenti," katanya.
Untuk pemasaran, Sugianto menjangkau warung-warung di sekitar Kelurahan Talang Babat, Pasar Kamis Muara Sabak, serta Pasar Blok D Geragai. Namun, keterbatasan modal membuatnya belum mampu meningkatkan jumlah produksi maupun memperluas jangkauan penjualan.
BACA JUGA:Bupati H M Syukur Dorong Jepang Lakukan Restorasi Hutan di Merangin
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


