Dua Sapi Positif PMK, Berasal dari Muaro Jambi dan Tanjabbar

Dua Sapi Positif PMK, Berasal dari Muaro Jambi dan Tanjabbar

Ilustrasi. Ratusan sapi terjangkit PMK diisolasi 14 hari. --

JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Sebanyak 2 dari 6 ekor sapi di Jambi yang diuji di laboratorium Balai Veteriner Bukit Tinggi dinyatakan Positif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Kedua sapi ini berasal dari Muaro Jambi dan Tanjabbar.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan Provinsi Jambi Drh. M. Nasir merincikan, sapi yang dinyatakan positif PMK 1 ekor berasal dari Bahar Selatan dan satu lainnya di Desa Purwodadi, Kecamatan Tebing Tinggi. "Keduanya sudah diisolasi sesuai SOP PMK," katanya saat dihubungi Jambi Ekspres (29/5).

Untuk penanganan ternak yang positif PMK telah dikarantina atau isolasi tersendiri di kandang. "Hewannya tidak dicampur dengan sapi lainnya yang dinyatakan sehat dan telah dinyatakan negatif," akunya.

Nasir mengatakan, dua sapi yang positif PMK ini diduga berasal dari hewan yang diperjualbelikan sebelumnya dari Provinsi lain. "Seperti dibawa dari Lampung dan Palembang dari informasi yang kita dapatkan," akunya.

Selain itu, Nasir menjelaskan, sapi yang berusia kisaran 3 tahun itu nantinya tidak diperjualbelikan atau dipindahkan ke tempat lain. Dan akan diawasi terus oleh petugas medik veteriner/paramedik yang ditunjuk dibawah pengawasan dokter hewan berwenang.

Untuk pengobatan, kata Dia, diobati dengan metode supportif. Yakni, pemberian vitamin untuk meningkatkan daya tahan. Lalu untuk peningkatan imunitasnya diberikan  anti radang dan alergi. "Juga diberikan antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder, Penyomprotan (desinfeksi) kandang dan sekitarnya, peralatan dan bahan lainnya yang tercemar," akunya.

Bahkan, kata Dia, jika dalam beberapa hari kemudian tidak ada tanda-tanda, 2 sapi positif ini kondisinya terus memburuk, maka harus dihilangkan sumber virusnya. "Yakni dengan cara dipotong paksa," jelasnya.

Selain itu, masih kata Nasir, dengan kejadian ini tak boleh dilakukan lalulintas hewan di daerah yang terkena kasus PMK ini. "Tidak boleh ada lalu lintas hewan sapi, kerbau, domba kambing dan babi di daerah yang lagi ada kasus/wabah.

Adapun untuk sejauh ini belum ditetapkan kasus darurat PMK Jambi, namun kita sudah laporkan ke Pak Gubernur kita tunggu apa instruksi/surat edaran pak Gubernur ke kita," katanya.

Beberapa waktu lalu Bidang Keswan Dinas TPHP mengakui telah dilakukan beberapa uji Swab Nasal yang dikirimkan sampelnya ke Balai Veteriner Bukit Tinggi. Adapun sapi yang diduga PMK mengalami gejala lepuh mulut hingga sariawan di dalam lidahnya. Sedangkan sapi lain yang diuji namun dinyatakan negatif PMK seperti di Sarolangun.

Nasir menambahkan agar masyarakat tak khawatir dengan virus ini lantaran sudah langsung ditangani dan minimalisir penyebarannya. "Kita terus sosialisasi juga dan tak ada masalah sejauh ini karena tak menyebar ke manusia juga," akunya.

Sementara itu Ketua Komisi II DPRD Provinsi Jambi yang membidangi peternakan M. Juber meminta Dinas TPHP segera menindaklanjuti serius penanganan kasus PMK di Jambi. “Jangan dibiarkan penyakit ini ada (menyebar), jika penyakit tak dituntaskan bisa-bisa kita yang selesai,” ungkapnya.

“Harus diantisipasi, pencegahan lebih baik daripada mengobati. Penting Dinas terkait melakukan sosialiasi yang yang jelas ke masyarakat atau peternak,” pungkasnya. (aba)

Sumber: